
Waktu yang begitu singkat bagi Austin untuk bisa bertemu dengan papanya karena waktu yang terbatas oleh pihak penjara maka tentu saja Austin tidak bisa berlama-lama di sana. Selepas selesai mengunjungi papanya dari penjara, perasaan Austin menjadi lebih lega, setidaknya ia bisa berkeluh kesah dengan papanya. Austin sendiri juga sudah mulai memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh Sutikno yang berselingkuh dengan banyak wanita di
masa lalu dan kini Austin jadi memikirkan kebenciannya pada sang mama yang sampai saat ini masih belum juga reda.
“Apakah ini saatnya untukku memaafkan mama?”
Austin menggelengkan kepalanya, ia tak mau terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut. Austin menghela napasnya panjang sepanjang perjalanan menuju kantor karena tadi ia izin untuk terlambat datang ke kantor untuk menjenguk papanya di penjara. Ketika tiba di kantor, justru ia secara tak sengaja bertemu dengan mamanya yang sepertinya baru saja tiba dari suatu tempat, ia sama sekali tidak melihat wartawan di lobi seperti apa yang terjadi selama beberapa hari belakangan bahkan di luar pagar kantor pun tidak ada seorang pun wartawan di sana. Belinda nampak melirik sekilas pada Austin sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke
dalam kantor, Austin sendiri tidak merasa sedih atau kecewa dengan sikap Belinda yang seperti tadi karena menurutnya itu jauh lebih baik, ia tak mau ditegur atau disapa saat jam kerja seperti ini. Setelah menyelesaikan
pekerjaannya, Austin hendak pulang ke apartemen namun ponselnya berdering dan ketika ia melihat siapa orang yang menelpon rupanya yang menelpon adalah adiknya.
“Kenapa kamu menelponku?”
“Kakak sedang di mana sekarang?”
“Aku baru saja pulang dari kantor, kenapa memangnya?”
“Apakah kita bisa bertemu dulu sebentar? Aku akan mengirimkan lokasi di mana kita bertemu.”
“Baiklah.”
Tidak lama kemudian Chelsea mengirimkan sebuah lokasi pada Austin, tanpa banyak membuang waktu segera saja Austin menuju lokasi yang sudah Chelsea kirimkan.
****
Chelsea sudah menanti kedatangan Austin di restoran ini, Austin sendiri langsung menuju meja di mana Chelsea yang sejak tadi menantinya, ia duduk bersebrangan dengan adiknya dan langsung bertanya kenapa Chelsea mengajaknya untuk bicara di sini.
“Apakah Kakak sudah makan malam?”
“Belum, aku belum makan malam.”
“Kalau begitu, ayo kita bicara sambil makan malam.”
Chelsea memanggil pelayan untuk datang ke meja mereka, Chelsea dan Austin menyebutkan pesanan mereka masing-masing sebelum pelayan itu mencatat semua pesanan keduanya dan pergi meninggalkan meja mereka.
“Jadi ada apa?”
Chelsea mengatakan bahwa alasan dia mengundang Austin ke sini adalah untuk membicarakan soal hubungan mama mereka dengan Hanggara. Chelsea mengatakan bahwa tadi ia sudah bertemu dengan Hanggara dan membicarakan soal ini, Chelsea merasa bahwa ia tidak akan menghalangi lagi hubungan antara mama mereka dengan Hanggara. Sontak saja apa yang Chelsea katakan itu membuat Austin terkejut.
__ADS_1
“Jadi kamu akan menerima om Hanggara sebagai pacar baru mama begitu? Kalau om Hanggara jadi papa sambung kita bagaimana? Aku tidak mau menerimanya.”
“Aku rasa selama ini mama sudah banyak berkorban untuk kita, mama selama ini sudah menutupi rahasia papa yang selalu bermain api dengan wanita lain dari media namun sayangnya justru mama malah tergoda oleh om
Hanggara yang merupakan adik papa sendiri. Sejujurnya aku sendiri sedih dan kecewa dengan semua itu, akan tetapi aku tak mau menghalangi kebahagiaan mereka, Kak.”
