Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 29


__ADS_3

Calvin tampak berdiri, pemuda itu tidak terbiasa mendapatkan tekanan pikiran seperti ini.. Calvin hanyalah orang biasa yang tak bisa mengambil keputusan sulit terlebih lagi ini merupakan mega scandal sebuah perusahaan besar yang memiliki banyak anak perusahaan..


"Apakah masih ada lagi yang ingin ada sampaikan, Robert..?" tanya Calvin kemudian


"Sudah semua Mr. Daniel, mohon izin menyerahkan semua dokumen..!!" ucap Robert sambil menyodorkan tumpukan dokumen


"Letakan semua dokumen itu di atas meja kerja saya.."


"Baik Mr. Daniel.. kami mohon kembali bekerja..!"


"Sebentar..!" ucap Calvin yang membuat ke lima org tsb memandang takut ke arah pemuda yang mereka anggap Mr. daniel itu..


"Selain anda berlima, siapa di departemen audit yang mengetahui akan hal ini..?" tanya Calvin dengan tatapan tajam tertuju ke semua team..


tatapan seperti itu terlihat kembali, Calvin memiliki tatapan yang menyerupai seorang Mr. Daniel, sebuah tatapan yang menjadi momok bagi siapa saja yang berhadapan dengan Mr. Daniel


"Mohon izin Mr. Daniel.. ini adalah team inti di departemen audit, kami berlima sesuai dengan spesifikasi di bidangnya masing-masing.. selain kami berlima tidak ada satupun orang yang mengetahui akan hal ini, termasuk team di departemen audit sendiri secara keseluruhan.."


"Bagus.. silakan kembali bekerja..!" ucap Calvin mengakhiri pembicaraan .


"Terima kasih Mr. Daniel..!" hormat semua team dengan menundukkan setengah badan


Calvin duduk kembali di meja kerja itu.. memandangi setumpuk dokumen mega scandal di perusahaan Mr. Daniel..


wajahnya terlihat setengah bias, terlintas akan kehancuran perusahaan yang kini di emban oleh seorang Vannesa


"Calvin.." Vannesa dengan wajah tegangnya berlari kecil menghampiri seorang Calvin tak lama dari ke lima orang itu meninggalkan ruangan


"Apa yang telah terjadi..?"


Calvin tak menjawab tanya wanita cantik itu, Calvin hanya menyodorkan dokumen dari team audit dengan wajah penuh dengan kecemasan, Vannesa merasakan ketakutan melihat ekspresi wajah seperti itu, takut akan sesuatu yang besar terjadi terhadap perusahaannya..

__ADS_1


Vannesa meraih dokumen itu kemudian duduk persis di hadapan Calvin, membuka lembar per lembar dan membaca dengan sangat teliti.. wajah Vannesa terlihat sangat serius hingga akhirnya terbaca di bagian tiga poin terpenting dari laporan itu..


Jantung Vannesa terasa berdetak hebat, Tangannya terlihat bergetar, tatapannya tak henti memandangi kata per kata dari ke tiga poin penting yang telah di definisikan oleh seorang Robert.. Vannesa terlihat sangat shock..! dokumen terlepas dari pegangan tangan, jatuh di antara pangkuan wanita itu, wanita itu terlihat emosi dan ingin segera melampiaskannya..


Vannesa meraih gagang telpon, menekan salah satu no extension dengan emosi yang menguasainya.. Calvin melihat tindakan gegabah itu dan menahan pergerakan tangan Vannesa..


"Apa yang kamu lakukan Vannesa.." ucap Calvin


"Aku akan memanggil Rafael, meminta pertanggung jawaban atas semua yang telah dia lakukan..?" ucap Vannesa penuh dengan emosi


"Jangan emosi Vannesa.. kamu tidak boleh gegabah, kita dituntut harus memiliki strategi.. kita harus memiliki rencana dan skema yang terstruktur.."


Vannesa memandang serius ke arah Calvin, meletakan kembali gagang telepon itu..


"Apa rencana kamu, Calvin..?" tanya Vannesa berharap kejeniusan seorang Calvin


Calvin menunjukan sesuatu sebagai langkah awal penetapan rencana dan strategi..


"Ini adalah Dokumen beberapa agenda penting seorang Mr. daniel..!" Calvin menunjukan beberapa dokumen yang berada di atas meja kerja itu, Vannesa ingat betul, itu merupakan dokumen dengan map merah yang diminta Cindy atas dirinya untuk diletakan di atas meja kerja Mr. Daniel sebelum pertemuan Calvin dengan team audit..


