Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
chapter 14


__ADS_3

Taksi itu terlihat kembali, masih dalam keadaan kaca belakang terbuka dan memasuki pelataran lobby, berhenti tepat di lobby utama.. melihat siapa sosok yang berada di dalam taksi itu tampak dua orang sekuriti dari dalam lobby utama bergegas keluar dan mendekati taksi itu..


seorang pemuda keluar dari taksi, memakai setelan kemeja tidak formal, terlihat rapi namun juga elegan.. wajahnya terlihat bingung, melirik ke segala penjuru..


"sss.. ssell.. selammatt siang Tuan Daniel..!" ke dua petugas sekuriti itu menyapa dengan suara terbata-bata sambil membungkukkan setengah badannya..


pemuda itu heran dan bingung di panggil dengan sebutan tuan Daniel, namun pemuda itu tak menghiraukan sebutan itu


"Maaf.." katanya kemudian yang membuat petugas sekuriti kebingungan, Mr. Daniel tidak pernah mengeluarkan kata 'maaf..' namun petugas tetap tak berani menatap pemuda itu, mereka menundukkan kepala dan menganggap bahwa itu betul Mr. Daniel


"Apakah saya bisa bertemu dengan ibu Vannesa.." kedua petugas itu terperanjat mendengar kata-kata pemuda itu, selintas mereka melirik pemuda itu lalu menundukkan kepalanya kembali dengan perasaan yang tidak menentu..


"Silakan Tuan Daniel.." kata salah satu petugas mempersilakan pemuda itu untuk masuk dan mengantarkannya ke ruangan nona Vannesa.. petugas itu bingung kenapa seorang Mr. Daniel justru bertanya, namun karena takut salah petugas itu tetap mengantarkan pemuda ke rungan Vannesa


Sementara dari dalam lobby utama, semua karyawan dan staf tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat..


sosok itu..!!


Mr. Daniel tidak pernah mengenakan setelan kemeja seperti itu, kemudian caranya berjalan seolah-olah dia baru pertama kali datang ketempat ini..


Apa yang terjadi dengan Mr. Daniel..?


Namun mereka tetap tak berani berkomentar tentang itu.. mereka hanya terlihat memberi hormat, mereka hanya menyapa..


"Selamat siang Mr. daniel..!" pak andra dan pak agung memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya, sementara pemuda itu hanya tersenyum canggung tak mengerti kenapa semua orang memanggilnya dengan sebutan Mr. Daniel.. karena keinginannya bertemu Vannesa sangat besar maka dari itu dia mengacuhkan semua orang yang memanggilnya dengan sebutan Mr. Daniel, pemuda itu tampak terus mengikuti petugas sekuriti yang berada didepannya namun terlihat dengan gerakan serba salah..


semua karyawan dan staf lainnya pun memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya, terus terang pemuda itu tampak bingung.. semua yang ada di benaknya tentang ketakutan akan sulitnya bertemu seorang Vannesa hilang seketika berubah menjadi kebingungan yang sangat luar biasa..


Tepat di depan pintu sebuah ruangan, petugas sekuriti dengan hormat meminta izin untuk kembali ke tempat.. hanya menganggukkan kepalanya sekilas pemuda itu dipenuhi dengan kecemasan tingkat tinggi, keraguan untuk mengetuk pintu yang berada di depannya timbul, jantungnya mulai berdetak tidak beraturan..


memberanikan diri..


mengetuk pintu

__ADS_1


"Masuk...!!" suara Vannesa sangat jelas terdengar, pemuda itu melangkah masuk..


"bbrrttaakkk.." seketika buku yang berada ditangan Vannesa terjatuh, tubuhnya merasakan merinding, mulut terkunci.. wajahnya pucat bias dengan tatapan kosong, berdiri tegak mematung seolah tak mempercayai sosok yang berada di hadapannya..


"Mas Daniel..!" suaranya nyaris tidak terdengar


"Maaf kl saya membuat ibu terkejut.." kata pemuda itu dengan tatapan serba salah


Vannesa tersadar bahwa sosok itu bukanlah mas Daniel.. sosok itu adalah Calvin, pemuda yang mendapatkan bantuan secara finansial dari Vannesa beberapa waktu lalu, pemuda yang belum pernah sekalipun bertatap muka dan berbicara dengan Vannesa, kini pemuda itu berdiri persis di hadapannya.. terlihat jelas wajah pemuda itu.. wajah yang selalu tersimpan didalam hati seorang Vannesa, wajah yang sangat disayanginya..


