
Hanggara nampak penasran dengan jawaban yang diberikan oleh Belinda dari pertanyaan yang diajukan oleh mamanya dan Belinda pun mengatakan bahwa ia memilih untuk bersama dengan Hanggara. Jawaban dari Belinda
tersebut sontak saja membuat Hanggara merasa lega karena ia berpikir bahwa tadinya Belinda akan mau menuruti permintaan mamanya untuk tidak lagi berhubungan dengannya.
“Jadi kamu berharap kalau aku menuruti apa yang mamamu inginkan?”
“Tidak, sejujurnya aku sempat khawatir karena aku pikir mamaku akan dapat menggoyahkan pikiranmu.”
Belinda nampak hanya tersenyum saja dengan ucapan Hanggara barusan, Belinda mengatakan bahwa ia tidak akan mudah untuk digoyahkan pikirannya oleh siapa pun termasuk oleh Sundari. Hanggara dapat bernapas lega
karena Belinda nyatanya tidak mau hubungan mereka berakhir dan kini ia harus menjelaskan semuanya pada mamanya bahwa orang yang ia cintai itu adalah Belinda. Setelah pembicaraan malam itu maka Belinda dan Hanggara pun berpisah dengan masuk ke mobil masing-masing, ketika Hanggara dalam perjalanan pulang menuju apartemen tempat tinggalnya sementara ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk namun Hanggara tidak menjawabnya karena saat ini sedang mengemudikan kendaraan hingga akhirnya setelah tiba di apartemen tempat ia tinggal rupanya Sundari sudah menantinya di lobi apartemen dan langsung menghampirinya.
“Kenapa kamu tidak menjawab telepon dari Mama?”
“Aku mengemudi mobil barusan.”
Hanggara hanya menjawab singkat dan kemudian berjalan menuju lift namun Sundari menahan tangan Hanggara dan mengatakan bahwa Sundari barusan sudah bertemu dengan Belinda di kantor dan wanita itu benar-benar
menyebalkan.
“Mama sudah mendapatkan jawaban dari Belinda kan? Kenapa masih harus bekeras kepala lagi melanjutkan perjodohan ini?”
“Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah setuju kamu menjalin hubungan dengan Belinda, dia itu kakak iparmu sendiri, Hanggara!”
“Apakah aku peduli akan hal itu? Tentu saja tidak.”
Setelah mengatakan itu Hanggara kemudian masuk ke dalam lift dan mengabaikan Sundari yang memanggil namanya dan berusaha mencegahnya untuk masuk ke dalam lift namun sayangnya hal tersebut tidak berhasil.
****
Partai di mana Sutikno bernaung akhirnya mengumumkan bahwa mereka akan mencalonkan orang lain sebagai calon gubernur dan tentu saja hal tersebut tidak dapat diterima oleh Sutikno. Ia sudah mencoba berulang kali bicara dengan ketua umum untuk membatalkan acara ini namun usahanya gagal bahkan justru dirinya yang mendapatkan perintah mengundurkan diri dari partai yang tentu saja tidak dapat diterima olehnya. Sutikno kemudian membuat pernyataan di depan media bahwa apa yang dilakukan oleh partainya ini adalah sebuah hal yang sangat menjijikan.
“Mereka ingin supaya saya terlihat sangat buruk di depan masyarakat padahal mereka lupa bahwa siapa yang membuat mereka dapat memenangkan partai di kota ini!”
Sontak saja pernyataan Sutikno di depan awak media memancing kegaduhan di elit politik lain yang ikut-ikutan memanasi suasana tentu saja Sutikno tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan tidak adil begini namun belum juga reda masalah gagalnya ia mencalonkan diri sebagai calon gubernur justru kasus lain muncul, kejaksaan mengendus adanya kejanggalan dalam sejumlah proyek dalam lingkungan pemerintah kota yang merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah dan Sutikno pun mulai diincar oleh kejaksaan.
__ADS_1
“Kurang ajar sekali, bagaimana bisa di saat itu seperti malah aku akan tersangkut kasus yang baru? Aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi.”
****
Setelah penantian selama hampir 3 minggu lamanya akhirnya Inez siuman juga dan mamanya begitu bahagia saat tahu putrinya sudah siuman, ia bersyukur pada Tuhan karena telah membuat putrinya siuman dan Inez sendiri nampak seperti tidak mengenali sedang di mana ia berada.
