Eliezer

Eliezer
penyekapan


__ADS_3

Kembali ke negosiasi penyekapan yang di lakukan Eliezer.


Nampak mantan hakim Wahyu Simatupang yang memvonis jendral Megantara tertunduk mendengar semua cerita Eliezer saat itu, begitupun dgn perdana mentri pak Dwiki dan pak Gatot, dia baru tahu jika Eliezer adalah anak dari jendral Megantara.


Jendral Adiyasa pun tak kalah terkejut saat dia tahu yang sebenarnya, dari awal dia memang sudah merasa curiga pada Eliezer, namun dia tidak sampai memikirkan jika e datang di hidupnya untuk membalas dendam kematian ayahnya.


"Pak hakim yang terhormat, apa anda masih ingat saat aku datang ke rumahmu memohon agar anda membuka kebenaran ayahku pada semuanya? Tapi anda samasekali tidak mau mendengarkan aku sedikitpun, hakim seperti apa itu?"


Ujar El membuka suaranya pada hakim Wahyu Simatupang. Karena sebelum tragedi yang menimpa keluarganya, El sempat menemui pak Wahyu di kediamannya dengan membawa buku hitam sang ayah yang berhasil dia baca dengan cara yang rahasia.


Namun usaha El sia-sia karena hakim Wahyu tidak mau membantunya.


Hakim Wahyu pun menangis terisak dengan semua sesak di dadanya yang menyesali semua yang terjadi pada Eliezer.


Rebecca pun kembali membuka suara


"Eliezer, mohon dengarkan aku, aku tahu kamu adalah orang baik, aku tahu semua yang kamu ceritakan adalah benar, bisakah kita bertemu dan melepaskan semua orang yang kamu sandera"


Pinta Rebecca pada El memohon.


El pun membalikkan badannya dan menatap satu persatu orang yang dia Sandra.


"Aku hanya akan melepaskan orang yang tidak bersalah, aku tidak akan pernah mengampuni mereka yang jahat"


Jawab El pada Rebecca.

__ADS_1


Kemudian dari belakang dua orang yang mendukung El pun datang dengan membawa seorang mafia yang bekerja sama dengan Adiyasa dan 4 preman yang telah merampok dan membunuh semua anggota keluarganya.


Preman sama yang telah menyiksa Bu Damayanti dan Beno dimasa lalu.


El pun sangat mengingat wajah mereka dan disaat itu pula amarahnya kembali memuncak, di hadapan semua El menghajar semua preman itu sampai babak belur tanpa ampun.


"Karena kalian hidupku hancur, kalian telah merenggut semua kehidupanku, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup"


Ucap El dengan nada mengancam pada semua pemeran yang tidak berdaya itu.


"Ampun ampun, jangan sakiti kami lagi, kami mengaku kami yang telah membunuh keluargamu, kami minta maaf".


Ucap salah seorang preman memohon pada El agar dia tidak lagi menghajarnya.


"Minta maaf, segampang itu kalian minta maaf atas semua nyawa yang telah kalian lenyapkan hah, "


"Memang benar malam itu kami merampok kediaman Mr Rafael dan Bu Maria, dengan niatan ingin melenyapkan kamu, tapi kamu tidak ada saat itu, lalu kami mendapat perintah untuk menghabisi semua keluargamu"


Jawab preman.


Mendengar semua pengakuan para preman membuat seisi ruangan Rebecca terkejut, mereka tidak menyangka jika semua yang El ceritakan adalah benar adanya.


"Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghabisi keluarga Eliezer? Jawablah"


Tanya Rebecca di sebrang telpon saat mendengar semua yang preman itu akui.

__ADS_1


"Ayo cepat katakan kalian tidak boleh takut?"


Lanjut Rebecca pada keempat preman itu, El pun membalikkan tubuhnya dan meminta Rebecca untuk tidak ikut campur dengan masalahnya.


"Cukup kamu jangan bicara, ini adalah urusanku, kamu tidak berhak ikut campur dengan semua masalahku "


Ujar El marah pada Rebecca, karena mendahuluinya bertanya pada preman itu.


"ini adalah bagianku, kalian tidak boleh ikut campur?"


Ucap El pada semuanya, tatapan para preman kini mengarah pada Mr Mario sang mafia yang bekerja sama dengan Adiyasa.


Langkah El pun kini menuju Mr Mario yang menatapnya penuh dengan kebencian. El berjalan perlahan mengelilingi Mario. sedangkan Mario hanya tersenyum jahat padanya.


"Kamu ingin tahu siapa yang telah menyuruh ku? Ia kan? Tidak akan pernah bisa?"


Ujar Mr Mario pada El.


El pun membalas senyum jahat sang mafia dengan menembak satu preman tepat berada di sampingnya.


Dor


Suara tembakan kembali menggelegar menghiasai ruang sempit itu.


Satu preman pun tewas karena peluru yang El tembakan padanya.

__ADS_1


"Tidak"


Teriak Rebecca dari sebrang telpon.


__ADS_2