
"Bagaimana ini Abram? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Rebecca pada Abram yang khawatir jika keadilan untuk El akan gagal.
Bisma pun ikut bertanya dan berpikir bukti apa yang bisa dia berikan untuk meyakinkan hakim?
Namun untuk kali ini Abram pun dibuat pasrah mengingat ternyata Adiyasa memang bukan lawan yang mudah mereka kalahkan.
El bangkit dan berkata pad semuanya
"Sudahlah jika memang tuhan menakdirkan mereka berkuasa diatas semua kejahatan maka sekuat apapun kita melawannya maka kita tidak akan pernah mampu untuk meruntuhkan dia, tapi jika sebaliknya terjadi maka akan ada keajaiban di ujung cerita agar keadilan bisa kita raih"
Ucap El dengan perasaan pesimisnya.
Semua pun terdiam saat El mengatakan semua itu.
Dengan pelan El berjalan menuju Abram dan memeluknya.
"Terima kasih kawan karena kamu selalu mendukung aku hingga sampai saat ini, kamu memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang ini, teruslah berjuang "
Ucap El pada Abram berterimakasih.
"Kamu tidak boleh mengatakan semua itu El, kita akan menang aku yakin itu"
Jawab Abram dengan mata yang berkaca-kaca.
Rebecca keluar dari ruangan itu dengan air mata yang berlinang tidak kuasa menahan sedih dihatinya akan El.
"Ini tidak adil, tidak adil..."
Teriak Rebecca memukul dinding di depannya.
"Kenapa ini harus terjadi lagi padanya tuhan, apakah keadilan untuk Rami dan kakakku memeng tidak ada, tolong aku tuhan"
Ucapnya dengan air mata yang masih terisak.
...
Eliezer pun berbicara pada kakaknya.
"Sebaiknya kakak tidak usah kembali lagi ke jalur Gaza, ada banyak pekerjaan juga disini yang bisa kakak lakukan, aku hanya memilikimu sekarang, jangan tinggalkan aku terlalu jauh ka, aku tidak ingin kehilanganmu lagi "
__ADS_1
Ucapnya menatap wajah sang kakak.
Bisma hanya mengangguk sedih dan merangkul adiknya itu.
Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya selain air mata.
"Jangan bersedih ka, aku hanya di kurung beberapa tahun saja jadi kakak bisa kapan saja menjenguk aku kesini"
Ucap El dengan senyum sedih di wajahnya.
"Tidak El tidak bisa, kamu tidak boleh di penjara".
Kata Bisma.
...
Sidang pun kembali dilanjutkan,
Semua sudah bersiap di tempat masing-masing termasuk Adiyasa sang penguasa dia terlihat begitu antusias untuk menang.
Lain hal nya dengan kubu El, raut wajah mereka seakan pasrah menerima keputusan hakim karena mereka memang tidak memiliki bukti yang kuat atas tuduhannya pada Adiyasa.
Ajudan hakim mulai membuka sidang dengan meminta Darius sang pengacara Adiyasa kembali membeberkan semua bukti untuk tuduhan tidak benar yang menimpa klien nya itu.
Termasuk supir yang membawa mobil box berisikan obat terlarang dan uang haram tersebut.
"Bisa kita lihat sendiri, supir yang membawa mobil box tersebut adalah kepercayaan mendiang jendral Megantara, jadi tidak ada kaitannya dengan klien saya yaitu pak Adiyasa."
Semua melihat foto bukti yang Darius beberkan.
Kubu El pun semakin tersudut, setelah semua bukti Adiyasa sudah di keluarkan hakim kini kembali bertanya pada Abram mengenai bukti untuk membela Eliezer.
"Mohon maaf pak hakim, kami masih belum memiliki bukti untuk semua tuduhan terangkat Eliezer pada pak Adiyasa, sekiranya anda berkenan mohon beri kami waktu sampai esok hari"
Ucap Abram di tentang Darius sang pengacara.
