Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 26


__ADS_3

Sangat sulit bagi seorang Calvin untuk melepas keluarga ini, terutama Vannia..! Gadis kecil itu tidak bisa begitu saja bisa berpisah dengan Calvin.. Entah apa yang akan terjadi jika Calvin betul-betul meninggalkan keluarga ini.. Terlintas begitu saja dipikiran Calvin..


"Calvin..!" ucap Vannesa suatu malam di teras lantai dua rumahnya


"Ada satu masalah besar di perusahaan.."


"Apa yang sudah terjadi Vannesa..?" tanya Calvin dengan tatapan penuh dengan keseriusan


Vannesa mulai menceritakan terkait temuan team audit yang dikepalai oleh Robert, namun laporan temuan itu sampai sekarang belum bisa Vannesa dapatkan karena terbentur dengan aturan yang diterapkan oleh seorang Mr. Daniel.. Jika saja Vannesa telah mengumumkan berita kematian Mr. Daniel tentu saja Vannesa bisa dengan mudah mengambil alih perusahaan dan mendapatkan laporan team audit itu..


"Aku tak kuasa saat team audit mendesak untuk bertemu dengan mas Daniel.." ucap Vannesa


"Tidak bisakah kamu wakilkan..?" tanya pemuda itu


"Tidak bisa Calvin..!"


"Seberapa genting laporan itu, Vannesa..?"


"Aku belum tau Calvin, karena aku tidak bisa mendapatkan laporan itu.."


"Apakah kamu sudah tau tentang apa yang ingin team itu sampaikan.." tanya Calvin lagi


"Ini mengenai hasil Investigasi team audit.. sesuai instruksi dan juga protokol perusahaan, maka hasil investigasi harus disampaikan secara tertutup kepada Mr. Daniel dan tidak bisa di wakilkan, itu sebuah protokol Calvin.."


tentu saja Calvin mengerti tentang protokol perusahaan..


"Secara individu atau kelompok dengan sengaja atau tidak melanggar sebuah protokol sangsinya adalah PHK.." ucap Calvin memahami..


"Iya Calvin, itu betul sekali.."


Calvin menghela nafas panjang, Calvin mengerti apa yang diinginkan Vannesa terhadap dirinya.. Calvin terlihat berpikir akan hal itu, sementara Vannesa sangat mengharapkan Calvin bersedia membantunya..


"Kemarin pak Robert menyampaikan bahwa aku harus berhati-hati terhadap pak Rafael..! namun tidak secata spesifik, meraka takut terbentur aturan dan juga kepada mas Daniel.. kemudian mereka mengatakan harus lebih detil terkait laporan pak Rafael yang masuk ke perusahaan.. Sementara aku tidak bisa masuk dan mengambil keputusan karena perusahaan masih menganggap mas daniel masih ada.."


"Sebentar Vannesa..!" potong Calvin


"Apa maksud kamu pak Rafael memalsukan laporan dan dengan leluasa kendalikan perusahaan untuk kepentingan pribadi, karena secara rahasia hanya pak Rafael yang tahu jika mas Daniel sudah meninggal.."


"Betul sekali Calvin.." ucap Vannesa kagum dengan kepintaran calvin


"Tapi.. bukankah pak Rafael orang kepercayaan mas Daniel..?" Calvin tak habis pikir


"Aku juga berpikir demikian Calvin, namun aku belum yakin akan hal itu, butuh bukti yang lebih kuat.."


"Aku pikir buktinya ada di team audit..! Baiklah Vannesa.." ucap Calvin bersemangat untuk membantu dan menyelamatkan perusahaan suaminya..


"Aku akan datang ke basecamp building, kamu buatkan saja janji dengan team audit agar bisa menghadap Mr. Daniel.. Besok..!"

__ADS_1


"Terima kasih Calvin.." Vannesa merangkul lengan pemuda itu


sangat romantis, Calvin pun merasakan kehangatan dan kebahagiaan berada di samping Vannesa..


"Aku cinta kamu Calvin..!" ucap Vannesa perlahan


Calvin membelai wajah cantik Vannesa, dari dalam hati yang paling dalam seorang Calvin pun mencintai Vannesa


"Aku juga cinta kamu Vannesa..!"


Ke esokkan harinya..


Vannesa berangkat kerja seperti biasa, Calvin dan Vannia terlihat mengantar sampai depan rumah melihat seorang mama berangkat kerja sambil say kiss bay


"Vannia.." ucap Calvin lembut setelah keberangkatan Vannesa ke kantor


"Nanti Vannia berangkat sekolahnya bareng sama papa.."


Vannia teriak horee..!


"Setelah itu papa berangkat kerja, yah sayang.." Vannia terlihat cemberut


"Papa akan pulang lebih awal hari ini, khusus buat Vannia.. gimana..?" Vannia tertawa manja kemudian minta di gendong oleh pemuda itu..


