Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 53


__ADS_3

"Mas Daniel..!!? kakak..!! Apakah Nilam tidak salah lihat..?!!" seketika bergetar tubuh seorang seorang Nilam menyaksikan orang yang telah meninggal dunia itu tampak sehat wall Afiat melangkah berjalan mendekati mereka..


"Mas Daniel..!" lirih seorang Nilam tak percaya


"Kak Vannesa..! jelaskan kepada kami apa yang telah terjadi..?" Hati kecil Nilam berkecamuk tak menentu atas apa yang jelas terlihat di depan mata itu, kini.. sosok itu semakin mendekat dan jelas terlihat bersama seorang gadis kecil Vannia yang sangat mereka kenal..


Terbelalak lebar mata seorang Nilam dengan mulut sedikit menganga menyaksikan sosok yang telah meninggal dunia itu semakin mendekat ke arah mereka, tak bisa di percaya..!


Tak jauh berbeda dengan apa yang di alami seorang Panji, jantungnya berdetak tidak beraturan, kakinya seolah tak mampu untuk di gerakkan..


"Allahu akbar..!!" teriak adik bungsu itu sangat tidak mempercayai apa yang sedang dia lihat..


"Kak Vannesa..! Apa maksud dari semua ini..?!!" ucap seorang Panji tak mengerti


"Bukankah Mas Daniel telah meninggal dunia..!!? kak Vannesa, tolong jelaskan kepada kami..??!"


Vannesa gelagapan, seketika Vannesa tersadar bahwa sesungguhnya sosok Calvin akan mengagetkan ke dua adiknya itu, seorang Vannesa terlihat sangat panik dengan bibir sedikit bergetar, bingung apa yang harus dia katakan, Vannesa seperti kehilangan kata-kata terhadap sikap terkejut Nilam dan juga Panji..


"hhmmm.. ppanji,. eehhmm nnillaamm..!!?"


Kedua adik itu menatap heran wajah panik seorang kakak, kemudian melihat sosok itu kembali semakin mendekat..


Sementara Vannia tampak melepaskan genggaman tangan yang di tuntun seorang Calvin, dan berlari kearah Vannesa setelah melihat dengan jelas sosok sang mama disana, Vannesa meraih tubuh itu kemudian menggendongnya penuh dengan kasih sayang, sementara kedua orang perawat yang mengantarkan memohon izin untuk kembali kepada Calvin setelah tujuan mereka tercapai..


Vannesa memandang lembut wajah seorang Calvin, rasa rindu itu mengalahkan semua kepanikan yang dirasakannya, Vannesa seolah mendapatkan kembali sesuatu yang seolah menghilang saat wajah itu tersenyum memandang dirinya..


Terakhir mereka bersama di saat mereka mencoba menemui seorang Nur aini dirumah sakit, walaupun pada akhirnya Vannesa merasakan tekanan batin yang sangat luar biasa karena tak tega dengan apa yang di alami seorang Nur aini..

__ADS_1


"Calvin..!" ucap lembut seorang Vannesa tersenyum manis memandang wajah itu penuh dengan perasaan cinta..


"Terima kasih atas kedatangan kamu disini.."


Sebenarnya Calvin merasa bersalah, karena seolah lalai dengan ajakan seorang Vannesa untuk datang menemui Ibu, hingga akhirnya seorang Ibu terbaring lemah di rumah sakit ini..


"Aku yang bersalah Vannesa..! aku lalai..! Maafkan aku, sayang.."


"Jangan katakan maaf Calvin, tidak ada yang perlu dimaafkan.."


"Tp Vannesa..!"


"ssstttt..!" ucap Vannesa sambil meletakkan telunjuknya dekat dihadapan Calvin..


Kemudian Vannesa meraih tangan Calvin dan menggandeng tangan itu memasuki ruang tunggu VVIP dengan seorang Vannia dalam gendongan seorang mama..


"Nilam..! Panji..!" ucap Vannesa di samping seorang Calvin dan berdiri persis di hadapan Nilam dan juga Panji yang masih tampak tak percaya dengan mulut sedikit menganga,


mereka tak mengeluarkan kata-kata selain tatapan bengong terhadap wajah yang sangat mereka kenali itu.. mereka sangat menantikan penjelasan dari seorang kakak karena mereka menganggap bahwa yang mereka saksikan itu adalah benar sosok mas Daniel..


