
Suasana pun kini semakin mencekam kala tangisan ketakutan Rami mulai terdengar di telinga sang ibu,
Bu Damay tidak bisa mengendalikan diri hendak menyelamatkan sang anak dari sekapan Arman.
Hingga dengan sekuat tenaga dia menghajar kedua preman itu dan coba merebut Rami dari Arman.
Namun tiba-tiba saat Bu Damay berlari menuju Arman dan Rami,
Dor
Satu tembakan pun mendarat di lengan kanan Bu Damay hingga membuatnya jatuh dan terluka.
"Ibu "
Teriak Rami melihat ibunya yang tertembak oleh Arman.
Bu Damay yang sudah terkapar pun tetap berjuang ingin meraih Rami dari tangan Arman, namun usahanya sia sia, Beno pun segera menolong Bu Damay namun Arman juga menembak kaki Beno hingga dia terjatuh.
Dor
"Ah"
Beno terkejut dan menahan rasa sakit di kakinya, dengan sekuat tenaga diapun kembali bangkit untuk menolong majikannya itu, namun belum sampai tangannya meraih sang majikan, kedua preman lain langsung menangkap dan mengikat Beno dan Bu Damay.
"Lepaskan aku, lepaskan"
Beno terus berontak, namun tenaganya mulai melemah bersamaan dengan darah yang terus bercucuran dari kakinya.
Begitupun dengan Bu Damay, dia tidak mampu bangkit meski hatinya terus menjerit ingin meraih Rami dari tangan Arman.
"Ibu, ibu"
Panggil Rami menangis ketakutan melihat sang ibu dan Beno terikat di tiang rumah.
Setelah Arman memastikan jika keduanya sudah terikat kuat, Arman pun segera menghubungi pak Adiyasa.
__ADS_1
***
Pak Adiyasa yang saat itu sangat marah karena Bu Damayanti menolak untuk membujuk jendral Megantara akhirnya pergi menuju sel untuk bertemu sang mantan jendral.
Dengan langkah cepat penuh amarah, pak Adiyasa tidak sabar ingin segera mengakhiri semuanya dengan siasat yang sudah dia rencanakan sebelumnya untuk keluarga pak Megantara.
Saat dia sampai di sel pak Megantara, dia melihat sang mantan jendral sedang terduduk lemas dengan tubuh yang penuh dengan luka karena penganiayaan yang memaksanya untuk mengakui semua kesalahannya.
Pak Adiyasa pun masuk dengan langkah yang tenang tanpa rasa bersalah melihat pak Megantara.
Sang mantan jendral pun melihat ke arah pak Adiyasa dan tersenyum padanya.
"Akhirnya kamu datang juga sang penguasa hitam"
Ucap pak Megantara pada pak Adiyasa.
Pak Adiyasa pun membalas senyum sang mantan jendral kepadanya dengan tatapan yang licik.
"Tentu aku akan datang, bukankah kamu ingin bertemu denganku? Mengapa kamu tidak mengakui semua masalah ini? Bisa jadi jika kamu mengakui semuanya, kami akan mempertimbangkan hukuman kamu"
"Hukuman apa? Siapa yang akan menghukum ku?"
Jawab pak Megan tersenyum lucu mendengar semua yang Adiyasa katakan kepadanya.
Karena dia sudah mengetahui semua kebusukan sang jendral dengan semua jajarannya yang memanfaatkan jabatan dengan bisnis ilegalnya itu.
"Dari awal aku sudah mengira jika kamu bukanlah seorang pemimpin yang baik, tapi entah bagaimana caranya mengapa sang presiden menunjuk kamu menggantikan aku waktu itu, dan ternyata kini aku tahu, kamu terlalu licik memainkan semuanya Adiyasa, tapi perlu kamu ingat, kebusukan kamu suatu hari nanti akan terungkap, meski bukan aku yang membuka semuanya"
Jawab pak Megantara.
"Jika kamu sudah mengetahui semuanya kebusukan ku, mengapa kamu masih belum mau mengakui semuanya, cepat akui kasus ini, agar aku bisa segera menutup kasusnya"
Ujar pak Adiyasa di hadapan wajah pak Megan dengan sinis.
Namun tiba-tiba
__ADS_1
Cuh
Dengan sengaja saat wajah sang jendral berada dekat dengan wajah pak Megan, dia meludahi wajah pak Adiyasa hingga membuatnya sangat marah.
Dengan reflek pak Adiyasa pun menampar wajah pak Megan dengan sangat keras dan menendangnya hingga terjatuh dan terjungkal bersama kursi yang menahan tubuh pak Megan.
"Beraninya kamu menghinaku dengan cara seperti ini? Kamu akan menyesal karena telah menghinaku Megan"
Ucap Adiyasa yang sangat marah karena ulah pak Megan,
Sedangkan pak Megan yang kini berada jatuh di bawah masih bisa tersenyum melihat jendral barunya itu marah besar kepadanya tanpa dia ketahui jika kondisi keluarganya saat ini sedang dalam bahaya.
Pak Adiyasa coba kembali tenang menghadapi sang mantan jendral, dan kemudian ponselnya pun berdering, panggilan dari Arman masuk.
"Halo bos, semua pekerjaan beres, aku akan kirim video nya padamu, tapi jangan lupa segera transfer uangnya sebagai bayaran untuk ini"
Rasa marah pal Adiyasa sedikit mereda kala mendengar kabar dari anak buahnya itu yang berhasil membereskan Damayanti dan keluarganya.
Diapun menerima kiriman video tersebut dan
"Ibu ibu, lepaskan ibuku aku mohon om, lepaskan ibuku, jangan siksa mereka".
Rami memohon pada Arman agar melepaskan sang ibu dan Beno yang terus mereka siksa di tiang.
Namun Arman pun tanpa belas kasihan terus menyuruh anak buahnya untuk menyiksa Bu Damayanti dan Beno bahkan sampai mati sekalian.
Melihat semua itu, akhirnya pak Adiyasa pun memutuskan untuk menemui langsung Damayanti di rumahnya.
"Jaga mereka jangan sampai mereka melarikan diri lagi,"
Pesan Adiyasa pada Arman.
...
Bak melupakan kemarahannya pada sang mantan jendral.
__ADS_1