Dusta Di Atas Cinta

Dusta Di Atas Cinta
Kerinduan yang Memuncak


__ADS_3

Inez tentu saja terkejut dengan apa yang pria ini katakan apalagi dia nekat ingin melakukan sesuatu hal yang buruk di rumah ini padanya, Inez berusaha berontak dan mendorong pria ini menjauh darinya namun apa yang dilakukan oleh Inez nampaknya sia-sia belaka karena pria itu sama sekali tidak bergeming dan justru malah semakin bersemangat untuk melakukan hal yang buruk pada Inez. Siwi yang melihat kejadian itu tentu saja tidak tinggal


diam, ia langsung mendorong pria itu menjauh dari putrinya dan memintanya untuk keluar sekarang juga dari rumah ini.


“Tolong jangan melakukan sesuatu hal yang buruk pada putri saya, saya dapat berteriak dan memanggil tetangga untuk membuat anda diusir dari sini!”


Pria itu nampak tertawa saja mendengar ancaman Siwi barusan, pria itu kemudian menyerahkan sejumlah uang cash pada Siwi dan mengatakan bahwa ia dapat memberikan wanita itu jauh lebih banyak jika membiarkan dirinya


dan Inez berhubungan. Siwi tentu saja marah bukan main dengan apa yang dikatakan oleh pria itu, ia melemparkan uang tersebut pada pria itu dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak membutuhkan semua ini.”


“Kamu pikir saya ini wanita apaan yang mudah disogok dengan sejumlah uang begini?!”


Pria itu nampak hanya tersenyum miring dengan reaksi Siwi yang sama sekali tidak diduga olehnya dan kemudian ia mengatakan kalau akan kembali datang untuk Inez.


“Anak anda itu adalah seorang wanita penghibur jadi bukankah memang tugasnya melayani pelanggan? Jangan sok jual mahal seperti itu.”


Selepas mengatakan itu, sang pria pun pergi dari rumah ini hingga membuat Siwi kesal bukan main, ia tahu bahwa memang Inez adalah wanita penghibur dulu namun sekarang ia sudah bukan wanita penghibur lagi seperti yang dituduhkan oleh pria itu barusan.


“Sudahlah Nak, kamu tak perlu memikirkan apa yang pria itu katakan. Apa yang ia katakan mengenai dirimu itu sama sekali tidak benar.”


Inez hanya menganggukan kepalanya seraya meredakan ketegangan yang baru saja menghampirinya akibat kedatangan pria itu barusan.


****


Sundari begitu bersemangat sekali untuk mempersiapkan pernikahan putranya walaupun Hanggara sendiri seperti enggan melakukan itu, Sundari sudah berulang kali menekankan pada Hanggara untuk melakukan seperti apa yang ia lakukan walaupun Hanggara tidak menyukainya. Pada malam ini, Hanggara entah kenapa melajukan kendaraannya menuju rumah Belinda tinggal, ia hanya diam di dalam mobil dan melihat ke rumah itu tanpa ada niatan untuk masuk atau menelpon Belinda untuk sekedar memberikan kabar bahwa dirinya ada di sini. Rupanya


Belinda yang sedang ada di dalam kamarnya sedang tidak sengaja menengok ke arah jendela kamarnya dan melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah, tentu saja Belinda mengenali siapa pemilik mobil tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hanggara.


“Untuk apa Hanggara ke sini?”


Ada sedikit rasa bahagia yang menyelimuti hati Belinda saat melihat mobil Hanggara di sana, sebenarnya Belinda ingin keluar dan menghampiri Hanggara untuk mengobrol dan melepas rindu dengan pria itu akan tetapi Belinda baru menyadari bahwa hubungan mereka sudah tidak sama lagi seperti dulu.


“Iya, hubunganku dan dia sudah berbeda, kami tidak lagi menjalin hubungan spesial, dia juga pasti membenciku akibat keputusan yang telah aku ambil.”

__ADS_1


Rupanya Hanggara diam-diam melihat Belinda dari dalam mobilnya, ia melihat raut wajah Belinda yang sedih dan rasanya Hanggara ingin turun dan menghampiri wanita yang ia cintai itu.