Calvin sangat menyukai gadis kecil itu, Calvin seolah merasakan semakin sering dia menyebut dirinya papa di depan Vannia semakin Calvin merasakan bahwa Vannia seperti anaknya sendiri, semakin tinggi tanggung jawab Calvin atas anak itu


"Selamat pagi nona Vannesa.."


"Selamat pagi semua.." balas Vannesa dengan senyum manisnya..


Vannesa telah di nantikan kedatangannya oleh team audit yang kembali menemukan laporan terkait perusahaan setelah kemarin Vannesa tidak datang karena menemani Vannia di Rumah Sakit..


"Selamat pagi nona Vannesa..!" ucap pak Robert bersama dua orang team lainnya..


"Selamat pagi pak robert..!" balas Vannesa


"Nona Vannesa.. kami.."


"Pak robert.." potong Vannesa cepat


"Hari ini jam 10 anda bisa menemui Mr. Daniel di kantornya.. saya pastikan anda bisa bertemu dan siapkan semua bentuk laporan dan temuan team.." Vannesa terlihat percaya diri


"Baik nona Vannesa, baik.. Terimakasih.."


tampak ketiga orang tersebut memberi hormat dengan menundukkan setengah badannya kemudian meninggalkan seorang Vannesa..


Vannesa mengumpulkan data terkait keperluan Calvin termasuk semua data staf tinggi di perusahaan, ada sedikit kecemasan dalam diri Vannesa terhadap kemampuan Calvin dalam perannya sebagai Mr. Daniel.. Apakah Calvin mampu melaksanakan semua tugas selayaknya Mr. Daniel..

__ADS_1


Vannesa meraih gagang telp yang terdapat di meja kerja itu kemudian menekan satu no. extension salah satu staf


"Cindy.." ucap Vannesa ke sekretaris Mr. Daniel


"Tolong kamu panggilkan pak andra, minta ke ruangan saya sekarang..!"


Vannesa menaruh kembali gagang telp itu


tak lama kemudian seorang manager operasional gedung andra tiba didepan pintu ruangan Vannesa


"Selamat pagi, Apakah nona Vannesa memanggil saya..?"


"Pagi.. iya pak andra, silakan masuk..!" andra melangkah masuk dengan wajah sedikit tegang karena sangat jarang Vannesa memanggil dirinya..


"Silakan duduk pak andra.. santai saja, anggap di ruangan sendiri.." ujar Vannesa sambil tersenyum kecil


"Apakah yang membuat nona Vannesa memanggil saya.." ucap andra sedikit rileks


"Saya hanya minta kamu siapkan semua salinan dokumen atau laporan perusahaan selama Mr. Daniel tidak di tempat..!"


"Maaf nona Vannesa, semua laporan terkait perusahaan, proyek dan investasi sudah di minta oleh pak Rafael.."


"Apa..!!" Vannesa kaget


"Untuk keperluan apa pak Rafael meminta semua itu.." Vannesa mengernyitkan keningnya, salinan laporan dan dokumen adalah berkas dan arsip perusahaan kenapa seorang Rafael memintanya, apakah itu upaya menghilangkan barang bukti..


"Saya juga ada sedikit kejanggalan nona Vannesa.." ucap andra yang membuat Vannesa penasaran


"Apa yang membuat pak andra janggal..?" tanya Vannesa


"Semua dokumen dan laporan perusahaan serta proyek yang berupa Digital Arsip yang saya miliki hilang nona Vannesa.. termasuk backup data yang saya miliki.."


"Haaahhh..!" teriak Vannesa tidak mempercayainya


"Tok tok tok.."


"Selamat pagi nona Vannesa.." Vannesa tampak kaget melihat sosok yang berada di pintu ruangannya itu


"Ok pak andra, anda boleh kembali kerja..!" perintah Vannesa, andra melangkah keluar meninggalkan ruangan itu


"Permisi Tuan Rafael.." ucap andra saat melewati seseorang yang persis berdiri di pintu ruangan


"Silakan masuk pak Rafael.." nada Vannesa sedikit ketus


"Ada keperluan apa pak Rafael menemui saya..?" seorang Rafael tampak sedikit kaget dengan perubahan sikap seorang Vannesa


"Maaf nona Vannesa jika kedatangan saya kurang tepat.."

__ADS_1


"Baiklah kl begitu, silakan pak Rafael keluar dan bisa temui saya kembali di saat saya bebas jam kantor.." tegas seorang Vannesa


Rafael melangkah keluar ruangan dengan perasaan penuh kebingungan atas sikap Vannesa yang belum pernah seperti ini sebelumnya..


__ADS_2