Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 40


__ADS_3

"Vannesa..! Vannesa..!" teriak Calvin sambil keluar ruangan, pemuda itu berlari kecil keluar ruangan melihat ke semua lorong rumah sakit, tak terlihat seorang Vannesa bersama dengan seorang Vannia kecil..


Calvin merasakan seperti depresi, pemuda itu sangat memahami sekali apa yang dirasakan wanita yang dicintainya itu, namun Calvin seperti lupa dengan keadaan dirinya sendiri yang sudah terlihat kacau.. pemuda itu tampak duduk dilantai didepan VVIP ruangan Nur aini dengan kedua tangan mencengkram dan menjambak kuat rambutnya..


"Calvin.." ucap Ustadz jafar yang memahami dilema seorang Calvin


"Ustadz tahu apa yang kamu rasakan anak ku, kamu adalah pemuda yang baik.. kamu sungguh pemuda yang berbeda dari pemuda yang lain, ustadz paham kamu dari semenjak kamu kecil, Calvin..


pulanglah..! pulanglah anakku, jangan buat masalah ini menjadi rumit dihadapan Vannesa, percayakan aini kepada Ustadz.. ustadz tahu harus bagaimana terhadap Aini, pulanglah Calvin..!"


Calvin sejenak menatap ustadz jafar kemudian pemuda itu bangkit perlahan berlalu dari hadapan ustadz jafar..


Sementara seorang Vannesa terlihat berlari menemui Bu Nurul di rumah itu, wanita setengah baya itu kaget melihat keadaan dan kondisi Vannesa yang berlinangan air mata, Vannesa seperti tak kuat menahan beban hatinya, lebih sakit saat mendengar berita kematian Mr. Daniel..


"Ibu.. ibu..!" Vannesa memeluk erat tubuh Bu Nurul


"Vannesa tak kuat ibu, Vannesa tak sanggup ibu.. Vannesa tak mampu dengan semua ini ibu.." tangis Vannesa pecah dipangkuan seorang bu Nurul


"Tenang kan dirimu, ceritakan kepada ibu.. Apa yang terjadi nak Vannesa..?" suara lembut sang ibu mencoba bersikap tenang dan mencoba untuk bisa memahami situasi yang sedang dialami oleh Vannesa


Vannesa mencoba menceritakan kejadian yang dilihatnya di ruang VVIP itu bercampur dengan suara tangisannya, kata-kata nya terdengar sangat sedih..


wanita cantik itu menjelaskan mulai dari Calvin masuk sampai seorang Aini terkulai lemas karena pingsan di pelukan pemuda yang dicintainya itu, derai air mata Vannesa menggambarkan kesedihan dan menguasai wajah itu, tangisannya terisak dan seolah tak sanggup lagi menceritakan apa yang telah dilihatnya..


"Vannesa sudah tidak tahan ibu, Vannesa merasa sangat berdosa terhadap kondisi Aini.."


Bu Nurul mengusap lembut kepala wanita cantik yang tertutup hijab itu..


"kuatkan dirimu nak Vannesa..!"

__ADS_1


Vannesa terlihat duduk sambil menatap Bu Nurul, wajahnya tampak sangat sedih..


"Vannesa tidak bisa ibu, Vannesa tidak kuat.. Vannesa tidak sanggup melanjutkan ini ibu..!" suara itu bercampur dengan isak tangis


Vivi yang sedari awal duduk sambil menggendong Vannia dan mendengarkan apa yang terjadi, merasa orang yang paling bersalah karena meminta kak Calvin datang dan menemui kak Aini, penyesalan seorang Vivi membuat gadis itu tampak berkaca-kaca..


"Kak Vannesa jangan bicara seperti itu, Vivi tidak ingin kak Vannesa pergi dari kehidupan kami.. tolong kak Vannesa, jangan buat Vivi seperti orang yang paling bersalah karena telah meminta kak Calvin untuk kembali dan menemui kak Aini.." namun Vannesa justru bertambah sedih dengan kedua tangan menutupi tangisannya..


"Mama.." Vannia pun meneteskan air mata karena melihat wajah bundanya menangis..


Vannesa berdiri kemudian sambil terisak wanita itu meraih tubuh mungil putri cantiknya Vannia.. Vannesa memeluk vivi dengan hangat sebelum menggendong Vannia kecil, kemudian Vannesa menatap lembut wajah Bu Nurul..