****
Hanggara pergi menemui Najwa di sebuah restoran selepas ia selesai bekerja, Najwa menghubunginya dan mengajaknya bertemu dan Hanggara juga ingin mengatakan sesuatu pada wanita ini mengenai apa yang ia
rasakan pada Belinda. Najwa sendiri sudah datang di restoran itu ketika Hanggara datang, tanpa membuang waktu Hanggara bilang ingin mengatakan kejujuran pada Najwa.
“Apakah kamu ingin mengatakan kalau kamu menyukai mantan kakak iparmu?”
“Dari mana kamu tahu soal ini?”
“Itu sama sekali tidak penting, bagaimana bisa kamu mencintai dia?”
“Itu juga sama sekali bukan urusanmu, baguslah kalau kamu sudah tahu akan hal itu. Alasan utama aku mau melakukan semua ini adalah mamaku, mamaku begitu tidak setuju dengan hubunganku dengan Belinda padahal aku mencintainya.”
“Selama ini kamu menjalin hubungan dengan mantan kakak iparmu, tentu saja apa yang dikatakan oleh mamamu itu tidak salah, aku paham kenapa dia tidak setuju dan kecewa ketika tahu hubungan kalian berdua.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku dengar kalian berdua sudah putus kan?”
****
Sundari keesokan harinya kedatangan Najwa di rumahnya, Sundari mempersilakan calon menantunya itu untuk duduk di sofa ruang tengah. Sundari menawarkan Najwa untuk minum namun Najwa menolaknya dan mengatakan
bahwa ia tidak akan berlama-lama di sini.
“Jadi kenapa kamu datang ke sini? Apakah ada sesuatu hal yang penting?”
“Iya Tante, ada sesuatu hal yang penting dan aku ingin menanyakan ini secara langsung pada Tante.”
“Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan? Sepertinya ini adalah hal yang serius, ya?”
“Iya, memang ini adalah hal yang serius dan aku harap Tante menjawabnya dengan jujur.”
“Apa itu, Nak?”
__ADS_1
“Apakah sebenarnya Hanggara menjalin hubungan dengan mantan kakak iparnya?”
Sundari terkejut bukan main dengan pertanyaan yang diajukan oleh Najwa barusan, ia bertanya dari mana Najwa tahu berita tersebut namun wanita itu tak mau memberitahu Sundari ia mendengar berita itu dari mana.
“Jadi apakah yang aku tanyakan itu benar?”
“Tentu saja tidak, saat ini Hanggara tidak menjalin hubungan dengan siapa pun.”
“Namun aku kemarin menemui Hanggara dan dia mengatakan kalau ia hanya mencintai wanita itu.”
“Kamu tak perlu mendengarkan apa yang Hanggara katakan, dia itu memang suka sembarangan dalam bicara.”
“Tante, sepertinya aku tidak dapat melanjutkan perjodohan ini.”
“Kenapa kamu tidak dapat melanjutkannya, Nak?”
“Aku tidak bisa Tante, maafkan aku.”
****
Belinda terkejut ketika menemukan Hanggara menelponnya, sudah lama sekali pria itu tidak menghubunginya bahkan mereka sendiri juga sudah cukup lama tidak berbicara dan menanyakan kabar satu sama lain.
“Kenapa dia menelponku, ya?”
Belinda tidak langsung menjawab telepon dari Hanggara itu namun ia masih menatap layar ponselnya untuk beberapa saat hingga akhirnya Belinda pun kemudian menjawab telepon dari Hanggara tersebut.
“Halo?”
“Hai, bagaimana kabarmu?”
“Baik, kamu sendiri?”
“Begitulah, ngomong-ngomong apakah besok kamu ada acara?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Besok kalau kamu tidak ada acara, aku akan datang ke rumahmu untuk membicarakan sesuatu denganmu.”
“Sesuatu apa? Rasanya sudah tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan saat ini. Kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, bisa kan kita bicarakan lewat telepon saja?”
__ADS_1