
Seorang Dina sangat memahami dilema seorang sahabat itu, betapa sebuah dilema yang sangat menyayat hati seorang Vannesa..
Sementara Claudya, Allisa dan Freddy sudah tampak keluar dari ruangan Robert, wajah penuh dengan kebahagiaan terpancar dari sorot mata Claudya karena sudah berhasil membuat perusahaan jasanya tergabung di dalam County Group..
"Selamat Bu Claudya.." ucap datar seorang Dina dengan raut wajah polos sambil menyodorkan tangannya
"Terima kasih Dina.." balas Claudya meraih dan menjabat tangan itu tanpa memperdulikan raut wajah seorang Dina yang seolah tidak menikmati keberhasilan itu..
Mereka tampak berjalan dengan langkah percaya diri keluar dari Basecamp Building, namun langkah mereka terhenti dengan pandangan terkejut terarah tepat dihadapan mereka setelah membuka pintu kaca lobby utama, Terlihat seorang pemuda dengan style jas elegan berjalan tegap mengarah ke pintu masuk yang sama..
"Calvin.." ucap perlahan seorang Claudya dengan pandangan terperangah, Allisa pun tak percaya melihat seseorang dengan penampilan selayaknya seorang pemimpin sebuah perusahaan..
Sementara seorang Dina melihat sosok itu dengan tatapan biasa saja, karena wanita itu telah mengetahui siapa sosok itu sebenarnya dari cerita seorang Vannesa..
Calvin tampak sangat terkejut dengan pemandangan yang berada tepat berada dihadapannya, pemuda itu terlihat setengah panik dan tak bisa menghindar dari orang-orang yang sangat dikenalnya itu..
"Calvin..!! kamu..! Apa kamu tidak salah dengan penampilan seperti ini..?" ucap sinis seorang Claudya
"hhmm.. aak.. aku hanya ingin menjumpai seorang teman.." Calvin tampak sekali gugup..
Namun sikap gugup itu di tandai seorang Claudya sebagai obsesi dari seorang Calvin untuk menjadi seorang pemimpin..
"Kamu tahu gedung apa ini Calvin.. jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi bagian dari gedung ini.."
Claudya tampak sekali sangat kesal terhadap Calvin, terakhir seorang Calvin meninggalkannya begitu saja disaat Claudya percaya bahwa Calvin benar-benar membangun sebuah usaha di ibukota dan akan bekerja sama dengan perusahaan jasa yang di kelolah seorang Claudya..
"Aku pikir kamu hanyalah seorang pemuda yang penuh dengan khayalan Calvin.." kata-kata Claudya terdengar sangat emosional
"Sudahlah Bu Claudya, mungkin apa yang dikatakan Calvin benar bahwa dia ingin bertemu dengan temannya di gedung ini.." ucap Allisa tampak sedikit membela Calvin
"Aku tidak percaya dengan pemuda yang satu ini.." ucap Claudya setengah menunjukkan telunjuknya dihadapan Calvin
__ADS_1
"Kamu bilang bahwa kamu sedang membangun sebuah usaha di ibukota dan akan bekerja sama dengan usaha jasa yang aku kelolah, tp kamu malah pergi begitu saja.. benar-benar menyebalkan.." lanjut seorang Claudya dengan suara lantang..
Sementara Dina memandang lembut ke arah Calvin, wanita itu sebenarnya ingin sekali memberi tahu bahwa pemuda itu adalah seorang CEO di Candile County Business Distrik..
"Bu Claudya, sebaiknya kita jangan membuat gaduh disini.." ujar Dina mencoba menetralisir keadaan
"hhuuuffft.. kamu laki-laki yang sangat menyedihkan Calvin.." lanjut seorang Claudya yang masih tampak belum mau mengakhiri kekesalannya terhadap Calvin
Tampak dari kejauhan seorang security berlari menghampiri mereka, wajah itu terlihat sangat ketakutan karena dinilai lalai dan terlambat mengatasi situasi seperti ini, apalagi dalam situasi itu ada seorang Mr. Calvin.. Seorang dengan segala kekuasaannya atas Gedung ini bahkan seluruh kawasan Candile County Business Distrik..
"Maaf Mr. Cal..!"
"Berhenti.." seseorang berteriak memotong ucapan security itu sambil membuka pintu lobby
"Maafkan saya Tuan Robert..!" ucap security sambil membungkukkan setengah badannya berulang kali..
Semua mata memandang ke arah Tuan Robert dengan tatapan keangkeran, wajah itu terlihat sangat angker, marah karena ulah dan sikap tidak sopan yang dilakukan putrinya sendiri..
