
Calvin berlari kecil di pelataran Rumah Sakit, pemuda itu panik setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hampir jam satu.. gumamnya dalam hati, Calvin terus berlari..
"Selamat siang Dokter..?" dengan nafas yang tersengal Calvin mencapai ruang VVIP.. nampak beberapa suster telah mendorong tempat tidur pasien menuju ke ruang operasi
"Selamat siang.." balas Dokter menoleh ke arah Calvin
"Berikan pelayanan yang terbaik untuk ibu saya Dokter.." pinta Calvin masih dengan nafas tersengal karena kelelahan berlari..
"Jangan khawatir Tuan Calvin, team Dokter tentu akan melakukan yang terbaik.. apalagi ini menyangkut ibu anda.. Pasien VVIP kami.."
"Terima kasih Dokter..Terima kasih.."
Setiap menit Calvin merasakan kecemasan tingkat tinggi, terlihat mondar mandir di sekitar ruang tindakan Operasi.. tak henti-hentinya pemuda itu mendo'akan kelancaran jalannya operasi dan bisa membuat sang ibu sehat seperti sedia kala..
Tampak dari kejauhan terlihat seorang gadis remaja masih dengan mengenakan seragam sekolah berlari kecil menghampiri Calvin..
"Vivi.." ujar Calvin ketika gadis itu tepat di hadapannya
"Bagaimana kakak, apakah operasi ibu sudah selesai..?"
"Belum Vivi..!!" Calvin melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.. sudah pukul 16.00, operasi itu sudah berjalan tiga jam, mengapa operasi belum selesai..?
Saat yang sama, pintu ruang operasi terbuka..Dokter berjalan keluar dengan wajah yang tegang..
"Dokter..!" sapa Calvin
"Bagaimana keadaan ibu saya Dokter..?" sang Dokter menatap Calvin dan Vivi
"Tuan Calvin..!" kata Dokter itu disambut dua pasang mata dengan ketegangan tingkat tinggi di hadapannya
"Selamat, operasi ibu anda berjalan sempurna.. team Dokter telah berhasil mengeluarkan sel kanker dalam tubuh ibu anda.."
"Alhamdulillah.." ucap Calvin dan Vivi hampir secara bersamaan
"Terima kasih Dokter, Terim kasih.."
Calvin merasakan kelegaan yang sangat luar biasa, seperti terbebas dari cengkraman maut, begitu pun dengan vivi.. kedua kakak adik itu terlihat berpelukan dan selalu mengucapkan syukur..
Calvin seketika teringat nama Vannesa, tanpa campur tangan Vannesa belum tentu ibu Nurul bisa melewati hari seperti hari ini, calvin berfikir bahkan untuk operasi saja Calvin harus berjuang keras mendapatkan biaya, tanpa itu semua operasi tidak bisa berjalan seperti ini..
"Siapapun dia, siapapun orangnya, Vannesa.!! saya mengucapkan terima kasih.." kenang Calvin
Pasca operasi itu, dari hari ke hari Calvin terlihat lebih semangat dalam menghadapi setiap pekerjaan, tak ada lagi terlihat raut wajah kesedihan.. walaupun sesekali dia teringat sebuah nama yang membuatnya termenung, sebuah nama yang telah membuat perubahan besar dalam hidupnya..
Vannesa..! harapan Calvin suatu hari bisa menemukan wanita itu..
__ADS_1
"Ayo Calvin.. makan siang.." ajak aldo ketika perutnya sudah merasa keroncongan
"Sipp Aldo.. kamu duluan, kerjaan saya masih tanggung.. "Semangat sekali.." kata aldo kemudian meninggalkan Calvin yang masih tampak mengerjakan kerusakan, maklum Calvin sebagai seorang engineering..
Mesin produksi di suatu perusahaan benar-benar di bawah pengawasan staf engineering..
Ini memberi wewenang kepada divisi engineering dan jajarannya untuk membuat peraturan bagi karyawan produksi mengenai apa yang diizinkan, dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh karyawan produksi terkait mesin produksi untuk keselamatan dan keamanan bersama..
setelah membersihkan diri Calvin menuju Cipta Rasa Nusantara, kedai klasik namun modern.. rumah Makan ini memang tempat makan para pekerja sekitar area sini, termasuk para staf dan karyawan di Gedung Nusantara..
Tampak ramai sekali tempat ini, padahal sudah pukul 13 lebih, seharusnya mereka sudah kembali ke tempat kerja, pemuda itu acuh tak acuh, tatapannya mencari-cari keberadaan aldo namun tak juga menemukan pemuda itu..
Tatapan Calvin berhenti di satu sudut, pemuda itu melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya sedang berbicara bersama kedua temannya disana..
