Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)

Elegi Reinkarnasi (Asmara Dan Dilema)
Chapter 27


__ADS_3

Vannesa berdiri melangkah mengitari ruang kerjanya sambil berpikir, kemudian wanita itu meraih ponselnya dan menelpon seorang Calvin.. Vannesa menceritakan semua terkait temuan baru dan juga kejanggalan-kejanggalan yang dirasakannya, lalu mencoba menerapkan beberapa strategi untuk bisa mengungkap fakta yang sebenarnya..


"Kita tidak bisa membiarkan seseorang memanfaatkan situasi seperti ini.." ucap Vannesa menginginkan fakta yang sebenarnya terungkap..


"Aku setuju Vannesa.. namun kita belum bisa mengambil sikap, karena team audit belum menyampaikan secara resmi terkait temuannya.."


Namun Vannesa sangat yakin seseorang telah mengambil keuntungan secara pribadi atas meninggalnya seorang Mr. Daniel..


"Aku yakin Calvin..! Semua yang aku sampaikan benar apa adanya.." Vannesa merasa lega bisa menyampaikan semua ke Calvin dan berharap Calvin mampu mengatasinya..


"Baiklah Vannesa..!" jawab Calvin kemudian Vannesa mengakhiri panggilan teleponnya..


'Apakah benar semua ini dilakukan oleh seorang Rafael' kenang Vannesa, sangat sulit memahami motifnya jika dilihat dari histori kedekatan Rafael dengan Mr. Daniel dan keluarga..


Vannesa melangkah keluar ruangan menuju lobby utama, menunggu kedatangan Calvin, tentu saja pemuda itu tidak mengetahui dimana ruangan kerja yang biasa di tempati oleh Mr. Daniel, Vannesa tak ingin Calvin terlihat canggung dan membuat heran semua orang..


"Cindy.." ucap Vannesa ketika melihat cindy di ruang kerjanya


"Apakah ruangan kerja Mr. Daniel di bersihkan setiap harinya.." Vannesa memastikan


"Betul nona Vannesa.. selalu di bersihkan setiap hari.."


"Bagus..! karena hari ini Mr. Daniel akan datang.." ucap Vannesa, kemudian cindy terlihat sedikit tertegun, karena lama sekali sosok itu tidak pernah aktif di gedung ini

__ADS_1


"Ada beberapa agenda Mr. Daniel yang terlewatkan dan beberapa dokumen yang seharusnya berada ditangan Mr. Daniel.. Apakah bisa saya letakan di meja kerja Mr. Daniel..?" ujar cindy


"Silakan cindy.." ucap Vannesa kemudian berlalu dari hadapan cindy


Vannesa berjalan ke lobby menunggu kedatangan Calvin, namun Vannesa menghentikan langkahnya saat melihat satu sosok berbincang serius dengan dua orang, Vannesa mengenali satu sosok itu adalah Rafael dan dua orang lagi Vannesa tidak mengenal secara pasti..


Secara bersamaan sebuah kendaraan persis berhenti di lobby luar, semua mata tertuju pada kendaraan itu.. pintu mobil terbuka secara elektrik kemudian keluar satu sosok yang sangat dikenal setiap orang di gedung itu.. seorang pemuda dengan setelan jas sangat rapi dan terlihat sangat berkharisma.


'Calvin.. benarkah itu Calvin, sosok itu seperti reinkarnasi Mr. daniel..!' Vannesa tercengang saat penampilan Calvin menyerupai penampilan Mr. Daniel, Vannesa melongo dengan mulut sedikit menganga.. sementara Rafael nyaris menjatuhkan beberapa dokumen yang dipegangnya, laki-laki itu tak percaya apa yang dilihatnya, 'tidak mungkin.. Mr. Daniel sudah meninggal, ini tidak mungkin terjadi..! lantas siapakah dia..' Rafael seperti lupa bahwa pemuda itu pernah datang ke sini beberapa waktu yang lalu kemudian tampak dua orang yang berbicara dengan Rafael segera memberi hormat dengan menundukkan setengah badannya..


Vannesa bergegas berlari kecil keluar lobby menyambut seorang Calvin dan membimbingnya masuk ke dalam gedung kemudian membiarkan Rafael yang masih tampak melongo dengan mulut menganga menatap mereka berjalan kearah ruangan Mr. Daniel..


Saat tiba di satu ruangan yang sangat besar, ruangan ini mengalahkan besarnya rumah Calvin sendiri..


