
Pak Andra pun meminta pria itu untuk segera pergi dari kantornya.
"Ingat Andra, jangan lupa dengan pesanku"
Pria itupun akhirnya keluar dari ruangan pak Andra dan tidak sengaja melihat dan bertemu dengan Eliezer,
El tidak sempat bertanya siapa dia? Yang jelas pria itu keluar dari ruangan pak Andra dengan wajah yang terlihat sangat marah dan takut.
Dalam hati El pun bertanya siapa pria itu? Ada hubungan apa dia dengan pak Andra?
"Bicara apa mereka? Apa yang akan dia lakukan sekarang ?"
Tanya hati El sebelum masuk ke ruangan pak Andra, pria asing itu pun sempat terdiam sejenak melihat ke arah Eliezer, dia juga memandang El dengan sinis sehingga membuatnya penasaran.
Pria asing itupun akhirnya berlalu meninggalkan kantor polisi dengan keadaan marah, sementara El bersikap tenang dan msuk ke dalam ruangan pak Andra.
"Selamat sore pak, maaf saya mengganggu saya hanya ingin memberikan berkas ini padamu"
Ucap Eliezer saat masuk ke ruangan atasannya itu dengan menyodorkan berkas kasus yang sudah timnya selesaikan.
Pak Andra pun melihat berkas itu seraya berpikir apakah dia yang selama tadi berdiri di luar pintunya?semoga saja dia tidak mendengar semua percakapanku.
Harap pak Andra.
***
Ditempat lain jendral Adiyasa sedang berburu binatang didalam hutan bersama kawan lain untuk mengisi kekosongan waktu pensiunnya.
Dengan mengenakan pakaian biasa berbalut rompi kulit coklat serta topi berwarna senada jendral Adiyasa terlihat masih bugar meski sudah mulai tua, ditambah senapan api yang selalu dibawanya menambah pesona jendral Adiyasa.
"Jendral aku pergi ke arah sama ya"
Ucap pak Baskoro berlawan arah dengan tujuan pemburuan Adiyasa.
"Aku kesana, nanti kita bertemu di tenda saja ya, semoga kamu dapat buruan yang cukup memuaskan"
Jawab Adiyasa tertawa menepuk bahu rekannya itu.
"Kamu juga, hati-hati "
Pesan pak Baskoro sebelum mereka berpisah,
Adiyasa pun pergi sendiri tanpa pengawalan, baginya ini sudah biasa karena di dunia kepolisian seorang polisi tidak boleh takut apapun. Dengan langkah tegap dan waspada, Adiyasa melihat setiap sudut pohon dan rumput yang bergerak pelan ke arah mangsa.
Jendral Adiyasa melihat seekor rusa di balik pohon besar di dekatnya, diapun coba mendekati pohon itu dengan sesekali membidik ke arah rusa meski belum sepenuhnya bisa terbidik,
Dan dengan perhitungannya yang selalu benar akhirnya pelatuknya pun melesat jauh ke arah rusa di balik pohon.
Dor
__ADS_1
Suara tembakan Adiyasa ke arah rusa, namun ternyata bidikannya tidak tepat sehingga rusa itu berhasil lari dari Adiyasa.
"Sial, kenapa bisa lolos"
Adiyasa menggerutu kesal karena bidikannya tidak tepat, diapun coba mengejar rusa yang lolos itu dengan terus fokus melihat rusa itu berlari.
Adiyasa terus mengejar tanpa henti dan berusaha membidik kembali buruannya itu, namun tiba-tiba selintas bayangan seorang anak kecil berlari mengelilinginya di tengah hutan.
Langkah kaki Adiyasa pun terhenti karena terkejut.
Namun saat langkahnya terhenti Adiyasa tidak melihat ada seorang anak kecil disekitarnya meski dia terus melihat ke arah nya berada.
"Apa aku salah lihat? Tapi aku yakin tadi anak seorang anak kecil berlari mengelilingiku"
Ucap Adiyasa dalam hati, perasaannya pun mulai tidak karuan kala ingat itu, rusa buruannya pun tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya.
"Kemana rusa itu? Astaga kenapa aku bisa bodoh"
Ujar Adiyasa kesal karena rusanya hilang, diapun berdiri dengan senjata menahan tangannya.
Namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dan mengenai senapan yang dia pegang.
