
Di ruang sidang pak Gatot, dan pak Dwiki sudah hadir dengan semua tuntutan yang El layangkan padanya atas tuduhan perampokan dan pembunuhan yang mengakibatkan Mr Rafael Bu Maria dan Patricia meninggal dunia dengan hadirnya Mila sebagai saksi kekuatan El akan semakin kuat.
Rebecca menjaga ketat keamanan Mila selama di ruang sidang hingga akhirnya El tiba bersamaan dengan jendral Adiyasa yang datang bersama polisi utusan pak Wisnu Adji.
Kedua pasang mata pun saling menatap tajam diantara keduanya.
Jendral Adiyasa menatap El dengan arogannya, El juga melihat Adiyasa dengan tatapan penuh dendam.
Hingga akhirnya seseorang di ruang sidang mengatakan
"Sidang akan di mulai, hadirin di mohon untuk tenang"
Semua audien pun dengan tertib mematuhi peraturan.
Sidang di mulai dengan dakwaan pada pak Dwiki dan pak Gatot atas tuduhan otak dari perampokan dan pembunuhan keluarga Mr Rafael.
"Semua itu fitnah yang mulia"
Ujar pak Gatot bersikeras membela diri.
Suasana pun mulai ricuh dengan pembelaannya, Abram pun berdiri dengan semua bukti yang akan memberatkan keduanya.
"Saya menjamin jika yang dikatakan klien saya Eliezer adalah benar, dan saya juga membawa bukti semua kejahatan mereka"
Kata Abram pada hakim sidang, beliau pun meminta Abram untuk memperlihatkan bukti tersebut.
Bukti pertama adalah Mila yang bekerja di kantor pak Dwiki, dia bekerja sebagai sekretaris pak Dwiki,
"Semua benar pak hakim, saya adalah sekretaris dari pak Dwiki, beberapa hari sebelum peristiwa itu terjadi pak Dwiki sempat berpesan padaku untuk tidak menerima panggilan telpon atau pesan dari Mr Rafael ataupun Mrs Maria dia juga meminta saya untuk tidak melayani keluhan mereka, saya juga mengetahui jika selama ini bos saya bekerja sama dengan pak Gatot untuk semua ini"
Penjelasan Mila dengan penuh air mata melawan rasa takut di dalam dirinya karena selama ini setiap kali dia hendak membuka suara, dia selalu mendapat ancaman dari pak Gatot akan keselamatan nyawa keluarganya.
"Bohong, semua itu tidak benar"
Teriak pak Dwiki yang mulai cemas dengan pengakuan Mila.
Melihat air mata Mila yang ketakutan, Rebecca meminta ijin untuk menyudahi dia untuk menjadi saksi karena takut berpengaruh pada kehamilannya, sang hakim pun mengerti dan meminta Mila untuk kembali ke kursi.
__ADS_1
"Terima kasih pak hakim"
Ucap Mila, sesekali dia menatap terdakwa pak Dwiki dan pak Gatot dengan sangat takut.
"Tidak usah takut, kamu dan keluargamu akan baik-baik saja".Rebecca coba Menenangkan Mila.
Setelah Mila berhasil menjadi bukti dan saksi akan kejahatan mereka, Abram kembali memberikan bukti lain pada sang hakim, bukti yang El dan yang lainnya tidak ketahui selain dia sendiri.
"Untuk lebih meyakinkan lagi ada satu bukti lain yang ingin saya berikan pada pak hakim untuk mengungkap jika klien saya Eliezer adalah anak dari jendral Megantara dan dia berkata yang sebenarnya bahwa otak dari perampokan yang menewaskan kelurganya adalah pak Dwiki dan pak Gatot"
Abram memberikan sebuah flashdisk pada sang hakim untuk mereka lihat.
El, Rebecca dan Bisma bingung, bukti apa sebenarnya yang Abram berikan pada sang hakim.
Mereka saling memandang penuh dengan pertanyaan stau sama lain.
Hakim menerima bukti, sang ajudan pun dengan sigap langsung membuka laptopnya dan melihat bukti tersebut.
Di layar monitor semua audien melihat bukti tersebut, terdengar dan terlihat dengan jelas
Teriak salah seorang perampok yang telah membunuh kelurga El
"Katakan siapa yang telah membayar mu?"
Tanya Abram pada perampok tersebut dengan menodongkan senjata api di kepalanya sebagai gertakan.
Karena takut jika pelatuk itu sampai mendapat di otaknya, sang perampok pun mengatakan jika mereka di bayar oleh kedua menteri yang selama ini selalu memakai jasa mereka.
"Siapa yang kalian maksud?" Abram.
"Baiklah baik saya akan mengatakan yang sebenarnya, tapi jangan habisi saya"
"Cepat katakan"
Abram kembali mengancam.
"Mereka adalah preman dan perampok yang telah membakar rumah jendral Megantara.mereka adalah Pak Dwiki dan pak Gatot"
__ADS_1
Ujar si perampok yang sangat ketakutan menyebutkan nama kedua menteri itu dengan jelas.
Semua audien bergemuruh karena tidak menyangka jika semua yang El katakan adalah benar.
Dan ternyata video tersebut Abram buat sebelum dia dan kawannya yang lain menyerahkan perampok itu pada El saat sedang negosiasi pada Rebecca dulu.
Abram melakukan video tersebut dengan kamera rahasia yang ada pada jam tangannya, sehingga di rekaman tidak terlihat siapapun selain perampok tersebut.
El, Rebecca dan Bisma sama sekali tidak menyangka jika Abram bisa melakukan semua ini untuk Eliezer.
Dalam pikirannya Abram memang sudah waspada dan mempersiapkan semua ini guna untuk membela El di suatu hari.
El tersenyum bangga pada sahabatnya itu, karena dia bisa berpikir jauh lebih dari dirinya, meski dalam hati El sangat cemas jika sang hakim mencurigai jika si perekam tersebut bukanlah dirinya? Dan jika itu sampai terbukti maka kelima sahabatnya itu pasti akan ikut terseret dalam kasusnya.
"Aku harus melakukan sesuatu jangan sampai hakim mencurigai siapa perekam tersebut"
Ucap El dalam hati.
"Bisa kita lihat, sang perekam di video tersebut adalah pelaku tinggal yaitu saudara Eliezer, benarkan saudara El?"
Tanya Abram padanya dengan memberi kode jari.
El mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Dan ternyata kini El tidak harus lagi melakukan suatu apapun karena Abram sudah melakukan yang terbaik untuknya dan menjaga rahasia kelima sahabat yang terlibat dalam penculikan itu.
El pun akhirnya bisa bernapas dengan lega.
Abram kembali menjelaskan semuanya dan sang hakim menerima semua penjelasan Abram dengan lapang.
Pengacara kedua terdakwa tidak bisa melakukan apapun krna bukti sudah terlalu memberatkan kliennya.
Pak Dwiki dan pak Gatot sangat marah dan malu karena mereka tidak ingin sampai terbukti dan di hukum penjara.
Sang hakim mengetuk palu agar semua di mohon kembali tenang karena putusan hukum untuk kedua terdakwa segera mereka berikan.
Pak Gatot dan dan Dwiki melihat ke arah jendral Adiyasa, namun dari gelagatnya pak Adiyasa terlihat sekali meminta kedua rekan jahatnya itu untuk diam.
__ADS_1