"Nama saya Calvin Pradikta, saya..!" suara Calvin mendadak terputus.. pemuda itu seperti melihat hantu, tidak berbeda jauh seperti yang dirasakan Vannesa.. Calvin merasakan merinding di sekujur tubuhnya..


Sangat tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.. sebuah gambar..! foto dirinya bersama seorang Vannesa dan seorang gadis kecil cantik posisi ditengah, menempel persis di dinding atas belakang Vannesa..


gambar pria difoto itu adalah gambar dirinya, bagaimana mungkin, batinnya dalam hati..


Calvin mendekati foto itu, berjalan pelan.. setelah melewati sebuah meja, tangannya menyentuh sebuah bingkai foto di atas meja, kembali terperangah..!!


Itu adalah foto dirinya.. berdiri gagah mengenakan setelan jas, sangat rapi dan berkharisma..


"Tidak mungkin..!" suara nya nyaris hanya di dalam hati


Vannesa tak kuasa dengan situasi ini, tersentuh hati kecil seorang Vannesa.. Melihat sosok itu..!! matanya mulai berkaca-kaca, Vannesa sedih.. Vannesa menitihkan air mata,


seketika merasakan kehadiran sosok yang sangat dicintainya, sosok yang telah menjadi papa dari seorang gadis kecil cantik bernama Vannia


Pintu ruangan kembali terbuka secara tiba-tiba..


"mamaaa.." seorang gadis kecil berteriak masuk sambil berlari kemudian..


langkah gadis kecil itu terhenti setelah melihat sosok yang sangat dirindukannya..


"ppaapaaa..!" gadis kecil itu langsung memeluk tubuh pemuda yang dikira papanya, pemuda itu duduk kemudian

__ADS_1


gadis kecil yang sangat cantik itu mencengkram kuat pelukannya, seakan tak ingin untuk melepaskannya..


seketika gadis kecil itu menangis melepaskan kerinduan di pelukan sang papa..


"papa.." kata-kata gadis kecil itu terisak tangis


"Vannia kangen papa, jangan tinggalkan Vannia lagi.."


Vannesa tak kuasa membendung air matanya, terlihat kedua tangannya menutupi mulutnya karena tak kuat menahan tangisnya.. tangis Vannesa meledak melihat adegan anaknya yang merindukan kehangatan seorang papa..


Sekarang Calvin baru menyadari, semua pertanyaan dalam hatinya terjawab.. pembiayaan rumah sakit, pelunasan hutang perusahaan dan beasiswa yang diterima vivi kemudian seisi gedung yang memanggilnya dengan sebutan Mr. Daniel.. semua ini adalah bagian jawaban itu


Hati kecil seorang Calvin tersentuh, matanya mulai berkaca-kaca.. Calvin memandang lembut wajah Vannia..


"sayang.. jangan menangis !" ucapan lembut Calvin membuat Vannia berhenti menangis


Calvin menatap Vannesa yang masih berlinang air mata sambil menggendong gadis kecil itu kemudian berjalan perlahan mendekati Vannesa..


"Semua ini adalah jawaban dari semua yang tidak bisa aku jawab.." ucapan Calvin sedikit membuat Vannesa tenang, Vannesa merasakan seperti telah mengenal Calvin..


wanita itu hanya mengangguk kecil kemudian mencoba meraih Vannia dari gendongan Calvin, Vannia merontah..!


mencengkram kuat dengan kedua tangannya melingkar di leher pemuda itu..


"Vannia..!" suara Vannesa serak dan seakan tertahan


"Tidak masalah.." ucap Calvin mengerti situasi psikologis gadis kecil ini


"Biarkan.." lanjut Calvin


"jangan buat psikologi anak ini menjadi syok.." Vannesa tak bisa membantah, ucapan Calvin sangat bisa dipahami dan membiarkan Vannia dalam gendongan Calvin


suasana di sekitar lobby utama tampak ramai dari obrolan para staf dan karyawan yang akan menghadiri pertemuan akbar di ruang Aula Utama..

__ADS_1


Rafael dan beberapa jajaran direksi tampak keluar dari dalam lift dan langsung menuju ruang utama kemudian diikuti beberapa staf dan karyawan, mereka telah siap menggelar pertemuan akbar ini


__ADS_2