
"Apakah nona Vannesa sudah terlihat..?" tanya seorang Rafael pada pak andra
"Maaf pak Rafael.." kata pak andra menjelaskan
"Nona Vannesa masih bersama Mr. Daniel di ruangannya.." Rafael sangat tersentak, tatapan matanya tajam kemudian mengeluarkan kata-kata dengan nada yang sedikit keras..
"Jangan sembarangan kamu..!!" namun Rafael tersadar, bahwa tidak ada seorang pun yang tau tentang kematian Mr. Daniel.. tp apa maksudnya dengan mengatakan Mr. Daniel ada di ruangan Vannesa
"Maafkan atas kelancangan saya tuan Rafael.." pintanya dengan membungkukkan setengah badan
"Maaf tuan Rafael.." kata pak agung yang berdiri persis di samping pak andra berusaha meyakinkan pak Rafael
"Memang betul Mr. Daniel sekarang berada di ruangan nona Vannesa hanya saja hari ini Mr. Daniel terlihat sedikit berbeda, maaf.." hormatnya dengan membungkukkan badan juga
Rafael tidak bisa bersuara lagi, tidak mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, gumamnya dalam hati.. Rafael hanya terlihat seperti orang kebingungan.. kemudian
Rafael melangkahkan kakinya keluar dari ruang Aula Utama langsung menuju ruangan nona Vannesa untuk melihat sendiri, apa maksud dari semua ini..?
Rafael melangkah masuk ke ruangan itu..
betapa terkejutnya seorang Rafael, melihat sosok yang sangat dihormatinya tampak berdiri menggendong seorang gadis kecil cantik, Vannia
"Tu.. tuan Daniel, Mmr. Mr. Daniel..!" jantung Rafael berdetak tidak beraturan, wajahnya mendadak pucat.. pria itu tidak percaya dengan apa yg sedang dilihatnya.. Rafael menepuk-nepuk pipinya.. Apakah saya sedang bermimpi..?!
"Pak Rafael.." Vannesa coba menjelaskan
"Ada satu hal yang belum saya ceritakan kepada anda, semua yang anda saksikan sekarang bukanlah hal yang sebenarnya, ceritanya panjang pak Rafael.." kata-kata Vannesa terdengar sudah lebih baik, Vannesa terdengar sudah bisa mengontrol emosionalnya..
Rafael hanya menunduk hormat
"baik nona Vannesa..!"
Sementara Calvin masih terjebak dalam cengkraman Vannia, gadis kecil itu tak mengerti, gadis kecil itu tak ingin melepaskan pelukannya dalam gendongan Calvin.. Vannia berteriak menangis setiap kali Vannesa mencoba untuk meraihnya.. kemudian itu Calvin setuju untuk membawa pulang Vannia atas permintaan Vannesa..
"Batalkan pertemuan akbar hari ini pak Rafael.." ucap Vannesa
__ADS_1
"Baiklah nona Vannesa.. baiklah.."
Kemudian Vannesa membawa calvin keluar ruangan.. menuju lobby utama dimana driver sholeh sudah menunggu disana bersama suster maria..
Rafael sejenak terpaku tak bisa berkata apa-apa, kemudian mengikuti mereka dari belakang..
Banyak pasang mata menyaksikan keharmonisan itu ketika Calvin dan Vannesa melewati ruang Aula Utama.. mereka sangat mempercayai bahwa sosok yang terlihat aneh itu adalah Mr. Daniel, terlebih lagi sedang menggendong putri cantiknya, Vannia..!
driver sholeh dan suster maria terlihat memberi hormat disaat Calvin, Vannia dan vannesa memasuki kendaraan.. mereka hanya bingung, kapan Mr. Daniel kembali dari luar negeri..?
Selayaknya Mr. Daniel, Calvin tidak menjawab salam hormat kedua pekerja itu..
Selama perjalanan Vannesa dan Calvin tidak banyak berbicara, situasi yang kurang tepat berbicara di depan kedua pekerjanya dan juga Vannia..
"Vannia.." ucap sang ibu kepada gadis kecil itu
"Gantian sama mama ya, papa capek dari td gendong Vannia.."
Calvin tak bersuara, pemuda itu hanya merasakan keanehan saat namanya diganti dengan sebutan papa.. betapa sesungguhnya Calvin sangat kasihan dengan gadis kecil ini, apa yang akan dia rasakan jika dia mengetahui bahwa calvin bukanlah papanya.. Calvin merasakan ketidak tegaan membiarkan itu terjadi
"biarkanlah Vannia seperti ini.."
Hati kecil Vannesa sebenarnya menyukai cara Calvin memperlakukan Vannia, selayaknya Mr. Daniel.. Calvin terlihat memanjakan Vannia..
