Eliezer

Eliezer
Sarapan yang diracuni


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa El bangun lebih awal dari para tahanan lain. Dia berdiri dengan tenang dan melihat sekeliling suasana di dalam jeruji besi. Harapan akan keadilan pun mulai dirasakannya setelah mengingat semua yang dikatakan Pak Wisnu padanya.


Bisma bersama Rebecca datang juga menemui El di pagi buta itu. Rebecca menanyakan kabar El.


"Bagaimana kabarmu, El? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rebecca.


"Seperti yang kamu lihat, I'm okay," jawabnya tenang.


"Memang seharusnya kamu harus baik-baik sekarang, karena hari ini adalah hari yang sangat penting untuk kita. Stamina dan energi kita harus kuat melihat wajah para penjahat yang telah merenggut harkat, martabat, dan nyawa keluarga kita," ujar Bisma dengan semangatnya yang menggelora.


Rebecca menepuk bahu kakak dari Eliezer itu dan tersenyum padanya, menandakan dukungan semua semangat dalam diri Bisma. Eliezer ikut tersenyum melihat semangat kakaknya. Dia sangat antusias mengikuti sidang ini karena hari ini dia akan membongkar siapa sebenarnya Jendral Adiyasa pada dunia. Tatapan El pun sangat tajam melihat ke arah luar.


 


Regu polisi utusan Komisaris Wisnu Adji dikirim untuk menjemput Adiyasa di kediamannya agar mengikuti sidang. Di dalam rumahnya, Adiyasa terlihat sedang sibuk menghubungi pengacara dan koleganya untuk membantu dia menghadapi sidang ini.


"Aku tidak ingin tahu, lakukan apapun agar aku tidak terbukti bersalah di persidangan nanti," ucap Adiyasa pada pengacaranya di telepon.


"Baik, Pak, semua sudah beres."


"Jika perlu, habisi saja anak Megantara itu agar dia tidak bisa berbicara satu katapun tentang aku," perintah keji Adiyasa pada pengacaranya.

__ADS_1


Pak Darius, sang pengacara Adiyasa, menyadari jika di kasus ini kliennya yang bersalah, akan menuruti perintahnya dan mencari cara agar El tidak bisa bicara apapun di persidangan nanti.


"Aku harus melakukan sesuatu agar Jendral Adiyasa tidak terbukti bersalah," kata hati Darius.


Polisi pun mengetuk pintu rumah Adiyasa dan siap menjemputnya. Saat pintu dibuka, Adiyasa menolak untuk digelandang paksa ke dalam mobil polisi.


"Lepaskan aku, kalian tidak perlu melakukan semua ini padaku. Aku ini seorang mantan jendral, seharusnya kalian menghormatiku," tegas Adiyasa menepis tangan seorang polisi dengan arogannya saat hendak digelandang ke dalam mobil.


Merekapun hanya bisa mengikuti Adiyasa dari belakang dengan sangat waspada dan penjagaan yang ketat.


...


Di ruang sidang, Abram dengan segala hasil pembicaraannya bersama Pak Wisnu sudah sangat siap membela Eliezer dalam sidang kali ini yang memang tidak memfokuskan pada hukum untuk Eliezer melainkan membuka tabir kejahatan Jendral Adiyasa beserta jajarannya yang telah Eliezer ceritakan di sidang sebelumnya.


"Aku yakin kali ini kita pasti akan berhasil, El," ujar Rebecca padanya.


"Semoga," jawab Eliezer tersenyum. Rebecca dan Bisma harus berada di ruang sidang sebelum Eliezer tiba di sana, karena mereka harus menyiapkan semua berkas bersama Abram. Mereka pun meninggalkan Eliezer sendirian, sebelum akhirnya polisi lain mendampingi Eliezer untuk bersiap menuju sidang.


"Kita pergi dulu, El," ujar Bisma.


"Baik, kak."

__ADS_1


Setelah mereka pergi, dua polisi berseragam khusus datang mengantar sarapan pagi lengkap dengan air minum dan buah-buahan untuk Eliezer. Dengan nada tegas dan tinggi, mereka mengatakan jika sebelum sidang, Eliezer harus sarapan terlebih dahulu.


Eliezer merasa ada yang aneh dengan kedua polisi itu dan hanya menatapnya dalam dan sesekali mengawasi setiap pergerakan dari kedua polisi itu karena tidak biasanya Eliezer mendapat perlakuan istimewa seperti ini dengan makanan yang lengkap untuknya.


Sadar jika Eliezer curiga kepada mereka, akhirnya kedua polisi itu pun meminta Eliezer untuk segera menghabiskan sarapannya karena sidang akan segera dimulai.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat makan, sidang akan segera dimulai," tegas salah satu polisi pada Eliezer.


Untuk membuat mereka diam, Eliezer berpura-pura memakan sarapan tersebut. Namun dengan sengaja dia menjatuhkan piring itu hingga semua makanan tumpah.


"Astaga, makananku jatuh," ucap Eliezer pada kedua polisi itu dan membuatnya kesal.


Terlihat sekali raut wajah kedua polisi itu hendak marah padanya. Melihat semua kemarahan di wajah mereka, Eliezer pun tersenyum dan semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan mereka. Feeling Eliezer mengira jika makanan tersebut sudah diracuni sehingga dia tidak sengaja menjatuhkan piringnya. Eliezer pun hanya memakan satu buah apel merah untuk mengisi perutnya.


"Sudahlah, ayo keluar. Waktunya kamu bersiap menuju sidang," ucap polisi itu lagi, meminta Eliezer untuk keluar.


Dengan yakin, Eliezer berdiri menuju pintu sel dan berjalan menuju ruang sidang, diawasi oleh dua polisi yang sama.


...


Di ruang sidang, Pak Gatot dan Pak Dwiki sudah hadir dengan semua tuntutan yang Eliezer ajukan atas tuduhan perampokan dan pembunuhan yang mengakibatkan Mr. Rafael Bu Maria dan Patricia meninggal dunia. Dengan kehadiran Mila sebagai saksi dan kekuatan Eliezer yang semakin kuat, diharapkan semua kebenarannya akan terkuak.

__ADS_1


Rebecca menjaga ketat keamanan Mila selama di ruang sidang hingga akhirnya Eliezer tiba bersamaan dengan Jendral Adiyasa yang datang dengan polisi utusan Pak Wisnu Adji. Kedua pasang mata saling menatap tajam di antara keduanya.


__ADS_2