Dor
Adiyasa sangat terkejut, siapa yang berani menembak senapannya hingga terlempar jauh dari tangannya, dia pun berbalik perlahan dengan perasaannya yang cemas dan tangan yang mengangkat ke atas pertanda menyerah dan angkat tangan, Adiyasa pun kembali dibuat terkejut kala melihat seorang anak kecil yang menembak senapannya itu.
Dan
"Kamu"
Ucap Adiyasa tidak percaya melihat sosok anak kecil itu.
"Ya aku, "
Jawab bocah kecil itu berjalan pelan menuju Adiyasa dengan senjata ditangan yang mengarah tepat pada kepala Adiyasa jika sampai tertembak.
"Sedang apa kamu disini? Bukankah kamu sudah tiada bersama ibumu?"
Ucap Adiyasa berjalan mundur karena bocah itu terus menodongkan pistol ke arahnya.
"Ya aku memang sudah tiada, tapi tuhan kembali membangkitkan aku lagi demi membalaskan dendam keluargaku padamu"
Jawab bocah kecil dengan tegas dan lantang bersemangat, bersama dengan jawaban sang bocah, suara raungan singa pun terdengar dengan jelas di mata Adiyasa.
Dan benar saja, sang singa pun muncul dan membuat langkah Adiyasa semakin tak berarah. Dia dilema karena sang singa berada di sampingnya, sedangkan si bocah terus melangkah maju kearahnya, napas Adiyasa pun mulai tidak beraturan karena takut.
Namun tiba-tiba saja singa itu berjalan menuju arah sang bocah yang sedang memang senjata ke arahnya,
Adiyasa pun mulai sedikit lega karena dia berpikir jika singa itu akan menerkam bocah kecil itu, namun kejadian diluar nalar pun terjadi, Adiyasa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika singa buas itu justru berdiri tegak disamping sang bocah seakan berdiri seperti seorang pengawal yang menjaga rajanya.
__ADS_1
Bocah kecil itupun tersenyum jahat pada jendral Adiyasa, dan itu membuatnya semakin cemas, Adiyasa pun berusaha untuk lari dari bocah dan singa itu, sekuat tenaga Adiyasa terus berlari meski bocah itu terus mengejarnya.
Ingin sekali rasanya Adiyasa berteriak minta tolong, namun percuma karena itu hanya akan memancing hewan buas lainnya.
Adiyasa pun terus berlari dari kejaran bocah dan singa nya itu, namun sial, langkahnya pun harus terhenti karena kini dia berada di sisi jurang yang sangat curam dan tajam.
"Sial, kenapa harus seperti ini?"
Ujar Adiyasa
Bocah itu pun berhasil mengejar Adiyasa yang kini tidak bisa berkutik,
"Kenapa berhenti, bukankah anda hebat, anda seorang jendral yang luar biasa pintar hingga anda berhasil membuat seseorang yang tidak bersalah menanggung kesalahanmu, hingga dia merelakan nama baik dan nyawanya hanya demi popularitas mu tetap terjaga"
Ucap sang bocah mengatakan semua isi hati kebenciannya pada Adiyasa.
Adiyasa pun tidak punya pilihan selain meminta maaf dan mohon ampun pada sang bocah agar mau mengampuninya dan memberinya kesempatan.
"Saya mengerti apa yang kamu bicarakan, mohon maafkan aku nak, ampuni aku, semua terjadi begitu saja, lepaskan saya "
Ucap Adiyasa memohon pada sang bocah.
"Mudah sekali anda meminta maaf untuk semua kejahatan yang sudah terjadi pada keluargaku, aku sama sekali tidak akan mengampuni kamu"
Dor
Bocah itu menembakan senapannya ka arah langit hingga membuat ribuan burung yang sedang singgah di pohon berterbangan menjauh seakan tidak ingin menjadi saksi dendam sang anak laki-laki itu.
Ahh
Adiyasa terdiam melihat bocah itu menembak ke arah langit, namun beberapa saat kemudian bocah itu berteriak pada Adiyasa.
"Ini untuk paman Beno"
Dor ...
Satu tembakan mendarat di kaki kiri Adiyasa.
"Ini untuk ibu Damayanti"
Dor ...
Satu tembakan kembali mendarat di lengan kanannya.
"Ini untuk ayah Megantara "
Dor...dor...
Dua tembakan masuk di dada dan jantungnya Adiyasa.
__ADS_1