"Kita harus tau, siapa yang mewakili ini semua..? kemudian kita juga harus mengetahui kesepakatan apa yang telah disepakati..?"


"Tentulah Rafael yang mewakili itu semua Calvin dan kita bisa mendesak dirinya atas kesepakatan dalam pertemuan-pertemuan itu.?"


"Tidak..!" suara Calvin terdengar sangat yakin


Calvin meraih dokumen itu dan membacakan salah satu agenda penting disana..


"Pertemuan Mr. Daniel dengan komisaris Global Asuransi.. kemudian pertemuan Mr. Daniel dengan perusahaan pemenang tender pengadaan empat alat berat mobile crane dan quay crane container.." ucap Calvin kemudian memberikan dokumen itu ke pada Vannesa..


"Itu merupakan tanggal yang sama Vannesa, tidak mungkin Rafael berada di dua lokasi pada waktu dan tanggal yang sama, ini jelas bahwa Rafael telah menggandeng seseorang yang memiliki pengaruh kuat di kawasan ini.."

__ADS_1


Vanesa melihat agenda itu sambil mendengarkan Calvin, wajahnya tampak bias namun penuh dengan emosi..


"Jika sekarang kita mengintrogasi seorang Rafael dengan tanpa bukti kuat itu sama saja kita melemahkan posisi kita sendiri dan membuat mereka mengupayakan untuk melenyapkan semua barang bukti..!" Vannesa tampak mengerti maksud Calvin, betapa Vannesa sangat mengagumi cara pandang seperti itu..


"Untuk saat ini, tidak ada satupun petinggi Candile County Business Distrik yang bisa kita percaya selain Robert dan team intinya, aku akan menghubungi salah satu sahabat ahli hacker, kita akan bekerja sama dengan team audit untuk mencari nama-nama yang terlibat dalam mega scandal di perusahaan ini.." ucap Calvin berapi-api.. sementara Vannesa merasakan kebenaran dalam ucapan Calvin, wanita itu terlihat sangat optimis dan merasakan bahwa Calvin akan mampu memecahkan mega scandal ini, tentu saja Calvin akan memanfaatkan kemiripan dirinya atas Mr. Daniel untuk memberikan akses pada team penyelidik yang akan dibentuk oleh seorang Calvin..


Sementara jika Calvin mengambil kebijakan darurat untuk penyelidikan seperti yang di sarankan oleh team audit tentu sangat mentah karena tentu saja Rafael dan para koruptor itu telah mengetahui jika Mr. Daniel sudah meninggal dunia.. Sedangkan Calvin hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan Mr. daniel, tentu sangat sulit bagi Calvin untuk mengeluarkan satu kebijakan resmi, terlebih ini merupakan kebijakan darurat yang bersifat mengikat banyak instansi dan lembaga tinggi..


"Vannesa..!" ucap calvin mengambil keputusan awal sebagai langkah sebuah rencana dan skema..


Calvin berdiri menghampiri Vannesa yang masih terlihat tegang diwajahnya..


"Aku akan mengatur pertemuan dengan robert beserta ke lima team intinya dan seorang sahabat yang merupakan ahli hacker.."


Vannesa meraih tangan Calvin, kemudian merangkul tangan itu dengan kepala bersandar di pundak Calvin.. wanita itu merasakan kembali kehangatan di tubuh pemuda yang di cintainya..


"Calvin.." ucap Vannesa yang seketika merontokkan semua ketegangan diwajahnya..


"Selamatkan perusahaan ini, sayang.."


tangan Calvin terlihat mengelus wajah itu dan menatapnya persis di hadapan Calvin..


"Aku akan mengusahakan semampu yang aku bisa, Vannesa.." balas Calvin lembut memandang wajah cantik Vannesa


Calvin dan Vannesa mengatur pertemuan agar dilaksanakan dirumah.. rumah yang megah itu sangat memadai untuk pertemuan rahasia dan merancang skema..


"Pak Robert.." Vannesa diujung telepon mengabarkan ke Robert tentang rencana pertemuan dirumah Vannesa


"Mr. Daniel meminta anda dan kelima team inti anda untuk pertemuan dirumah Mr. Daniel" Pak Robert merasakan ketakutan dalam hatinya


"Apakah yang telah saya lakukan nona Vannesa..?"

__ADS_1


"Pak Robert jangan berprasangka.. Mr Daniel justru ingin meminta bantuan anda dan team inti.." ada kelegaan dalam hati seorang Robert


"Baiklah nona Vannesa, saya dan team inti akan datang..!!"


__ADS_2