
Calvin merasa tenang setelah mengetahui bahwa aini telah di tangani oleh Dokter terbaik di kota, namun rasa bersalahnya seperti melekat dalam diri pemuda itu, Calvin sangat tidak percaya seorang aini bisa berbuat nekat seperti itu..
Rasa nya tidak mungkin dia bisa bersanding bersama Vannesa, itu sama seperti dia berbahagia di atas penderitaan seseorang..
"Calvin..!" ucap sang bunda diruang tamu rumahnya
"Kenapa kamu tidak memberitahukan ke ibu soal Vannesa disaat ibu dan ustadz jafar pertama kali membahas dan menjodohkan kamu dengan Nur aini..?" ada segumpal sesal dalam hati bu Nurul, karena tidak mungkin bu Nurul menjodohkan Calvin dengan Nur aini jika saja Bu Nurul mengetahui yang sebenarnya tentang Vannesa..
"Calvin hanya tak ingin membuat ibu kecewa.."
Sang bunda kini menyerahkan semua ke Calvin, apapun keputusan Calvin sekarang sang bunda akan merestuinya.. sementara Calvin tak bisa mengambil keputusan dalam situasi seperti ini, satu sisi pemuda itu merasa Vannesa telah banyak berkorban untuk Calvin dan keluarganya, namun juga seorang Vannia yang sudah terlanjur disayangi Calvin, sementara di lain sisi seorang Calvin tidak mungkin sia-siakan seorang aini, pemuda itu tak ingin aini sampai nekat mencelakai dirinya sendiri, atau bahkan sampai meninggal dunia..
Ponsel darurat Calvin bergetar di dalam kantong celananya, Calvin meraih ponsel itu..
'Vannesa..' terucap dalam hati, pemuda itu seperti terlihat canggung saat akan menjawab panggilan itu di depan sang bunda..
"Tidak perlu canggung Calvin, terimalah panggilan itu.." ucap sang bunda memahami..
Calvin berusaha tenang kemudian mendekatkan ponsel itu ketelinganya.. raut wajah pemuda itu seketika berubah, mendengar tangis dari seorang Vannesa..
"Ada apa Vannesa.." ucap Calvin dengan wajah panik
"Vannia calvin.."
"Vannia..? ada apa dengan Vannia..? Vannesa..!!" Calvin serba salah, sementara sang bunda mendengarkan dengan mimik serius..
"Vannia masuk rumah sakit..!! Calvin, Vannia sakit..!" tangis Vannesa semakin menjadi
"Vannia masuk Rumah Sakit..!!" ulang Calvin setengah berteriak
__ADS_1
"Vannesa, tenang.. tenang Vannesa..!!" Calvin berusaha menenangkan
"Baiklah, Vannesa..! sekarang juga aku ke sana..! kamu yang tenang.."
Calvin mengakhiri panggilan ponselnya, kemudian menatap sang bunda penuh dengan kecemasan, sang bunda sangat memahami keadaan Calvin dalam situasi seperti ini..
"Pergilah Calvin.. ibu merestui kamu..!"
"Terima kasih ibu.." ucap Calvin sambil mencium tangan sang bunda..
"Sebentar Calvin..!" ucap sang bunda sebelum kepergian Calvin, kemudian sang bunda mengambil sebuah benda yang selama pertunangan dengan aini benda itu di simpan sang bunda atas permintaan ustadz jafar dan di setujui oleh Bu Nurul sebagai bentuk konsistensi pertunangan mereka..
"Ponsel ini ibu kembalikan, sekarang kamu bebas menentukan kemana arah masa depan kamu.." Calvin merasakan sebagian hidupnya kembali..
"Terima kasih ibu.." Calvin memeluk tubuh itu dengan hangat kemudian berlalu dari hadapan sang bunda..
Rumah Sakit County Internasional yang terletak di kawasan Candile County Business Distrik, salah satu rumah sakit dengan pelayanan dan perawatan terbaik.. memiliki semua fasilitas.. Facilities & Services meliputi, Rawat Inap, Rawat Jalan, Medical Check Up, Layanan 24 Jam, Pusat Diagnostik, Fasilitas Pendukung, Center Of Excellence, Woman and, Children Center, Trauma Center, Cardiac Center dan tentunya Dokter-dokter terbaik tingkat lokal dan internasional..
