Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 19


__ADS_3

Nur aini sebenarnya sudah lama menyukai Calvin namun setelah Calvin menikah, Nur aini terlihat sangat kecewa, namun setelah tahu Calvin bercerai, perasaan aini timbul kembali terhadap calvin, Nur aini sangat senang dan tak peduli dengan status Calvin sebagai duda..


"Aini.. " ucap Calvin datar


"Dari dulu sebenarnya aku hanya menganggap kamu seorang adik, tidak lebih.. aini, aku menyukai kamu terlebih aku juga sayang sama kamu.. tapi sayang aku hanya sebatas seorang kakak..! tidak lebih dari itu.." Calvin mencoba mengatasi situasi


"Mengertilah..! selama hati aku tidak cinta, kita tidak mungkin bersama.. apakah kamu tega, dan apakah harus memaksakan kehendak seseorang yang sebenarnya dia tidak menginginkannya..?" Calvin berusaha menenangkan diri pemuda itu tahu kata-katanya akan membuat aini terluka


mata gadis cantik itu mulai berkaca-kaca, betapa hancur perasaannya mendengar pernyataan seperti itu dari orang yang sangat di cintanya..


"Apa yang sebenarnya telah terjadi..? Calvin.." aini meneteskan air mata


"Aini mengira calvin sudah menyetujui perjodohan ini, kenapa Calvin tidak menolak dari kemarin.. di saat ayah datang dan membicarakan dengan ibu Calvin, kenapa Calvin tidak menolaknya..? kenapa Calvin..?.." aini menangis


"Aku takut aini.." sambung Calvin


"Aku takut penyakit ibu kambuh, aku takut ibu kembali dirawat dirumah sakit, aku takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan ibu.." aini menyeka air matanya kemudian mencoba untuk tegar dan menerima kenyataan


"Calvin.." suara aini terdengar sedikit bergetar


"Apakah ada wanita lain..?"


gadis itu memperhatikan Calvin..


Calvin mengangguk perlahan, gestur itu telah menghancurkan impiannya untuk menjadi istri seorang Calvin.. aini kembali mengeluarkan air mata..


"Aini sangat mencintai Calvin.." suaranya lembut terdengar samar-samar


"kenyataan ini sangat sulit untuk bisa aini terima.." aini memandang lembut wajah Calvin, penuh dengan makna kemudian melanjutkan kembali kata-katanya


"Aini juga tidak mau memaksakan kehendak seseorang, aini lah yang harus terpaksa untuk mengerti keadaan orang itu.. semua ini adalah rasa cinta aini terhadap seseorang itu dan merelakan dia bersama wanita lain.. aini anggap ini sebagai pengorbanan cinta aini terhadap orang itu.. Pergilah Calvin..!!


bahagia Calvin adalah bahagia aini juga.."


tangisan aini meledak setelah melepaskan pernyataan yang sangat berat itu.. aini bangkit, kemudian meninggalkan Calvin seorang diri


Betapa tersentuhnya Calvin mendengar pernyataan itu, Calvin hanya bisa melihat langkah itu semakin jauh, semakin jauh dan hilang dari pandangan..

__ADS_1


Calvin merasakan setelah kejadian itu dan aini menceritakan kepada sanga ayah, tentu dia akan di sidang didepan ayah Nur aini dan juga ibunya sendiri, Calvin sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk dijadikan bahan jawaban..


"Calvin.." panggil seorang ibu dari ruang tamu rumahnya, Calvin menghampiri dan merasakan bahwa sang bunda akan membahas kejadian kemarin dengan Nur aini, Calvin menatap ibunya penuh dengan keseriusan..


"Kurang dari dua bulan dari sekarang adalah pernikahan kamu dengan Nur aini.. kamu persiapkanlah segala sesuatunya.."


Calvin kaget, ternyata ibu belum mengetahui peristiwa itu.. sejenak Calvin memikirkan, 'apakah aini tidak menceritakan kejadian kemarin kepada sang ayah..'


'aahh..! rasanya sulit bisa dipercaya, apakah aini mencoba untuk melindungi aku dari paksaan orang tua ataukah aini berusaha untuk tetap melanjutkan pertunangan ini..' sekilas ungkapan yang berada di benak pemuda itu


Calvin tidak menjawab pertanyaan sang bunda, pemuda itu hanya mengangguk kecil di depan ibunya..


Calvin berusaha untuk jujur pada sang bunda namun Calvin tak mampu..


"ibu.." ucap Calvin datar


"Calvin akan pergi ke kota untuk beberapa hari.." Calvin bertekad untuk menemui Vannesa, jika aini terlebih dahulu menceritakan ke ayahnya, tentu saja kepergian Calvin untuk menemui Vannesa bisa gagal..