****


Belinda dan Hanggara saling diam dan menatap satu sama lain dari jarak yang jauh hingga akhirnya Belinda berbalik badan dan menutup tirai kamarnya yang membuat Hanggara merasa kecewa karena sepertinya ia tidak dapat lagi melihat Belinda untuk waktu yang lama. Hanggara belum beranjak dari tempatnya dan ketika baru saja ia hendak beranjak, ponselnya berdering dan melihat siapa orang yang menelponnya saat ini sungguh membuatnya terkejut.


“Apakah ini benar?”


Ada nama Belinda tertera di layar ponselnya yang membuatnya mengerjapkan matanya dan mengucek matanya untuk memastikan kalau saat ini ia sedang tidak berhalusinasi. Buru-buru Hanggara menjawab telepon


dari Belinda ini karena tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol dengan Belinda.


“Halo?”


“Kamu di mana sekarang?”


“Aku… di jalan.”


“Aku ….”


“Kenapa kamu datang ke sini?”


“Bukan apa-apa, aku akan pergi.”


“Apakah kamu tidak mau masuk dulu?”


“Apakah aku boleh masuk.”


“Masuklah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”


Hanggara tentu saja bahagia saat Belinda mengizinkannya masuk ke dalam rumah, tanpa membuang waktu ia masuk ke dalam rumah itu dan menemukan Belinda di ruang tengah rumah. Belinda sendiri nampak terkejut saat mendapati Hanggara berdiri tidak jauh di depannya, suasana di antara mereka begitu canggung sekali saat ini karena sudah cukup lama mereka tidak berjumpa.


****

__ADS_1


Sutikno mendekam di penjara akibat perbuatan korupsi dan suap yang membelitnya, persidangan akan segera dimulai dan ia sudah kehilangan jabatannya sebagai wali kota akibat perbuatannya ini. Austin datang menjenguk sang papa di penjara hari ini walau hanya sebentar, setidaknya Austin dapat melihat bagaimana kondisi papanya terkini ketika mendekam di balik jeruji besi.


“Bagaimana kabarmu? Chelsea baik-baik saja selama tinggal denganmu?”


“Iya, dia baik-baik saja.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Tidak banyak yang dapat mereka bicarakan dikarenakan waktu kunjung yang begitu terbatas, Sutikno pun mengatakan pada Austin bahwa tidak lama lagi ia dan Belinda akan bercerai, Sutikno meminta Austin untuk tidak membenci Belinda walau bagaimanapun Belinda adalah ibu kandungnya sendiri.


“Aku tidak tahu akan hal itu.”


“Papa tahu bahwa tidaklah mudah bagimu menerima kenyataan ini, Papa juga tahu saat kamu mengetahui kalau Papa memiliki hubungan dengan wanita lain hatimu hancur akan tetapi tidak baik untuk membenci orang tua sendiri, seburuk apa pun dia tetap tidak mengubah fakta.”


“Asal Papa tahu, aku juga masih membenci apa yang Papa lakukan dengan berselingkuh selama ini namun kenyataan bahwa mama memiliki hubungan dengan om Hanggara entah kenapa hatiku jauh lebih sakit dan sulit


menerima semua ini.”


****


Sundari merasa gusar bukan main karena tidak dapat menghubungi nomor Hanggara sejak tadi malam, akhirnya Sundari datang ke apartemen Hanggara namun ia tidak menemukan Hanggara di sana.


“Ke mana dia sebenarnya?”


Sundari kembali mencoba menghubungi Hanggara namun sayangnya tidak dapat tersambung kembali karena ponsel Hanggara dimatikan. Sundari pun menghela napasnya panjang, ia harus mencari tahu di mana Hanggara


berada dan tiba-tiba saja sebuah nama terlintas dalam benaknya.


“Apakah mungkin dia di sana?”


Buru-buru Sundari masuk ke dalam mobil dan meminta sopirnya pergi menuju sebuah tempat yang tidak lain adalah rumah Belinda, ia langsung masuk ke dalam rumah itu dan menemukan Belinda serta Hanggara tengah berada di rumah ini yang membuatnya marah bukan main.


“Hanggara, kenapa kamu bisa ada di sini!”

__ADS_1


__ADS_2