
Hari itu setelah calvin selesai mengikuti sidang perceraian, pemuda itu langsung menuju Rumah Sakit Carolus dimana sang bunda tercinta dirawat.. terakhir komunikasi dengan vivi melalui telp mengatakan kalau dia butuh Calvin berada di sini, saat itu vivi terdengar menangis ketakutan..
Penuh dengan ke khawatiran, pemuda itu langsung menuju ruang kelas tiga tempat ibunya di rawat inap..
Namun
Calvin merasa sangat kaget, karena di dalam ruangan itu sudah tidak tampak seorang ibu tercinta yang dirawat disana, Calvin keluar ruangan.. berlari kecil menuju meja informasi pasien
"Suster.. apakah yang terjadi dengan ibu saya, kenapa tidak ada di ruangan..?" Calvin tampak sangat panik, takut sesuatu terjadi dengan ibu tercinta..
"Maaf..!!" kata suster dengan suara tenang
"pasien atas nama siapa tuan..?"
"Atas nama Nyonya Nurul suster.." suster melihat Calvin dengan seksama, tentu saja..!! semua petugas, dokter dan suster mengetahui nama itu.. karena deposit nya yg membuat pasien atas nama nyonya Nurul jadi terkenal..
"oohh.. pasien atas nama nyonya Nurul sudah dipindahkan ke ruang VVIP tuan, rencananya besok pasien akan segera di operasi, Pihak Rumah Sakit sudah menyiapkan Dokter specialis yang ditugaskan secara khusus untuk penanganan pasien atas nama nyonya Nurul.. pihak Rumah Sakit tinggal menunggu tanda tangan persetujuan tindakan operasi dari pihak keluarga.." penjelasan suster membuat Calvin diam mematung, mulutnya sedikit menganga.. bingung mulai menguasai pikirannya..
"VVIP..? Dokter spesialis..? tindakan Operasi dan penanganan secara khusus..?" wajah Calvin terlihat pucat, berapa uang yang harus dia keluarkan untuk itu semua..? namun untuk kesembuhan seorang ibu, Calvin rela mengusahakannya, apapun akan dia lakukan demi kesembuhan seorang ibu.. akan tetapi ruang VVIP ? tidak mungkin pihak Rumah sakit memindahkan pasien ke ruang VVIP jika tidak ada persetujuan dari pihak keluarga, apakah vivi.. oohh..!! tidak mungkin
"Maaf suster, apakah pemindahan ke ruang VVIP sudah ada persetujuan dari pihak keluarga..?" tanya Calvin tidak mempercayai semua ini.. suster jaga menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan nya perlahan..
menatap ke wajah pemuda yang tampak bingung itu..
" Maaf Tuan... pembiayaan Pasien atas nama nyonya Nurul sudah dibayarkan dengan deposit uang sebesar Satu Miliyar rupiah tuan.."
"Hhaaaaahhhhhh..!!" teriak Calvin tidak mempercayai apa yang baru dia dengar.. suaranya nyaris terdengar ke seluruh penjuru ruangan..
kakinya tampak bergetar hebat, sangat sulit untuk melangkah.. dengan tertatih-tatih Calvin perlahan menjauhi meja informasi, sambil mengeluarkan ponsel.. dan juga dengan tangan bergetar dan beberapa kali ponsel akan terjatuh karena getaran tangannya sangat dahsyat..
Tidak bisa dipercaya..!
segera menelfon Vivi..
"Vivi juga tidak tahu kakak, Vivi justru mengira ini semua karena kakak yang sudah mengatur semuanya.." ujar Vivi tak memahami apa yang telah terjadi
"Tidak Vivi.. kakak tidak mengatur semua ini.."
"lantas siapa yang sudah mengatur ini semua..?" lanjut Vivi bingung..
__ADS_1
Calvin tak menjawab pertanyaan adiknya vivi, Calvin hanya mengakhiri panggilan dengan sejuta pertanyaan terhadap orang yg telah mendepositkan uang sebesar itu..
Calvin mencari informasi di meja kasir,
"maaf ibu..!!" sapa Calvin.. tampak seorang kasir Rumah Sakit dengan ramah melayani Calvin dengan baik..
Calvin menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan nya secara perlahan..
"maaf ibu, saya mau mengklarifikasi.." ujar Calvin kemudian bertanya..
"Siapa orang yang sudah membayarkan uang sebagai deposit sebesar Satu Miliyar Rupiah untuk pasien atas nama Nyonya Nurul.. ibu..?" Calvin memasang wajah sangat penasaran
"Apa hubungan tuan dengan pasien..?" tanya petugas kasir
"Saya Calvin.. Calvin Pradikta.. saya anak dari pasien yang bernama Nyonya Nurul.."
