
"Calvin.." Vannesa menarik tangan Calvin disaat pintu VVIP itu akan dibuka
"Ada apa Vannesa..?" Calvin melihat ketegangan di wajah wanita yang disayanginya itu
"Biarkan aku akan menunggu di luar bersama Vannia.." Vannesa belum siap untuk bertemu dengan Nur aini, wanita itu seakan merasa bersalah karena seolah-olah telah merebut Calvin dari pertunangan mereka..
"Apa yang terjadi, sayang..?"
"Aku belum siap, Calvin.. tolonglah..!" Calvin menatap lembut wajah itu, memahami yang dirasakan seorang Vannesa
"Baiklah Vannesa.."
Sebenarnya Calvin pun belum begitu siap, pemuda itu tampak sedikit ragu, mengingat apa yang telah dilakukan seorang Nur aini terhadap dirinya sendiri karena merasa telah tersakiti oleh seorang Calvin.. pemuda itu merasa sangat bersalah..
Calvin membuka pintu itu secara perlahan, pemuda itu melihat sosok ustadz jafar membelakangi dirinya sedang berbicara serius dengan Nur aini, Calvin melangkah mendekat secara perlahan sedikit terdengar bahwa yang dibicarakan ustadz jafar terhadap anaknya itu mengenai dirinya dan juga beberapa kali menyebut nama seorang Vannesa,
Nur aini tampak sangat terpukul, air mata itu terlihat jelas mengalir deras diwajahnya yang tampak pucat namun masih terlihat kecantikan seorang Nur aini, kemudian perlahan mata itu melihat sosok pemuda yang sangat dicintainya mendekat.. terlihat tak kuasa membendung kesedihannya, Nur aini menatap sosok itu sambil menangis histeris yang tertahan..
Ustadz jafar merasa sedikit bingung kenapa Nur aini tiba-tiba sangat histeris, pria paruh baya itu menoleh kebelakang dan melihat kehadiran seorang Calvin seketika langsung menyadari situasi yang dialami oleh Nur aini..
Nur aini bangkit dari tempat tidurnya, mencabut semua selang infus yang masih melekat di tangannya kemudian berlari meraih tubuh Calvin dan memeluk sosok itu yang diiringi dengan histeris seorang Aini..
"Calvin.. Calvin..!!" tangisnya pecah di pelukan seorang Calvin, Nur aini sangat merindukan sosok itu, gadis itu tak sanggup jika harus berpisah dengan Calvin seperti apa yang telah diminta dan dikatakan oleh ayahnya..
"Kenapa Calvin..? kenapa semua ini harus terjadi.. Aini tak sanggup Calvin, Aini sangat mencintai Calvin.. jika harus berpisah Aini lebih baik mati.. Aini tak mau hidup dalam penderitaan.."
Calvin meneteskan air mata, pemuda itu terbawa suasana yang dialami gadis cantik Nur aini.. betapa seorang Calvin memahami kesedihan hati itu..
__ADS_1
"Kenapa Calvin..?! segitu teganya Calvin melakukan semua ini terhadap Aini.." gadis itu bertambah histeris, suara tangisannya terdengar sangat terisak seperti menahan sesaknya nafas dalam dada.. Calvin tak mengerti harus berbuat apa.. sementara Nur aini, terlihat seperti melompat-lompat sambil menahan sesak tangisannya,
Calvin menggosok-gosok punggung Aini, pemuda itu berusaha bisa menenangkan Aini, gadis itu terlihat sedikit tenang dengan suara yang telah berubah serak parau sambil menahan isak tangis, kata-katanya sedikit melemah..
"Aini sudah sangat sabar menunggu Calvin, ini adalah penantian panjang Aini terhadap Calvin.. sungguh bahagianya Aini mendengar perjodohan itu, perjodohan yang telah Calvin setujui, Aini merasa orang yang paling bahagia di dunia ini..
tapi kenapa Calvin..?" gadis itu terlihat memukul-mukul tubuh Calvin, kemudian tangisannya kembali pecah dan memeluk kembali tubuh pemuda itu
"Kenapa Calvin..?" pelukan gadis itu semakin erat seolah tak ingin untuk dilepaskan..
Namun perlahan pelukan itu melemah, tenaganya seketika memudar, suara tangisannya perlahan tak terdengar.. gadis itu terpejam, lemah dan seolah akan jatuh kelantai, Nur aini terkulai tanpa tenaga,
Nur aini pingsan...!
