Eliezer

Eliezer
Semoga baik-baik saja


__ADS_3

Jendral Adiyasa pun segera pergi meninggalkan pak Megan yang terjatuh di bawah, dia terlihat sangat terburu-buru hingga membuat pak Megan curiga.


"Apa yang akan dia lakukan? Mengapa dia terlihat sangat mencurigakan?"


Pikir pak Megan saat melihat Adiyasa berlalu meninggalkannya.


Pak Megan pun berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya dan semua keluarganya.


"Semoga kau selalu melindungi keluargaku tuhan"


Ucap hati pak Megan dengan sekuat tenaga berusaha untuk bangkit dari jatuhnya meski tangan dan kakinya yang masih terikat.


...


Di rumah, Bu Damay dan Beno mulai melemah, tenaganya terkuras banyak kala menerima setiap cambukan dan siksaan dari kedua anak buah nya Arman.


Melihat sang majikan tersiksa, Beno pun coba bernegosiasi dengan Arman untuk tidak menyiksa Bu Damay dan mengampuninya, namun usahanya gagal karena memang target mereka adalah menyiksa istri sang jendral agar dia mau membujuk suaminya untuk mengakui kepemilikan barang haram itu.


"Sebenarnya apa mau kalian? Dan kenapa kalian datang kesini? Siapa yang menyuruh kalian? lepaskan Bu Damay, jangan siksa dia lagi"


Ujar Beno terus berusaha meminta mereka untuk melepaskan sang majikan.


"Mereka tidak akan melepaskan aku walau hanya sebentar Beno, karena aku tahu siapa yang telah menyuruh mereka"

__ADS_1


Ucap Bu Damay dengan suara yang terbata.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka di siksa.


Beno yang mengerti dengan semua ucapan sang majikan yang mengarah pada seseorang pun terkejut melihat seseorang yang datang diantara mereka.


"Kamu, dasar iblis, lepaskan aku"


Beno terus berontak ingin melepaskan dirinya dari jeratan mereka dan menyelamatkan semuanya.


Rami pun terus menangis, dia tidak berdaya untuk menyelamatkan diri dari genggaman tangan Arman yang sangat keras hingga pergelangan tangannya memerah.


"Ibu .. ibu, lepaskan ibuku"


Rami pun sangat terkejut melihat pria yang datang itu ternyata pria yang dia kenal, dengan polosnya Rami pun meminta pertolongan pada pria itu dengan berkata.


"Om jendral tolong ibu om, tolong selamatkan ibu"


Arman pun melepaskan genggamannya agar dia bisa berlari pada sang jendral Adiyasa, pria yang datang tepat pada waktunya.


Rami yang mengira jendral Adiyasa datang untuk menolongnya pun memeluk sang jendral dengan wajah penuh air mata memohon untuk melepaskan ibunya dan Beno.


"Jangan kesana nak, jangan"

__ADS_1


Teriak Bu Damay terlambat, karena jendral Adiyasa berhasil meraih Rami dan memangkunya seperti anaknya sendiri,


"Om jendral bisa saja menyelamatkan ibumu nak, tapi ibumu tidak mau om selamatkan, jadi apa yang harus om lakukan sekarang?"


Tanya jendral Adiyasa berlaga polos bicara pada bocah seusia Rami.


Bu Damay pun semakin khawatir jika Adiyasa akan melakukan sesuatu yang buruk pada anaknya itu.


Hingga akhirnya Adiyasa pun mengeluarkan ponselnya dan coba menghubungi anak buahnya di sela yang sudah bersiap melakukan video call dengan Megantara.


"Om punya kejutan untuk kamu nak, kamu masu bertemu dengan ayah kamu kan, lihatlah sini"


Ucap Adiyasa yang masih memeluk Rami.


Di sel, Megantara pun dikejutkan dengan sebuah video call dari Adiyasa tentang keadaan keluarganya di rumah.


"Papa"


Teriak Rami saat melihat sang papa dari ponsel Adiyasa.


Ekspresi Rami pun mulai berubah kala melihat sang papa yang terluka.


"Papa"

__ADS_1


__ADS_2