"Baiklah tuan Calvin.. Maaf sebelumnya.." petugas menjelaskan
"Rumah Sakit ini tidak mencatat data pribadi bagi seseorang yang telah melakukan pembayaran, tp jika tuan inginkan kwitansi pembayaran, kami bisa memperlihatkan copy nya.."
kemudian petugas tampak mengambil secarik kertas copy an kwitansi pembayaran..
Calvin melihat kwitansi itu.. "Untuk pembayaran pasien atas nama nyonya Nurul deposit sebesar Satu Miliyar Rupiah"
kemudiaan Calvin melihat sebuah tanda tangan..
Tanda tangan atas nama VANNESA
Vannesa..!!
Calvin tidak mengetahui nama itu, siapa dia..? apakah ada hubungannya dengan ibu saya..?
Tidak mungkin jika tidak memiliki hubungan dengan keluarga kami..?
Calvin berniat menanyakan tentang ini kepada bunda nanti.. disaat sang bunda sudah sembuh
Calvin menuju ruang VVIP lantai dua, tempat dimana sang bunda dipindahkan dari ruang kelas tiga.. pemuda itu tidak susah mencari ruangan VVIP karena hanya terdapat satu ruang VVIP setiap lantainya..
Astaga...!!! Calvin sangat tercengang, ruangan ini tampak seperti ruang Hotel bintang lima.. fasilitasnya sangat menakjubkan, tanpa di rawat pun Calvin pikir pasien sudah terlebih dahulu sembuh karena memiliki fasilitas seperti ini..
__ADS_1
Ruangan seperti ini selayaknya ruangan untuk orang yg sedang liburan.. Calvin menatap sang bunda yang terbaring tidur dengan wajah sedikit lebih cerah dari hari kemarin..
"kakak.." panggil Vivi disaat Calvin berfantasi, kemudian memandang wajah adiknya yang terlihat sumringah..
"Apakah kakak telah mengetahui siapa yang telah menjadi dewa penolong ibu..?"
"Tidak vivi.." kata Calvin terlihat sangat bersahaja, hatinya terasa sangat tentram.. nyaman, mungkin karena kemewahan ruangan ini..
"Nanti.. kakak akan bertanya sama ibu, mungkin dewa penolong kita ini ada hubungannya sama ibu.."
"Baiklah kakak.." senyum vivi terlihat sangat manis sekali, gadis remaja itu sangat senang sekali karena ibunya mendapat penanganan spesial dan juga semua kemewahan ini.. tak ada lagi raut kesedihan seperti hari-hari kemarin
"o.. iya vivi.." kata Calvin membuyarkan lamunan kecil vivi
"kakak sudah mendapatkan biaya untuk uang sekolah kamu.. besok kakak akan urus semua biaya yang tertunggak, kita berangkat ke sekolah bersama-sama.."
"Terimakasih kakak.." balas Vivi dengan senyum manisnya
Disaat mereka merasakan semua keindahan ini, seorang Dokter Specialis masuk ke ruang VVIP itu bersama beberapa dokter lainnya dan puluhan suster mengikuti di belakangnya..
Calvin sangat takjub, Dokter-dokter itu terlihat sangat terlatih dan profesional mengamati dengan seksama nyonya Nurul, memeriksa dengan cermat dengan di bantu puluhan suster..
orang sebanyak itu dalam satu ruangan, namun tak terlihat ruangan menjadi sempit, karena memang ruangan ini sangat besar dan ruang VVIP sangat memungkinkan untuk orang sebanyak ini.. tetap tak menghilangkan kesan mewahnya..
"apakah tuan bernama Calvin Pradikta..?" tanya dokter itu melihat ke arah Calvin
"Betul Dokter.. saya Calvin Pradikta.." jawab Calvin harap harap cemas mendengar suara dari dokter itu
"Besok tepat pukul 13.00 team Dokter akan melakukan tindakan Operasi bagi nyonya Nurul.. Apakah Anda dapat menyetujui tindakan ini..?
Calvin mengangguk kecil
"Baik Dokter, saya sangat berharap operasi berjalan lancar dan sempurna.." kemudian Dokter itu memerintahkan salah satu suster untuk memberikan surat tindakan persetujuan berikut pulpennya ke Calvin
"Silakan anda tanda tangani surat tindakan persetujuan dari pihak keluarga.." kata Dokter itu kemudian
tanpa ragu Calvin segera menanda tangani surat itu
"Bissmilah.."
__ADS_1
"Kami akan mengupayakan penanganan terbaik bagi ibu anda.."
"terimakasih Dokter.."