“Nak, apakah kamu mengingatku?”
Inez menganggukan kepalanya, mamanya Inez tidak dapat membendung air matanya dan meminta Inez untuk mengatakan sesuatu padanya.
“Apa yang terjadi padaku?”
“Kamu mengalami kecelakaan hingga akhirnya kamu bisa ada di sini.”
“Kecelakaan?”
Inez pun kemudian mengingat kejadian di mana sebuah truk dari arah berlawanan dari mobilnya menabrak kendaraannya hingga membuat ringsek dan kemudian ia tak mengingat apa pun lagi namun kemudian ia sadar
bahwa dirinya sedang mengandung.
Raut wajah mamanya Inez nampak sedih saat putrinya menyinggung soal anak yang tengah dikandung olehnya, melihat raut wajah sang mama yang sedih membuat Inez berpikiran buruk dan takut kalau sesuatu hal yang
buruk terjadi pada anak yang sedang dikandung olehnya.
“Kenapa Mama tidak mengatakan sesuatu padaku? Katakan bahwa anakku baik-baik saja, dia harus baik-baik saja!”
“Nak, dia sudah tidak ada.”
Jawaban dari mamanya barusan membuat Inez sedih bukan main, ia meraung tak terima dengan kepergian anak yang ada di dalam kandungannya, ia menangis dan meratapi nasib buruk yang harus diterimanya saat ini dan
mamanya Inez hanya dapat memeluk putrinya dengan erat.
****
Sundari melakukan pertemuan dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Laila yang dijodohkan olehnya untuk menjadi calon menantunya, Laila adalah seorang wanita dari latar belakang keluarga terpandang. Papanya adalah
__ADS_1
pengusaha properti dan mamanya adalah anggota dewan perwakilan rakyat yang baru saja menjabat pada periode pemilihan umum kali ini dan tentu saja Sundari tidak ingin kesempatan berbesan dengan keluarga Laila akan hangus begitu saja akibat penolakan yang dilakukan oleh Hanggara yang mengatakan bahwa ia mencintai Belinda yang tidak lain adalah kakak iparnya sendiri!
“Kenapa Tante ingin bertemu denganku?”
“Laila, Tante ingin bertanya padamu apakah kamu masih ingin melanjutkan perjodohan ini dengan anakku?”
“Kenapa Tante menanyakan ini?”
“Tolong Laila, Tante mohon supaya kamu jangan berubah pikiran tolong kamu tetap mau menikah dengan anak Tante, ya?”
“Tante ini kenapa? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi?”
Sundari tidak mengatakan yang sebenarnya pada Laila namun Sundari meminta Laila untuk mau tetap menikah dengan Hanggara apa pun yang terjadi.
“Tolong berjanjilah padaku apa pun yang terjadi kamu tetap akan menikah dengan Hanggara, tolong ya?”
“Tante aku ….”
“Tante mohon padamu untuk jangan berubah pikiran, Tante mohon padamu.”
****
Kabar Inez yang sudah siuman terdengar juga sampai telinga Belinda, Belinda sepulang bekerja pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Inez namun kedatangannya ke rumah sakit diwarnai dengan Inez yang tidak suka dengan kedatangannya ke rumah sakit ini.
“Mau apa kamu datang ke sini? Apakah kamu dalang di balik kecelakaan yang aku alami?!”
“Inez jaga bicaramu, Nyonya Belinda adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawamu harusnya kamu berterima kasih padanya!”
“Mama ini bicara apa? Dia membenciku mana mungkin dia mau menyelamatkanku!”
“Bolehkah saya bicara empat mata dengan Inez?”
“Tentu saja Nyonya.”
Maka mamanya Inez pun berjalan keluar dari ruangan inap putrinya untuk memberikan waktu Belinda dan Inez berbicara empat mata, Inez masih menatap Belinda tak suka, ia yakin bahwa kecelakaan itu karena Belinda.
__ADS_1
“Kamu boleh percaya atau tidak dengan apa yang mamamu katakan barusan, aku hanya ingin mengatakan bahwa Sutikno dalang di balik kecelakaan yang kamu alami waktu itu.”