"Plakkk..!" sebuah tamparan keras tangan Robert mendarat tepat di wajah Claudya..
Semua tampak tidak percaya atas perlakuan Tuan Robert terhadap Claudya terkecuali seorang Dina, wanita itu menyadari bahwa seorang CEO seperti Calvin memang tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti yang di lakukan seorang Claudya..
"Apa maksud ayah..? dia hanyalah laki-laki miskin dengan khayalan tinggi.." balas Claudya tidak terima diperlakukan seperti ini
"Kamu..!" Robert melayangkan tangannya kembali hendak menampar putrinya, namun Calvin dengan cepat menangkap tangan itu..
Wanita itu meringis dengan kedua tangan menutupi wajahnya dan mencoba menahan tamparan untuk kedua kalinya dari seorang ayah, Namun Claudya melihat aksi yang dilakukan sorang Calvin dengan cepat menangkap tangan itu, sehingga tamparan itu tidak sampai mengenai wajah Claudya..
Wanita itu tampak menahan sakit dengan memegangi sebelah wajahnya, sementara Calvin sangat terkejut dengan apa yang dilakukan seorang ayah terhadap anaknya itu.. Calvin dengan cepat memberikan satu isyarat agar Robert bisa menahan emosi dan tidak memperlakukan Claudya seperti itu..
Kemudian Calvin mengisyaratkan lagi agar Robert tidak membeberkan siapa sebenarnya seorang Calvin..
__ADS_1
Robert sangat ingin sekali memberitahukan kepada Claudya, bahwa Calvin lah orang yang telah membuat perusahaan jasanya bisa tergabung dalam Grup County,
"Cepat pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran untuk membatalkan semua bentuk kerja sama dengan perusahaan Claudy Energy.." bentak seorang Robert dengan kata-kata yang sangat keras..
Claudya tampak ketakutan dengan ancaman yang dilakukan seorang Robert, betapa impian dan cita-citanya untuk tetap menjadi bagian dari County Group jadi sia-sia..
Namun satu yang membuat wanita itu tidak memahami atas sikap yang dianggapnya sangat berlebihan itu, apa yang membuat seorang Calvin sangat spesial sehingga membuat seorang ayah dengan tega mempermalukan anaknya sendiri di hadapan banyak orang..
Claudya bersama dengan teamnya terlihat bergegas berlalu meninggalkan Basecamp Building..
"Maafkan atas perlakuan anak saya Claudya, Mr. Calvin.." ucap seorang Robert dengan membungkukkan setengah badannya berulang kali..
"Tidak masalah Robert, jangan terlalu di permasalahkan.." ucap Calvin santai
Kemudian mereka terlihat memasuki lobby utama sampai ke ruangan Mr. Calvin, kemudian Robert meneruskan langkahnya sendiri menuju ke ruangannya..
Calvin terduduk di ruangan kerjanya kemudian sekilas teringat kejadian yang baru saja terjadi, pemuda itu berfikir apakah sudah waktunya membiarkan semua tentang dirinya diketahui oleh semua orang termasuk Gedung Nusantara sekalipun..
Calvin merasakan terlalu banyak permasalahan yang dia hadapi, pikirannya tidak bisa fokus karena bercabang dengan situasi dimana calvin merasa harus terus menyembunyikan identitasnya, Calvin merasakan pikirannya terkuras..
Sementara beban di kehidupan asmaranya sudah sangat jelas menguras tenaga dan pikirannya..
Calvin meraih gagang telepon di meja kerja itu, sedikit tampak ragu untuk menanyakan kehadiran seorang Vannesa pada sekretarisnya Cindy, namun hatinya tak bisa dibohongi, betapa rindunya Calvin terhadap sosok Vannesa..
Namum tiba-tiba telepon itu berdering, Calvin sedikit terkejut mendengar dering telepon itu karena banyaknya beban yang saat ini sedang melanda pikirannya..
"Halo..!" ucap Calvin lembut..
Namun tak ada jawaban, sementara jelas sekali nada tersambung.. Calvin sedikit heran, siapa orang dari Basecamp Building ini yang mencoba menghubungi dirinya..
"Siapa ini..?" ucap Calvin kemudian
__ADS_1
Tetap tak ada respon, Calvin sedikit mengernyitkan keningnya penuh dengan keheranan karena jelas telepon masih tampak menyambung..
Kemudian Calvin menekan tombol display untuk mengetahui dari ruangan mana telepon itu berasal, pemuda itu terkejut karena panggilan itu berasal dari ruangan Vannesa, Calvin tidak mengetahui jika Vannesa ternyata sudah berada di ruangannya..