"Allisa..!" dalam hati Calvin ingin sekali menghampiri, namun dia mengurungkan niatnya karena tampak seorang Tika disana..
Secara kebetulan Allisa juga menatap Calvin, pandangan mereka bertemu.. Calvin terlihat memberi anggukan kecil kemudian tersenyum, hal yang sama juga dilakukan oleh Allisa.. kemudian Calvin bersantap sambil membelakangi mereka..
Allisa terlihat menghampiri, wanita itu sudah terlihat lebih baik dari hari sebelumnya.. Allisa sudah menganggap Calvin sebagai seorang kakak baginya, walaupun Allisa masih menyimpan rasa namun wanita itu terlihat lebih stabil dan bisa menguasai dirinya..
"Hai Calvin.." sapa Allisa yang membuat Calvin sedikit kaget, wanita itu kemudian duduk dihadapan calvin
"Allisa..!!" ucap Calvin pelan
"Apa kabar Calvin..?" Allisa tersenyum manis
"Hampir satu bulan kita nggak ketemu ya.." lanjut Allisa
"O iya, selamat ya atas berhasilnya operasi ibu kamu.. aku ikut senang mendengarnya.."
"Terima kasih Allisa.."
sebenarnya Allisa penasaran ingin sekali bertanya ke Calvin dari mana dia mendapatkan biaya atas Rumah Sakit yang bisa mencapai ratusan juta, namun dia mengurungkan niatnya.. karena sekarang keadaannya sudah berbeda, Allisa bukanlah siapa-siapa lagi bagi Calvin..
"Hai Allisa..!!" seorang wanita menghampiri mereka dengan senyum di wajahnya.. Allisa menoleh, kaget namun merasa bahagia.. karena wanita itulah yang selalu memberikan memotivasi disaat Allisa sedang jatuh..
Dialah Dina pertama bertemu di sini bersama Vannesa dan juga freddy
"Hai Dina..!" Allisa menyambut dengan kecupan pipi kiri dan kanan, terasa sangat dekat.. kemudian Allisa meminta Dina untuk duduk bersama mereka.."
"hhmm.. perkenalkan ini Calvin.." kata Allisa
"ini orang yang dulu pernah aku ceritakan.."
"Hallo.." kata Dina sambil menyodorkan tangan
__ADS_1
"aku Dina..!" sambil berjabat tangan
"Calvin.."
"Dina.. kamu kesini sendiri.." lanjut Allisa
"Mana Vannesa..?" tanya Allisa kemudian
Calvin terkejut..!!!
Jantungnya mendadak berdetak kencang disaat Allisa menyebutkan nama Vannesa..
"Apaaa..??" spontan teriak Calvin, darahnya berdesir.. wajahnya terlihat seperti orang kebingungan..
Allisa dan Dina bengong melihat calvin..
"hmm,.. eemm.. maaf..! maaf, aku hanya sedikit tersedak.."
"Ooohh.." kata Allisa dan Dina serempak
Calvin mencoba terlihat rileks, walaupun jantungnya berdetak tak beraturan.. namun pemuda itu sangat berharap Allisa dan Dina membahas lebih jauh lagi tentang Vannesa..
"Vannesa sudah kembali ke kota.." ujar Dina
"Maklumlah Vannesa adalah wanita super sibuk, suaminya adalah pemilik Candile county business distrik.."
"Haahhh..!" kata Allisa kaget
"Begitulah yang aku dengar, bahwa Vannesa sangatlah kaya.." Dina menjelaskan
"Tp aku sendiri belum pernah bertemu suaminya.. aku takut jika harus berhadapan dengan orang kaya, apalagi sekelas suaminya Vannesa, tidak terbayangkan berapa kekayaan yang mereka miliki.."
"aku tidak menyangka.." ujar Allisa
"beruntungnya aku bisa bertemu dan berbincang dengan Vannesa.." lamun Allisa
Calvin mendengarkan dengan seksama cerita mereka berdua tentang Vannesa.. sangat wajar sekali seorang Vannesa dengan sangat mudahnya mengeluarkan uang satu milyar rupiah.. Calvin pikir Itu jumlah yang tidak ada apa-apa nya jika dilihat dari kekayaan yang dimilikinya..
"Tp apa hubungannya dengan aku..??" calvin bingung
Sangat tidak mungkin bagi Calvin bertanya pada Dina dan Allisa tentang kenapa Vannesa membantu kesulitan Calvin..
Jika Dina dan Allisa mengetahui hal itu, sudah pasti mereka akan membahasnya juga..
"Allisa.. jadi kamu juga mengenal Vannesa..?" tanya calvin memancing obrolan
__ADS_1
Allisa memandang Calvin, jadi teringat masa itu.. sesungguhnya pemuda inilah yang membuat Allisa akhirnya mencurahkan isi hatinya didepan Dina dan vannesa..