"Maafkan kakak atas kebingungan kalian, inilah sebenarnya yang membuat kakak menunda memberikan kabar yang sebenarnya tentang meninggalnya Mas Daniel.." Vannesa kemudian melangkah mendekati Nilam dan Panji kemudian melanjutkan kembali kata-katanya


"Saat kakak terakhir pulang hanya bersama Vannia, sebenarnya saat itu kakak ingin memberitahukan Ibu bahwa Mas Daniel telah meninggal dunia, tapi kakak bertemu dengan seseorang yang sangat mirip sekali dengan almarhum Mas Daniel, hingga kakak menunda memberitahukan ibu.. Kakak penasaran dan ingin tau sebenarnya siapa pemuda itu.."


Vannesa menceritakan sesaat setelah bertemu Calvin, betapa situasi yang membuat dirinya tak percaya, gemetar bahkan nyaris membuat dirinya tak mampu menguasai keadaan saat itu..


"Sama persis seperti kalian saat ini.. Tak percaya..! Tapi Inilah kenyataannya, bahwa apa yang kakak saksikan saat itu bukan sosok mas Daniel..!" ucap Vannesa sambil tersenyum menatap seorang Calvin yang masih tampak berdiri dihadapan mereka..

__ADS_1


"Seorang Mas Calvin, pemuda yang sangat baik hati.. pemuda pintar dan juga perhatian terhadap kakak terutama terhadap Vannia.." Vannesa melangkah kembali ke arah Calvin kemudian merangkul manja sebelah tangan Calvin..


"Panji..! Nilam..! kakak sangat mencintai mas Calvin dan jika sudah tidak ada lagi penghalang.. Kami akan menikah.."


Nilam dan Panji berangsur-angsur dapat memahami dan bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah sosok Mas Daniel, mereka seolah menyadari bahwa Mas Daniel tidak pernah berpenampilan seperti ini, Mas Daniel selalu terlihat berpenampilan mewah sedangkan sosok ini terlihat lebih natural dan apa adanya, sosok ini juga terlihat lebih sederhana, rendah hati dan terlihat sangat murah senyum..


walaupun sebenarnya masih tampak sulit untuk mereka pahami, sangat tidak mungkin mengingat bahwa wajah dan postur tubuh itu adalah seutuhnya menyerupai almarhum Mas Daniel..


Namun Panji seolah merasakan ada getir yang dirasakan seorang kakak itu saat mengucapkan kalimat terakhirnya..


"Apakah maksud kakak dengan mengatakan 'jika sudah tidak ada lagi penghalang'..?" tanya seorang Panji seolah menyetujui hubungan kakaknya dengan Calvin dan tak ingin pernikahan itu dihalangi oleh orang ketiga


Vannesa sekilas tampak murung, ada segumpal rasa bersalah atas apa yang menimpa seorang Nur aini, Vannesa hanya berharap suatu hari nanti asmara yang mereka jalani tak lagi terhalang sebuah dilema..


Calvin melihat raut wajah itu berubah sesaat setelah mendengar pertanyaan seorang Panji, Calvin tak ingin melihat itu, sesungguhnya Calvin ingin melepaskan seorang Vannesa dari bayang-bayang wanita lain..


"Maaf..!" ucap Calvin menyela percakapan itu


"Ada baiknya kita tidak usah membahas masalah ini, saat ini yang terpenting adalah, kita fokus terlebih dahulu untuk kesembuhan Ibu.." sambung Calvin penuh perhatian terhadap seorang Ibu yang saat ini dalam penanganan Dokter, walau bagaimana pun Calvin merasa harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan keinginan Vannesa untuk bertemu seorang Ibu, hingga akhirnya sosok itu terbaring lemah di Rumah Sakit ini..


jika saja saat itu Calvin menuruti permintaan Vannesa untuk bertemu dengan seorang Ibu, tentu masalah genting seperti ini tidak terjadi..


Panji dan Nilam sangat tersentak mendengar ucapan Calvin, betapa pemuda yang berada dihadapannya itu membuat mereka tersadar bahwa seorang Ibu saat ini sedang menjalani sebuah operasi, mereka kagum dengan perhatian itu karena sesungguhnya mereka sendiri seakan lupa jika seorang Ibu sedang menghadapi situasi genting..


"Kak Calvin.. terima kasih atas perhatian kakak ?" ucap Nilam yang merasa sudah lebih baik dari sebelumnya,


Sementara Calvin terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepala, Nilam sangat mengagumi sosok itu, kerena terlihat sangat murah senyum dan juga terlihat lebih sopan dan juga ramah..

__ADS_1


"Betul kak Calvin, Panji setuju..!! sejujurnya kami sangat terkejut dengan kehadiran kak Calvin karena sosok kak Calvin sangat mirip sekali dengan mas Daniel, jadi kami seolah lupa bahwa sekarang kami sedang berada dirumah sakit.."


__ADS_2