
"Cepat bawa dia"
Sekali lagi pak Adiyasa memerintah kedua premannya untuk membawa pak Jaka kedalam mobilnya.
"Mau dibawa kemana pak tua ini bos?"
Tanya Arman yang tidak tahu dengan rencana bosnya itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Arman, pak Adiyasa pun berlalu meninggalkan tempat itu dengan membawa pak Jaka bersamanya.Beno pun merasa bersalah karena dirinya pria tua yang tidak tahu apa-apa harus ikut terseret dalam masalah yang sedang dia hadapi bersama Bu Damayanti dan keluarga.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? "
Beno terus berpikir ingin menyelamatkan pria tua yang tidak dia kenalinya itu.
Dia tidak tega melihat pak Jaka terus meminta ampun dan memohon pada pak Adiyasa untuk melepaskannya.
Air mata merekapun menetes menyaksikan semua yang terjadi dihadapannya itu.
"Aku memang pecundang, pecundang"
Teriak Beno yang merasa bersalah melihat pak Jaka di seret dengan sangat kasarnya oleh kedua preman Arman.
Rami yang menyaksikan semua kekerasan yang terjadi di sekelilingnya pun merasa semakin takut, pikirannya pun tertuju pada sang ayah yang dia lihat sangat terluka di video call.
Sebelum benar-benar pergi, pak Adiyasa pun memberi sebuah isyarat pada Arman untuk rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan pada keluarga Megantara.
"Baik bos?"
Jawab Arman dari kejauhan akan perintah bosnya itu, tatapan Bu Damay pun semakin tajam melihat ke arah Arman.
"Iblis, kalian adalah iblis yang sebenarnya"
__ADS_1
Ujar Bu Damay dengan penuh amarah dan kebencian akan semua perlakuan Arman dan Adiyasa kepadanya dan semua yang dekat dengan dirinya.
Namun Arman hanya tersenyum dan menggoda Bu Damay dengan menyentuh dagunya.
"Ternyata kamu lumayan cantik juga ya?"
Kata Arman membuat Rami dan Beno sangat marah.
"Jangan sentuh ibuku"
Teriak Rami dari tiang yang berbeda meminta Arman untuk tidak menyentuh ibunya, Beno pun bergerak untuk tidak menganggu sang majikan.
"Jangan sentuh Bu Damay, jika tidak, maka aku akan pastikan tangan kamu tidak akan bisa lagi menyentuh apapun"
"Hahaha kamu mengancam saya?"
Tanya Arman dengan tawa premannya.
***
"Biarkan dia pergi"
Pinta pak Adiyasa pada anak buah Arman.
"Maksud bapak?"
Tanya mereka.
Pak Adiyasa pun segera melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia membawa pak Jaka ke tempat yang sangat sepi, tepat daerah perhutanan.
"Aku akan membebaskan kamu, cepat bebaskan dia"
__ADS_1
perintah pak Adiyasa pada anak buahnya.
merekapun mengerti dengan kode yang Adiyasa berikan, merekapun membuka pintu mobil dan melempar pak Jaka dengan tangan yang masih terikat ke dalam jurang,
"Jangan tuan jangan ampuni saya, ahhh"
Teriak pak Jaka sesaat sebelum dilempar kedua preman tersebut.
Sungguh nahas nasib pak Jaka, orang yang berniat menolong justru membawanya pada takdir terakhirnya.
Tanpa merasa bersalah Adiyasa pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor polisi untuk kembali mendesak Megantara agar mau mengakui semua barang haram itu, di tengah publik yang sudah mulai ricuh karena kasus ini, pak Adiyasa pun akan ingin segera menyelesaikan semua dengan rapih.
...
Wartawan sudah ramai di depan kantor untuk meliput berita seputar perkembangan kasus penemuan obat terlarang itu, namun atas instruksi pak Adiyasa tidak ada satupun staf jajarannya yang berani mengklarifikasi sebelum dia memerintahkan.
Hingga akhirnya Adiyasa tiba disana dan mulai dikerubuti para wartawan dengan semua pertanyaannya.
"Apa benar jendral Megantara pemilik obat terlarang itu?"
"Hukuman apa yang akan dikeluarkan untuk seorang jendral polisi?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mereka layangkan padanya.
Namun pak Adiyasa tidak menjawab, dia masih berusaha menghindar dari semua pertanyaan mereka dengan caranya yang halus.
"Nanti kalau sudah jelas, saya akan klarifikasi semuanya, kalian bisa pergi dulu"
Jawab sang jendral meminta para wartawan untuk datang lain waktu sebelum semuanya sudah pasti.
Para wartawan pun tidak mempunyai pilihan lain, selain membubarkan diri karena tidak ada jawaban yang mereka dapat dari pak Adiyasa.
__ADS_1
Saat masuk kantor, staf lain coba bertanya akan kelanjutan kasus ini, semua jajaran yang bertugas disana sangat tunduk dengan perintah Adiyasa, karena jika ada satupun yang melawan atau tidak mematuhinya maka nyawa keluarganya yang menjadi ancaman.
Itu sebabnya dengan terpaksa mereka ikut bermain dalam konspirasi ini.