
Sebuah mobil memasuki rumah besar nan megah..
seorang Vannesa keluar yang disambut bi ina, suster maria dan satpam joko..
"Selamat sore nona Vannesa.." hormat mereka dengan menundukkan setengah badannya..
Vannesa tampak lelah setelah hampir seharian bergelut dengan permasalahan, wanita itu hanya ingin memulihkan kondisi tubuhnya.. Vannesa melirik ke kanan dan ke kiri, tak melihat gadis kecil yang biasanya selalu menyambutnya pulang..
"Vannia..! suster maria, mana Vannia.."
"Maaf nona Vannesa.. non Vannia sama Tuan daniel di atas.."
Vannesa tersentak, nyaris ponsel dan tasnya terjatuh, wajahnya langsung terlihat bias dengan tatapan tidak percaya
"Mas daniel..?"
"Betul nona Vannesa.." satpam joko memberitahu
"Tuan Daniel tiba tadi siang, menggunakan taksi, maaf..!!"
Vannesa tampak langsung ke lantai dua rumahnya, sangat tidak mungkin kemudian wanita itu ingin memastikan kebenaran ucapan pekerjanya..
Sangat jelas suara keceriaan Vannia bersama Calvin terdengar ditelinga Vannesa sebelum Vannesa dapat melihat ke dua sosok itu..
Vannesa tampak berdiri terdiam persis didepan pintu kamarnya sendiri, tampak ragu untuk masuk dan bertemu dengan Calvin, Vannesa terngiang ucapan Allisa yang memberitahu bahwa Calvin sudah bertunangan..
"Iya Vannesa, setelah ibunya keluar dari rumah sakit dan mendengar kabar bahwa Calvin telah bercerai.. ibunya sangat kecewa, sementara aku dan Calvin hanyalah perjodohan sepihak antara aku, keluargaku dan Calvin.. karena perjodohan kami terjadi disaat Calvin dalam proses perceraian sementara ibunya masih dirawat di rumah sakit..
kemudian singkat cerita ibu Calvin menjodohkan Calvin dengan wanita anak seorang ustadz dari pondok pesantren, mungkin karena ibu Calvin seorang ustadzah... kemudian setelah perjodohan itu Calvin dan ibunya pindah rumah.."
Vannesa sangat tidak percaya dengan kehadiran Calvin dirumah ini.. 'apakah aku salah menilai Calvin, dia menepati janjinya untuk datang ke sini walaupun dia sudah bertunangan'
Calvin datang untuk Vannia..
Vannesa membuka perlahan pintu kamarnya, tampak jelas melihat Vannia melompat-lompat ditempat tidur sambil tertawa penuh dengan keceriaan, sementara Calvin terlihat menjaga Vannia agar tidak terjatuh ke lantai..
"mamaaaa..!" Vannia berteriak memanggil mamanya setelah melihat Vannesa berdiri persisi dibelakang Calvin
gadis kecil itu ingin meraih Vannesa sambil melompat namun kakinya terselip selimut tebal, tubuh Vannia terjatuh kelantai namun belum sempat tubuh mungil itu mendarat kelantai Calvin dengan cepat meraih tubuhnya, hal yang sama reflek dilakukan Vannesa sehingga wajahnya persis menempel di mulut Calvin..
__ADS_1
Jantung Vannesa berdetak kencang, grogi.. sementara calvin juga merasakan hal yang sama, mereka bangkit secara bersamaan dengan tubuh mungil Vannia berada di pelukan Calvin..
"Vannesa.." sapa Calvin
"Calvin.." bisik Vannesa halus
mereka saling pandang dengan tatapan penuh arti sebelum akhirnya tersadar dengan ucapan Vannia..
Vannesa merasakan gairah secara tiba-tiba, rasa lelah dan sumpeknya permasalahan perusahaan mendadak hilang, magic seorang Calvin membawa Vannesa dalam ketenangan hati yang luar biasa.. Vannesa merasakan lagi kebahagiaan itu, bukan hanya seorang Vannesa melainkan semua pekerja di rumah itu.. seakan mereka semua merestui jika Vannesa hidup berdampingan dengan calvin..
'Namun tunangan itu..' kenang Vannesa
'anak seorang ustadz yg dijodohkan dengan Calvin..' wajah Vannesa terlihat murung..
"Vannesa.." suara Calvin membuyarkan lamunan seorang Vannesa, wanita itu sengaja menunggu Calvin di balkon lantai dua rumah itu setelah Vannia tertidur malam..