Seorang Calvin tampak tak percaya saat memasuki ruangan itu, ruang kerja seorang Mr. Daniel.. tampak sebuah foto berukuran besar dengan gambar dirinya, ukiran bingkai dan warna yang terlihat elegan namun mewah sangat serasi di kombinasikan dengan warna dinding ruangan, Calvin sangat takjub kemudian melihat ruang meeting dengan ukuran meja yang sangat panjang dan tanpa sambungan..


"Vannesa.. Apakah aku mampu melakukan semua ini ?" Calvin terlihat kecil dan tidak ada apa-apanya setelah berada di ruangan itu..


"Aku takut terjatuh Vannesa, mimpi ini terlalu tinggi..!"


"Calvin..!" Vannesa mendekati dan berdiri dihadapan Calvin kemudian memegang lembut kedua tangan Calvin..


"Kamu tidak lagi bermimpi, sayang.. ini adalah kamu, aku tidak ingin kamu berubah dan menjadi sosok yang lain, aku hanya ingin kamu menjadi diri kamu sendiri, aku sangat yakin Calvin, aku yakin dengan kemampuan kamu..! kamu pasti bisa..!" Vannesa merasakan dingin ditangan Calvin..

__ADS_1


pemuda itu tiba-tiba merasa tidak percaya diri.. namun seorang Vannesa mampu memberikan motivasi dan membangun semangat bagi seorang Calvin..


"Saat ini hanya kamu yang mampu mengatasi situasi seperti ini, biarkan orang-orang yang menganggap kamu sebagai sosok yang lain, mereka hanya tidak tahu..! tp tidak bagi aku yang kamu kenal.. kamu sudah membuktikan di keluarga aku dan menjadi diri kamu sendiri tanpa membuat orang-orang curiga bahwa kamu adalah sosok yang lain, kamu telah merubah image itu Calvin, kamu telah memberi warna.. bahkan sesuatu yang kamu lakukan ini belum pernah dilakukan oleh sosok yang lain itu.. percayalah Calvin, kamu bahkan melebihi dari sosok yang lain itu, kamu lebih hebat dari seorang Mr. Daniel.."


Calvin menatap optimis tinggi di mata seorang Vannesa.. pemuda itu seperti terhipnotis kembali, semangatnya kembali membara.. Calvin mengangkat kedua tangan Vannesa yang masih melekat di jemari tangan calvin dan mencium tangan itu penuh dengan perasaan sayang..


Vannesa merasakan hangatnya ciuman itu, ciuman yang tiba-tiba membuat jantung seorang Vannesa berdebar, ciuman yang sangat ikhlas dari seorang Calvin, ciuman yang belum pernah sekalipun dilakukan oleh seorang Mr. Daniel.. betapa Vannesa sangat mencintai sosok dan kepribadian seorang Calvin, bukan karena wajah miripnya dengan Mr. Daniel, Vannesa terlena..!! Vannesa telah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya terhadap pemuda itu..


Telpon di ruangan itu berdering, sekilas Calvin tampak panik


"Jawablah Calvin.. bersikaplah selayaknya seorang pemimpin.. Demi misi kita, biarkan mereka memanggil kamu dengan sebutan Mr. Daniel.." Calvin mengangguk, pemuda itu tampak optimis, pancaran matanya terlihat sangat menyakinkan.. Calvin melepaskan pegangan tangan Vannesa kemudian meraih gagang telpon itu dan tanpa ragu mendekatkan ke telinganya..


"Maaf Mr. Daniel.. Pak Robert dan team berkunjung, mereka sudah membuat janji melalui nona Vannesa.!" sekretaris cindy menginformasikan


"Sampaikan untuk 5 menit kemudian masuk ke ruangan saya..!" ucap Calvin meyakinkan, ketegasan dan intonasi suara seperti itu menambah keyakinan Vannesa


"Calvin..!" ucap Vannesa setelah Calvin meletakan kembali gagang telepon itu


"Optimislah akan kemampuan yang kamu miliki.." Calvin tampak menganggukkan kepalanya kemudian Vannesa perlahan melangkah keluar ruangan di ikuti Calvin di sampingnya..


"Sayang.." ucap Vannesa lagi persis di depan pintu ruangan dengan suara setengah berbisik


"Aku sangat percaya sama kamu Calvin.."

__ADS_1


"Baiklah Vannesa, do'a kan aku agar bisa mengatasi semua ini.."


Calvin kembali memasuki ruangan itu kemudian duduk di kursi kerja seorang Mr. Daniel, pemuda itu tampak berpikir keras mengatur strategi, kemudian mengamati satu persatu perlengkapan alat tulis kantor dan beberapa dokumen di atas meja kerja itu.. Calvin tertarik dengan berkas dan dokumen yang baru saja di letakan oleh seorang Cindy kemudian membacanya..


__ADS_2