
"Vannesa..!" ucap halus seorang Calvin
Tetap tak ada respon, tampak hening tak ada sepatah pun kata yang terdengar dari telepon itu..
"Aku tahu telepon ini berasal dari ruangan kamu.. Apakah semua baik-baik saja Vannesa..?" untuk kesekian kalinya Calvin bersuara, namun tetap tak ada balasan kata-kata yang terdengar dari sana..
Calvin merasa heran, apa yang terjadi dengan wanita yang disayanginya itu, kenapa tiba-tiba Vannesa tidak mau berbicara dengan Calvin..?!
Calvin meletakkan gagang telepon itu, pemuda itu langsung keluar dari ruangannya kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Vannesa..
"Mr. Calvin..! Mr. Calvin..!" sambil berlari kecil Cindy memanggil nama Mr. Calvin yang telah terlihat masuk keruangan Vannesa..
Namun Calvin tidak menemukan Vannesa disana, Calvin hanya mendapati gagang telepon yang tidak berada ditempatnya, Calvin meraih gagang telepon itu kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya, Calvin tampak heran.. kenapa, tiba-tiba Vannesa menghilang dari ruangannya, Apa yang terjadi dengan Vannesa..?
"Mr. Calvin..!" Cindy tiba-tiba masuk dengan nafas sedikit tersengal-sengal..
Calvin melihat tatapan wajah Cindy penuh dengan kepanikan, pemuda itu seperti melihat gelagat bahwa terjadi sesuatu dengan Vannesa..
"Ada apa Cindy..? Apa yang terjadi dengan Vannesa..?" tanya Calvin heran memandang serius ke arah Cindy
"Maaf Mr. Calvin.. Nona Vannesa keluar dengan terburu-buru.." jawab Cindy dengan wajah setengah paniknya
"Apa yang dikatakan Nona Vannesa, Cindy..?" Calvin tampak tidak mengerti atas sikap yang tidak seperti biasanya dari seorang Vannesa..
"Nona Vannesa tidak mengatakan apapun Mr. Calvin, Nona Vannesa hanya menangis kemudian berlari kecil meninggalkan ruangannya, Cindy takut terjadi sesuatu tehadap Nona Vannesa, Mr. Calvin..!" ucap Cindy penuh kekhawatiran karena ini kali pertama seorang Cindy melihat Nona Vannesa seperti itu..
Calvin berusaha bersikap tenang dan tidak menunjukan jika sebenarnya mereka berdua sedang menghadapi satu dilema yang menguras banyak tenaga dan pikiran..
"Tidak Cindy..! Nona Vannesa baik-baik saja.."
Calvin melangkah kembali ke ruangannya sambil mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Vannesa kemudian menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi..?
Tampak sedikit ragu seorang Calvin mencoba menetralisir keadaan dirinya sendiri kemudian menekan nada panggil nama Vannesa pada ponsel itu, keraguan kembali muncul saat nada sambung sudah terdengar, apapun yang akan dikatakan seorang Vannesa Calvin harus siap mendengarkan..
Sedikit tersentak begitu nada sambung terjawab, sangat jelas suara Vannesa bercampur dengan tangisan dan terdengar sangat panik dan ketakutan..
"Calvin.. Ibu..!! Calvin.." suara wanita cantik itu di kuasai oleh tangisan sehingga membuat kata-kata Vannesa terdengar tidak jelas..
__ADS_1
Sementara jantung Calvin berdetak tidak beraturan, pemuda itu fokus mendengarkan apa yang telah terjadi..
"Tenangkan diri kamu Vannesa..! tarik nafas panjang, yang tenang, kuasai diri kamu kemudian ceritakan apa yang telah terjadi..?"
Vannesa mengikuti arahan itu
"Ibu..! Calvin, Ibu jatuh pingsan dan masuk rumah sakit saat mendengar mas Daniel telah meninggal dunia.."
Calvin merasa sangat terkejut, pemuda itu merasa telah mengabaikan ajakan seorang Vannesa untuk berkenalan dengan seorang ibu, kemudian menceritakan semua kejadian yang di alami oleh seorang Mr. Daniel hingga meninggal dunia..
Calvin seketika menjadi lemas, betapa kekhilafan itu seperti pukulan telak terhadap dirinya, mereka seolah lupa bahwa mereka seharusnya sudah menceritakan tragedi yang merenggut nyawa Mr. Daniel kemudian memohon restu bahwa mereka akan melangsungkan sebuah pernikahan..
"Vannesa..!" kini suara Calvin terdengar sedikit bergetar
"Semua ini salah aku Vannesa..! aku sudah berlaku tidak adil sama kamu.. seharusnya aku mendengarkan ajakan kamu waktu itu untuk bertemu dengan seorang Ibu.." suara itu terdengar sangat terpukul seolah menahan sesal dan menyalahkan diri sendiri..