"Selamat sore Tuan Daniel.. selamat sore nona Vannesa..!" satpam joko memimpin para pekerja memberi salam dan hormat kepada pemuda yang dianggap mereka sebagai Mr. Daniel dan juga nona Vannesa ketika mereka tiba dirumah..
Vannesa memperhatikan gerak gerik seorang Calvin, Vannesa merasakan sosok Calvin terlihat seperti selayaknya mas Daniel.. pemuda itu seakan sosok reinkarnasi nya mas Daniel
Sosok Calvin seolah sebagai titisan Mr. Daniel
Calvin merasakan ketakjuban yang sangat luar biasa disaat menginjakan kakinya di rumah itu, rumah yang sangat besar dan juga tampak sangat mewah.. tak pernah terbayangkan oleh seorang Calvin memiliki rumah seindah dan sebesar ini bahkan bermimpi pun tidak pernah..
Namun Calvin harus bisa bersikap selayaknya Mr. Daniel walaupun Calvin tidak tau sikap seorang Mr. Daniel sehari-hari, minimal Calvin tidak menunjukan kecanggungan agar semua pekerja dirumah ini tidak menangkap sesuatu yang aneh seperti di Basecamp Building..
Calvin merilekskan pikiran nya dengan berdiri dan menikmati keindahan taman di samping rumah besar itu setelah terbebas dari Vannia yang sudah terlelap tidur..
__ADS_1
"Maaf atas keterlibatan kamu di keluarga ini.. " ujar Vannesa menghampiri Calvin di taman itu.. Calvin menatap Vannesa dengan perasaan yang tidak menentu,
"Saya tidak merasa telah di libatkan nona Vannesa.. sayalah yang sudah membuat kegaduhan ini, karena datang dan bertemu dengan nona Vannesa.." jelas Calvin
"Kamu bisa panggil saya cukup dengan sebutan Vannesa.." ucap wanita itu lembut, sementara Calvin merasa tak pantas memanggil nama untuk orang sekelas Vannesa, namun pemuda itu menurutinya..
"Baiklah non.. Maaf, maksud saya Vannesa.." Calvin merasa canggung
"Calvin.." kata Vannesa dengan suara perlahan
"Tentunya kamu sudah mengerti apa yang telah terjadi dengan suami saya.." Vannesa mulai menceritakan
Vannesa merasa Calvin harus tahu apa yang telah terjadi sebenarnya, mulai dari awal berita kematian suaminya sampai ke pemakaman, kemudian keinginan Vannesa untuk menutupi berita kematian suaminya..
"Saya tidak akan bisa sanggup melihat Vannia bersedih, apalagi kalau sampai jatuh sakit.. Saya pikir Vannia tidak akan bisa menerima jika papanya ternyata sudah meninggal dunia.."
Vannesa menjaga agar psikologis Vannia tidak terganggu
Saat itu Vannesa tidak bisa berpikir secara jernih, menghadapi kenyataan suami meninggal dunia dengan segala kekayaan dan perusahaan dimana-mana.. Vannesa hanya tak ingin timbul gejolak, terlebih lagi Candile county business distrik sedang dalam tahap pengembangan dan perluasan.. Apa yang akan terjadi dengan kawasan itu jika mengetahui Mr. Daniel telah meninggal dunia..
"Banyak yang akan saling mempengaruhi untuk mengorbankan seseorang demi kekayaan yang diperoleh secara instan.." feeling Vannesa
Sementara Calvin sangat mengerti arah pembicaraan Vannesa, apalagi Vannesa adalah seorang perempuan, akan sangat mudah bagi mereka yang ingin menyingkirkan seorang Vannesa..
"Vannesa harus memiliki sosok yang menjadi pengatur dan paham dengan cara kerja Mr. Daniel.. namun dia bisa dipercaya.." ucap Calvin
"Pak Rafael..! Dialah yang menjadi pengatur.. dialah yang menjadi orang kepercayaan mas Daniel dan dialah satu-satunya orang yang bisa saya percaya hingga saat ini.."
Dahulu Mas Daniel membawa Rafael ketika dia bekerja di salah satu perusahaan kecil, karena kepintarannya mas Daniel kemudian membawa Rafael ke kawasan candile County Business Distrik dan menjadikannya tangan kanan mas Daniel dalam pengelolaan management bisnis.. Terbukti..!"
Rafael adalah pria jujur namun juga sangat pintar terlebih lagi Rafael sangat bisa diandalkan, bahkan sampai saat dimana mas Daniel sudah meninggal dunia.. Rafael masih sangat setia tunduk dibawah perintah Vannesa, mungkin Rafael hanya ingin membuktikan kesetiaannya dan juga sebagai ungkapan terima kasih karena sudah menjadikan dia sepertinya sekarang ini..
" Jadi sekarang hanya ada dua orang saja sejauh ini yang mengetahui kalau mas Daniel sudah Meninggal Dunia.."
"Rafael dan kamu..!"
__ADS_1