"Calvin.." balas Vannesa lembut
"Maaf atas keterlambatan aku datang ke sini.." Vannesa hanya diam menunggu, apa yang ingin di bahas pemuda itu, Vannesa berharap Calvin menceritakan yang sebenarnya tanpa harus menyakiti hati Vannesa.. wanita itu memandang lembut wajah Calvin, pancaran mata seperti itu merupakan pancaran sebuah harapan..
"Aku tidak bermaksud membuat Vannia kembali merasa kehilangan sosok papa.."Calvin diam sejenak dan terlihat seperti memikul beban yang sangat berat.. diantara Vannesa, Nur aini dan juga orang tua..
Vannesa meneteskan air mata..
"Jangan menangis Vannesa, kesedihan kamu bisa membuat dilema aku semakin kalut.."
"Calvin.." ucap Vannesa lembut
"Aku sudah tahu semuanya.." Calvin tampak tak mengerti
"Apa maksud kamu..? Vannesa.." tanya Calvin
"Hanya satu harapan aku Calvin, tetaplah berkunjung kesini sampai aku mampu menjelaskan kepada Vannia, sampai Vannia mengerti bahwa kamu bukanlah papanya.." Vannesa kembali meneteskan air matanya
"Aku tidak mengerti arah bicara kamu, Vannesa.." ucap Calvin heran
"Menikahlah kamu dengan wanita pilihan orang tua kamu..!" ucap Vannesa mengambil keputusan, sementara Calvin tampak tak percaya..
"Vannesa..!" Calvin memegang kedua tangan Vannesa, namum Vannesa menarik tangannya
__ADS_1
"Jangan kecewakan orang tua kamu, jangan buat ibu kamu menderita karena keputusan kamu yang keliru.."
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku dijodohkan.." ucap Calvin tak percaya
"Iya Calvin, hari itu aku kesana mencarimu.. hingga ke rumah yang sudah tampak kosong karena sudah pindah, lalu aku bertemu Allisa dan mendengar bahwa kamu dijodohkan ibumu dengan anak seorang ustadz dari pesantren Tahfiz Qur'an.. sejak saat itu sebenarnya aku sudah melupakan kamu, namun aku bingung menghadapi Vannia, seorang anak yang masih polos, yang masih belum mengerti jika papanya sudah meninggal dunia.." Vannesa tampak tegar, Vannesa tak ingin merampas kebahagiaan orang lain..
Calvin tidak ingin pergi dari kehidupan Vannesa, pemuda itu lebih ingin bersama Vannia dan menjadikan Vannesa seorang istri..
"Aku mencintai kamu.. Vannesa.."
"Tidak Calvin.." jawab Vannesa lembut
"Cinta kamu adalah semu, sayang kamu hanyalah karena kasihan.. Kamu bahkan tidak mengenal aku dan keluargaku, pergilah Calvin, menikahlah dengan orang yang menjadi pilihan ibu kamu.."
"Aku mencintai kamu Vannesa, apakah kamu tidak mencintai aku.. jawab Vannesa, kenapa kamu tidak mengerti dengan kondisi aku.."
"jawab Vannesa, katakan kalau kamu tidak mencintai aku..!"
Vannesa tak menjawab, namun air matanya kembali membasahi pipi.. Vannesa tak berani menatap Calvin, wanita itu sebenarnya tak bisa menahan beban hatinya bahwa dia juga mencintai Calvin
Calvin tampak berdiri, pikiran sudah tidak menentu.. pemuda itu berpikir bahwa Vannesa hanyalah sebuah kenangan.."
"Baiklah Vannesa, aku akan penuhi permintaan kamu, anggap itu bentuk cinta aku terhadap kamu, Vannia dan keluarga ini.. aku akan datang untuk Vannia sampai Vannia mengerti tentang kondisi yang sebenarnya.."
"Calvin..! ucap Vannesa lirih
"Selamat tinggal Vannesa.."
Calvin melangkah meninggalkan Vannesa, pemuda itu tampak sedih dan tak tau harus berbuat apa lagi meyakinkan Vannesa.. sejenak Calvin berhenti dan menatap kamar tempat Vannia tertidur pulas kemudian melangkahkan kakinya kembali untuk pergi dari kehidupan seorang Vannesa..
Sementara Vannesa terlihat histeris, wanita itu tak mampu membohongi dirinya sendiri.. tangisnya semakin menjadi kemudian dia bangkit sambil berteriak manggil Calvin
"Calvin..!!!" Vannesa berlari menghampiri pemuda itu dengan derai air mata
"Aku mencintai kamu.."tangisan Vannesa pecah
"Aku mencintai kamu.. jangan pergi, aku tak mampu kehilangan kamu.."
Calvin berlari menghampiri Vannesa kemudian memeluk erat tubuh wanita itu..
__ADS_1