Calvin menyadari gelagat itu kemudian segera menahan tubuh lemas itu agar tak jatuh kelantai dan menggendongnya kembali ke tempat tidurnya..
Vannesa diam mematung dengan air mata yang membasahi wajahnya, seorang Vannesa melihat dan mendengar dengan jelas semua adegan itu.. karena wanita itu memberanikan diri masuk kedalam ruangan setelah Calvin terlebih dahulu masuk ke ruangan..
betapa hatinya hancur dan tidak tega dengan kesedihan dan histeris seorang Nur aini, betapa cintanya gadis itu terhadap pemuda yang juga sangat dicintainya..
Vannesa sangat syok, seketika tenaganya seperi terkuras habis, wanita itu seakan tak mampu untuk melangkah, dengan pandangan kosong diam mematung dan air mata yang deras membasahi wajahnya..
Sementara kepanikan luar biasa yang di alami ustadz jafar, pria paruh baya itu kebingungan harus berbuat apa..
Ustadz jafar terlihat ingin menenangkan seorang Vannesa, namun kondisi Vannesa yang sedang mengalami syok membuat ustadz jafar mengurungkan niatnya dan melangkah keluar memanggil kehadiran dokter dan perawat..
Tak ada perawat dan Dokter di lorong rumah sakit itu, ustadz jafar langsung menuju meja informasi.. namun beberapa Dokter dan perawat terlihat setengah berlari melewati seorang ustadz jafar begitu saja langsung memasuki ruangan VVIP Nur aini..
__ADS_1
Ustadz jafar lupa jika di ruangan itu dilengkapi tombol emergency yang langsung ke Dokter yang bertanggung jawab karena ruang VVIP memprioritaskan pelayanan itu.. Calvin telah berpengalaman di ruang VVIP sehingga pemuda itu mengetahui dan tidak perlu repot-repot harus meninggalkan pasien..
Dokter memeriksa dengan cermat Nur aini yang telah terkulai lemas di tempat tidur pasien, sementara perawat terlihat sangat cekatan memasang kembali jarum infus yang sempat di cabut oleh Nur aini, Dokter memandang ke arah Calvin dan juga ustadz jafar yang baru tiba dengan nafas yang sedikit terengah-engah..
"Ini merupakan Situasi yang rumit, ada berbagai faktor yang menyebabkan pasien kembali kritis, misalnya depresi atau dampak dari penyalahgunaan obat atau juga masalah dalam kehidupan yang sangat serius.."
Kata-kata Dokter itu membuat Calvin takut, pemuda itu tak ingin terjadi sesuatu terhadap Aini..
"Bagaimana kondisinya sekarang, Dokter..?" tanya Calvin dengan mimik wajah cemas
"Ada beberapa faktor yang harus di jaga oleh keluarga pasien dan tidak boleh membuat pasien depresi, karena itu sangat riskan dan bisa membuat pasien Menderita gangguan mental,
Memiliki tekanan batin, misalnya karena masalah percintaan atau perceraian, kehilangan pekerjaan, status/kedudukan, atau uang.. mohon jangan biarkan pasien terlalu larut dalam kesedihan, karena itu bisa membuat pasien dalam keadaan di titik terendah dalam kekuatan jantungnya.."
Calvin tampak merinding mendengar penjelasan itu, ketakutan yang luar biasa dialami oleh pemuda itu..
"Baik Dokter, terimakasih atas penjelasannya.."
Dokter kemudian berlalu dari hadapan Calvin dan juga ustadz jafar..
"Terima kasih Dokter.." ucap Ustadz jafar dengan raut wajah penuh dengan kekhawatiran..
Rasa takut dan cemas yang dialami Calvin membuat pemuda itu lupa akan Vannesa, pemuda itu terlihat seperti orang linglung..
"Calvin.." ucap Ustadz jafar perlahan, sementara Calvin merasa seperti orang paling bersalah terhadap Nur aini dan juga Ustadz jafar..
"Maafkan saya ustadz jafar, maafkan saya..!" ucap Calvin berulang ulang..
__ADS_1
"Tadi Vannesa berada didalam ruangan ini dan melihat semua kejadian itu.." potong Ustadz jafar yang membuat reaksi wajah Calvin berubah..