"Jika keperluan kamu ke kota bagian dari rencana pernikahan kamu dengan Nur aini, maka pergilah.."


Calvin mempersiapkan diri untuk berangkat ke kota, pemuda itu telah melepas janji.. selalu terngiang akan suara Vannia, betapa Calvin mencemaskan kondisi anak itu.. sementara Calvin seperti telah berhutang budi pada Vannesa karena telah menyelamatkan nyawa sang bunda


"kakak..!" Vivi menghampiri sang kakak ketika Calvin sudah berada di luar rumah bersiap untuk berangkat


"Apakah boleh Vivi cerita kan ke ibu tentang yang sebenarnya mengenai kakak Vannesa..?" Vivi sangat mengerti dilema yang di alami kakaknya, Vivi tidak tega melihatnya..


Vivi telah mengerti semua tentang kondisi Vannesa dan menganggap bahwa seorang Vannesa lah yang seharusnya menjadi pendamping kakaknya, karena Vannesa merupakan dewa penyelamat bagi keluarga itu..


Calvin sudah menceritakan semua ke adik kesayangannya itu, karena vivi selalu mengerti kondisi kakaknya


"Jangan Vivi..!" pinta sang kakak


"Jangan buat ibu jadi sakit kembali..tolong jangan lakukan itu vivi..kakak takut terjadi apa-apa dengan ibu!!"


Vivi hanya bisa mengangguk, menuruti perintah kakaknya


Di dalam perjalanan menuju kota, Calvin dipenuhi perasaan bersalah.. baik kepada Vannesa maupun aini, Calvin hanya ingin yang terbaik tanpa harus menyakiti perasaan orang yang dia sayangi..

__ADS_1


Calvin keluar dari taksi yang berhenti tepat di depan rumah besar dan megah itu.. seorang satpam sangat kaget melihat satu sosok yang sangat dikenal dan dihormatinya..


"Selamat siang Tuan Daniel.." satpam joko memberi salam dan membukakan gerbang yang tampak megah untuk pemuda yang dianggapnya Mr. daniel itu..


"selamat siang pak joko.." Calvin memasuki rumah besar itu, melangkah masuk dan melewati taman utama yang dihiasi kolam air mancur ikan koi..


"ppapaaaaa.." seorang anak kecil berlari kearahnya penuh dengan kebahagiaan.. Calvin meraih tubuh mungil itu, mengangkat dan mencium penuh kehangatan


"Papa kenapa lama sekali, Vannia kangen.."


"iya sayang, Vannia lihat.. papa bawa apa.." Calvin menunjukan harmonika yang sempat diminta Vannia sewaktu Calvin akan pergi


"Harmonika..!" teriak Vannia manja, terimakasih papa


"muuaaahhhhh.."


Calvin tersenyum kemudian menggendong Vannia memasuki rumah itu..


Sementara Vannesa sudah berangkat ke kantor.. semenjak laporan team audit yang belum bisa Vannesa terima, karena terkendala instruksi dan protokoler perusahaan..


"Nona Vannesa.." kata pak Robert khawatir


"Apakah yang membuat kami tidak bisa bertemu dengan Mr. Daniel.." lanjutnya setelah gagal bertemu dengan Mr. Daniel dihari yang di janjikan Vannesa


"Pak Robert.." suara Vannesa tegas


"Biarkan saya sendiri yang akan menyampaikan dokumen audit itu ke suami saya.." Vannesa mengatakan hal yang sama berulang kali


"Kami tidak bisa berada di luar instruksi nona Vannesa, ini protokol yang harus kami patuhi.." jawab pak Robert


Vannesa terus berpikir, mengupayakan agar instruksi dan protokoler itu bisa berada dalam kekuasaannya, Vannesa harus mengatur cara agar bisa mengubah.. mengingat tidak mungkin menghadirkan seorang yang telah meninggal


Dalam peraturan perusahaan yang diterbitkan didalamnya mengandung tata tertib. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keselarasan dan menghindari konflik..


Setiap peraturan yang dibuat memuat jangka waktu berlaku. Jangka waktu ini berisi penjelasan bahwa peraturan perusahaan bersifat mengikat..


Tidak mungkin Vannesa bisa menembus batas kewenangan suaminya, langkah Apa yang harus wanita itu lakukan.. sementara Calvin tidak mungkin bisa Vannesa hadirkan sebagai pengganti Mr. Daniel karena Vannesa sendiri juga telah melupakan pemuda itu..

__ADS_1


__ADS_2