Rumah sakit ini merupakan rumah sakit favorit bahkan untuk golongan kelas bawah sekalipun, walaupun mahal, namun tidak menjadikan pembayaran sebagai prioritas awal dan memiliki Dokter-dokter terbaik di bidangnya namun juga terkenal sangat ramah..
"Nona Vannesa.." seorang Dokter menerangkan keadaan Vannia, di bangsal VIP rumah sakit County Internasional
"Infeksi yang sering kali menjadi penyebab anak menderita demam tinggi adalah infeksi akibat bakteri dan virus. Penyakit infeksi yang dapat menyebabkan demam tinggi pada anak, antara lain adalah flu, roseola, radang amandel, infeksi telinga, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), infeksi ginjal, infeksi saluran kemih"
"Dokter..!" potong Vannesa
"Vannia hanya mengalami demam biasa dokter, ada satu hal yang tidak bisa saya katakan terkait penyebabnya.. tp mungkin itu alasannya, di samping itu saya juga tetap waspada jika asumsi saya salah.. itulah alasan saya bawa Vannia kesini.." ucap Vannesa yakin demam tinggi Vannia hanyalah rindu akan kehadiran Calvin, sosok yang di anggap papa itu telah berhasil menjadi sosok papa seutuhnya sebagaimana tidak pernah didapatkan dari seorang Mr. Daniel..
"Lakukan saja langkah observasi lanjutan dokter.." pinta seorang Vannesa
__ADS_1
"Baiklah nona Vannesa, baiklah kalau memang itu yang menjadi keinginan nona Vannesa.."
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dengan pikiran yang dipenuhi kecemasan akan kondisi Vannia, Calvin tidak merasa kelelahan sama sekali..
pemuda itu terlihat menunggu kedatangan driver sholeh di gerbang terminal bus antar kota antar propinsi, setelah sebelumnya Calvin telah menelpon driver itu untuk segera menjemput dirinya.. tak menunggu waktu lama sebuah mobil mewah warna hitam persis berhenti tepat dihadapan Calvin.. pemuda itu masuk ke mobil secara buru-buru setelah pintu mobil terbuka secara elektrik..
"Selamat Sore Tuan Daniel.." sapa driver sholeh, sebenarnya seorang driver sholeh sangat bingung, apa yang telah dilakukan oleh pemuda yang di anggapnya Mr. Daniel itu di terminal ini.. namun tanya itu hanya terpendam dalam hati driver sholeh dan tak bisa diutarakan..
"Kita harus cepat sampai di Rumah Sakit.." ucap Calvin dengan nada penuh ke khawatiran
"Baiklah tuan Daniel.. baik..!" mobil itu berjalan cukup cepat langsung menuju Rumah Sakit tempat Vannia dirawat,
Calvin merasa cukup lega karena jalanan terlihat lengang seperti ini dan seolah mengerti dengan keadaan Calvin karena tak terlihat padat sama sekali..
Namun wajah Calvin terlihat kembali tegang tak kala teringat sosok gadis kecil itu dan takut terjadi apa-apa terhadap Vannia, gadis kecil cantik yang selalu memanggilnya papa itu..
Setelah memasuki kawasan Candile County Business Distrik, mata Calvin kembali terpancar ketakjuban untuk yang kedua kalinya, saat pertama kali masuki area ini menggunakan taksi menuju Basecamp Building, sewaktu pertama kali bertemu dengan seorang Vannesa, wanita cantik yang kini telah tersemat di dalam hatinya..
"Kita telah sampai Tuan.." suara driver itu membuyarkan lamunannya, Calvin tampak sangat takjub, Rumah Sakit ini begitu besar dan mewah..
Calvin keluar dari kendaraan itu langsung menuju lobby utama dan masuk kedalam, sempat bingung dimana Ruangan tempat gadis kecil itu di rawat..
"Mr. Daniel..!" suara seorang laki-laki menyapa tak percaya atas kehadirannya setelah sekitar tujuh tahun terakhir tidak pernah datang ke Rumah Sakit ini..
Calvin menatap arah suara itu, Seorang dengan jubah Dokter kini persis berada dihadapannya.. siapa gerangan dokter ini, Calvin sedikit tampak bingung..
"Apa kabar Mr. Daniel..?" sambungnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman
"Baik.. baik, Dokter apa kabar..?" balas Calvin sambil bersalaman
__ADS_1
"Saya baik-baik saja Mr. Daniel.."
"Apa yang membuat Mr. Daniel datang secara tiba-tiba ke Rumah Sakit ini." ucap Dokter dengan senyum ramahnya