"Ibu.. izinkan Vannesa kembali ke kota, Vannesa ingin menenangkan diri terlebih dahulu.." kemudian wanita cantik itu memandang lembut ke arah vivi


"Vivi, kak Vannesa tidak pernah sedikitpun menyalahkan vivi.. mohon vivi mengerti perasaan kak Vannesa, kak Vannesa hanya ingin menenangkan diri.."


"Maafkan vivi.."


kemudian Bu Nurul mendekati Vannesa, mengusap lembut tubuh Vannesa dan vivi..


"Ibu sangat memahami perasaan nak Vannesa, sungguh.. Ibu pun merasa sangat bersalah karena perjodohan itu.."


"Tidak ibu.. jangan katakan itu, ibu adalah seorang yang sangat bersahaja, Vannesa bahagia bisa mengenal ibu dan juga vivi.. Vannesa sangat senang menjadi bagian dari keluarga ini.." Vannesa memandang dengan lembut wajah Bu Nurul dan juga vivi


"Do'a kan ibu, agar masalah ini bisa kami lalui, do'a kan ibu.. agar kami bisa bersatu tanpa harus mengorbankan perasaan seseorang.. do'a kan ibu..!"


Vannesa mencium tangan Bu Nurul kemudian memeluk tubuh itu lalu menatap vivi dengan penuh kasih sayang dan memeluk tubuh itu dengan hangat, kemudian Vannesa melangkah keluar rumah dengan derai air mata dan meninggalkan mereka yang juga masih tampak dalam kesedihan..


Tak lama dari kepergian Vannesa seorang Calvin tampak berlari setelah turun dari taksi dan langsung masuk ke dalam rumah, pemuda itu terlihat sangat berantakan dan terlihat sangat panik..

__ADS_1


"Vannesa..! Vannesa..!" teriak Calvin memanggil nama Vannesa, pemuda itu terlihat kesana kemari mencari sosok wanita yang sangat dicintainya itu kemudian menatap cemas ke arah ibu dan vivi yang masih terlihat dalam kesedihan, duduk setengah termenung di ruang tamu rumah itu


"Vannesa ibu, Vannesa dimana..!" Calvin menggaruk garukan kepalanya membuat kondisinya bertambah berantakan


"Calvin..! duduklah sebentar ada yang ingin ibu katakan.."


Calvin terdiam, pemuda itu memandang lemas ke arah ibunya kemudian terduduk lemas di hadapan sang bunda, pemuda itu seperti telah mengetahui bahwa Vannesa telah pergi..


Calvin seolah telah mengetahui kalau seorang Vannesa telah menceritakan semua ke ibu kemudian Vannesa kembali ke kota dengan perasaan penuh dalam kesedihan..


"Vannesa telah menceritakan semua ke ibu..!"


"Ohh Vannesa.." mata Calvin berkaca-kaca


"Vannesa butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, biarkanlah Calvin.. sungguh, ibu pun merasa sangat kehilangan nak Vannesa, begitupun dengan vivi.. kita sama-sama telah menyayangi sosok Vannesa.. berikan Vannesa waktu untuk bisa menenangkan pikirannya.."


"Aku takut terjadi sesuatu dengan Vannesa ibu.. aku sangat mencintai Vannesa, aku sangat menyayangi Vannia, aku takut terjadi apa-apa dengan mereka, ibu.." Calvin tanpa sadar telah meneteskan air matanya


"Ibu mengerti anak ku, namun jangan membuat situasinya bertambah rumit.. ini menyangkut soal perasaan, perasaan bersalah karena merasa telah menghancurkan perasaan seseorang.. bersikaplah lembut terhadap sensitifnya perasaan seorang Vannesa, dia wanita yang sangat baik Calvin, ibu sangat menyukai pribadi seorang Vannesa.."


Calvin mendengarkan dengan sangat tenang kata-kata sang bunda, Calvin menyadari.. semua yang dikatakan ibunya adalah benar..


"Baiklah ibu.. Calvin akan mendengarkan nasihat ibu.."


"Kita do'a kan saja untuk kesembuhan Nur aini, semoga dengan kesembuhan itu bisa membuat Aini lebih baik dan bisa menerima semua kenyataan hidupnya.."


"Aamiin, terima kasih ibu.."


Calvin merasa lebih baik dan dapat berpikir lebih dewasa lagi setelah mendengar semua nasihat ibunya.. pemuda itu sangat mengharapkan situasi seperti ini cepat berlalu sehingga pernikahannya dengan Vannesa bisa terlaksana tanpa ada perasaan seseorang yang merasa tersakiti..

__ADS_1


__ADS_2