"Jangan berkata seperti itu Calvin, aku yang bersalah karena ibu justru mendapatkan berita itu dari orang lain.." ucapan itupun terdengar penuh sesal
"Kita Vannesa..! Betapa cerobohnya kita karena terlalu fokus dengan masalah Nur aini.."
Calvin tak ingin terlalu dalam merasa bersalah terhadap keluarga Vannesa terutama terhadap seorang Ibu yang telah jatuh sakit, Calvin jadi mengerti dengan sikap Vannesa di Basecamp Building yang terlihat tergesa-gesa sambil mengeluarkan air mata..
"Calvin.." ucap Vannesa yang diujung telepon itu
"Aku bermaksud memberitahumu tadi di kantor, namun aku pikir kamu belum datang, karena itu aku jadi terburu-buru, sekarang aku sudah berangkat Calvin hanya berdua saja dengan driver sholeh.."
"Bagaimana dengan Vannia, sayang..?" potong Calvin mengkhawatirkan gadis kecil itu..
Seketika Vannesa merasakan ketenangan batin saat mendengar kata sayang dari seorang Calvin, betapa sesungguhnya sudah lama sekali Vannesa tidak mendengar kata-kata sayang dari pemuda yang sangat dicintainya itu..
Namun Vannesa sangat ingin sekali Calvin menyusul dirinya pergi bersama Vannia..
"Vannia..!" ucap Vannesa kemudian terdiam, seolah mengisyaratkan Calvin untuk mengajak Vannia pergi menyusul dirinya..
"Baiklah Vannesa.. aku mengerti..! Aku akan menelepon driver agung untuk menyiapkan segala sesuatunya, aku akan pergi bersama Vannia untuk menyusul kamu.."
Driver agung merupakan driver yang dikhususkan untuk keperluan Vannia dan juga kebutuhan keluarga..
__ADS_1
"Tidak perlu Calvin, aku telah memerintahkan driver agung dan suster maria untuk segera menyiapkan keperluan Vannia selama di rumah Ibu kemudian menjemput kamu di kantor.."
Calvin terhenyak, betapa sesungguhnya Vannesa seperti telah lama mengharapkan Calvin untuk segera bertemu Ibu, dalam situasi darurat seperti ini saja seorang Vannesa bahkan bisa kepikiran untuk mengatur semuanya, Calvin merasa sangat bersalah, Calvin merasakan keegoisan tingkat tinggi karena benar-benar lupa dan seolah benar-benar telah mengabaikan ajakan Vannesa waktu itu..
Calvin menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya dengan perlahan..
"Baiklah Vannesa.. baiklah, aku mengerti.. maafkan aku sayang, aku lalai.." lirih Calvin menyesali diri
Sementara seorang Vannesa sangat bahagia sekali mendengar keinginannya dipenuhi oleh seorang Calvin..
"Terima kasih, Calvin.. terima kasih, sayang.." ucap Vannesa yang mulai merasakan ketenangan hati yang luar biasa..
Calvin merasa bersalah atas keadaan yang dialami Ibunya Vannesa saat ini, jika saja waktu itu Calvin menuruti keinginan Vannesa untuk segera bertemu dengan seorang Ibu mungkin semua masalah ini tidak ada..
Calvin termenung menyesali diri, betapa sesungguhnya ke egois an itu membuat dirinya tidak peka terhadap Vannesa dan juga keluarganya terutama seorang Ibu..
"Tok tok tok.."
Calvin tersentak..! sesungguhnya suara ketukan pintu itu membuyarkan semua lamunan Calvin..
"Maaf Mr. Calvin..!" ucap seorang Cindy setelah membuka pintu ruangan itu..
"Ada apa Cindy..?"
"Vannia.. Mr. Calvin.."
"Papaaa..!" teriak Vannia sambil berlari ke arah seorang Calvin
"Vannia, sayang..!" ucap Calvin segera menghampiri dan langsung meraih tubuh kecil itu kemudian menggendongnya..
"Papa, mama bilang papa pergi bersama Vannia untuk menyusul mama ke rumah oma.."
Calvin mendengarkan kata-kata itu seperti telah di beritahukan oleh Vannesa, jika saja Calvin belum ada komunikasi dengan Vannesa tentu kata-kata Vannia inilah yang akan menyadarkan kekhilafan seorang Calvin..
Calvin mencium hangat kening gadis kecil itu, betapa sebenarnya Calvin sangat merindukan Vannia..
"Iya sayang, kita berangkat sekarang.." ucap halus Calvin
__ADS_1