"Mohon Maaf pak hakim tidak bisa seperti itu, bukankah hakim sudah memberi anda waktu istirahat tadi untuk mencari bukti"
Ujar Darius menentang permintaan Abram.
Disini Abram pun tidak bisa banyak berkata.
__ADS_1
Melihat sahabatnya tertunduk lesu, El pun menatapnya lemah sekan memberi kode padanya untuk menyerah saja.
Hakim pun menerima saran dari Darius untuk waktu pencarian bukti yang telah diberikan tadi.
Hakim sendiri sebetulnya sangat kecewa karena ternyata kubu El akan kalah, hingga akhirnya di sisa menit terakhir saat hakim hendak mengetuk palu dia kembali bertanya
"Saudara Abram untuk sekali lagi apakah ada bukti yang ingin anda berikan di persidangan ini?"
Tanya hakim.
Sidang yang disiarkan secara langsung itu banyak sekali di tonton masyarakat tanah air, tidak sedikit orang yang ingin El di hukum berat atas pembunuhan dan penculikan yang dilakukannya, namun ada juga yang ingin El dibebaskan karena dia memang korban dari ketidak Adilan sang Adiyasa.
"Baiklah karena bukti tidak kuat untuk tuduhan terangkat Eliezer pada saudara Adiyasa maka hukum akan di putuskan..."
Tepat lima detik lagi palu akan di ketuk, pintu ruang sidang terbuka dengan sangat keras hingga membuat semua orang terkejut melihat kedatangan seorang pria tua dengan tongkat di tangannya.
"Jangan ketuk palu nya pak hakim, saya bersaksi saya adalah bukti nyata akan kejahatan sang jendral Adiyasa"
Ujar pria tua yang ternyata adalah pak Jaka, pria yang sempat Adiyasa aniaya dengan melemparkannya ke jurang.
Semua pun dibuat terkejut dengan pengakuan pak Jaka.
El menangis bahagia melihat keajaiban datang disaat terakhir itu.
Abram dan Rebecca segera membawa pak Jaka ke tempat saksi untuk memberikan pengakuannya.
Adiyasa sendiri juga tidak menyangka jika ternyata pak Jaka masih hidup setelah dia lempar kedalam jurang.
Dan akhirnya pak Jaka pun memberikan saksinya.
"Nama saya Jaka pak hakim, saya memang tidak ada ikatan apapun dengan dengan keluarga mendiang jendral Megantara namun saya tidak bisa tutup mata untuk semua kejahatan yang telah pak Adiyasa lakukan kepada keluarganya."
Ucap pak Jaka memulai keterangannya.
"Saat itu saya hendak membawa motor saya di rumah jendral Megantara karena ajudannya yang bernama Beno meminjamnya dari saya, namun saat saya datang ke rumah nya disana sang istri jendela Megantara yaitu Bu Damayanti sedang di sekap bersama Beno dan anaknya, saya melihat sendiri beberapa perampok sedang menyiksa mereka bahkan menebak lengan dan kaki dari Bu Damay dan Beno"
Sebuah pengakuan mengejutkan yang membuat semua pendengar miris dan takut mendengarnya.
"Namun saat saya hendak menelpon polisi tiba-tiba saja seseorang memukul saya hingga pingsan dan saat sadarkan diri tubuh saya sudah terikat dan dibawa masuk kedalam mobil, disana jendral Adiyasa sedang menghubungi anak buah yang masih polisi untuk memaksa jendral Megantara untung menyetujui tuduhan yang dilayangkan kepadanya pak hakim, tuduhan akan kepemilikan barang haram dan uang gelap yang ditemukan di mobil box itu"
Lanjut pak Jaka sangat di dengar oleh hakim dan semua orang.
__ADS_1
El dan Bisma tidak kuasa Manahan tangis saat mendengar pengakuan pak Jaka, pikirannya tertuju kedua orangtuanya.