
Bi Saripah terus berteriak minta tolong sebelum mereka menghabisi dia dengan menjatuhkannya ke bawah dan mendarat tepat di meja kaca ruangan tengah.
Rami pun tidak kuasa menahan kesedihan akan apa yang terjadi pada bibinya itu, diapun berniat untuk keluar dari persembunyiannya tapi tiba-tiba.
"Halo bos, mereka memang sedang tidak ada di rumah, jadi bagaimana langkah selanjutnya?"
Ucap ketua preman pada seseorang disebrang telpon.
Terdengar perintahnya untuk menunggu Bu damayanti dan anaknya kembali ke rumah.
"Baiklah bos, "
Jawab ketua preman itu tepat berdiri di samping tiang tempat Rami bersembunyi, preman itu pun sedikit menggerutu
"Jika tidak untuk uang, aku tidak akan melakukan semua ini, maafkan aku jendral "
Ucap ketua preman itu sambil melihat ke arah foto pak Megantara dan keluarganya.
Suara preman itu tidak asing ditelinga Rami, rasanya dia sangat mengenal betul suara preman itu, tapi siapa?
Karena penasaran ingin tahu wajah preman yang ada di kamarnya itu, Rami pun coba jongkok untuk melihat ke luar dari ventilasi dibawah, namun dia tidak berhasil karena preman itu terlanjur keluar dari kamarnya.
Kini Rami pun hanya nisa pasrah menunggu waktunya tiba untuk dia pergi dari rumahnya tanpa diketahui para preman yang hendak menculiknya.
Rami terus berpikir dan terus mengingat suara preman itu, namun tetap tidak bisa meski dia memaksa.
Dia pun penasaran siapa yang telah menyuruh preman itu untuk menangkap dirinya dan sang ibu padahal keluarganya tidak mempunyai musuh meski ayahnya adalah seorang mantan jendral ketua polisi.
Preman itu pun akhirnya turun kebawah dan menunggu Bu Damayanti pulang.
...
Bu Damayanti pun tiba di kantor polisi dia menanyakan keberadaan suaminya kepada salah seorang sipir disana.
"Maaf pak? Dimana pak Megantara berada? Apa saya bisa bertemu dengannya?"
Tanya Bu Damayanti, sipir itu pun nampak terlihat sangat sinis melihat Bu Damayanti.
Tatapannya sangat berbeda dari biasanya.
"Pak Megantara sang mafia obat terlarang berkedok jendral itu?"
__ADS_1
Ujar sang sipir mengatakan jika suaminya adalah seorang mafia obat terlarang,
Bu Damayanti pun marah karena tidak terima suaminya dihina seperti itu.
"Beraninya kamu mengatakan suami saya seorang mafia? Jangan karena dia sudah menjadi mantan jendral, kamu bisa seenaknya mengatai suami saya"
Jawab Bu Damayanti dengan tegas membela suaminya itu.
Sipir itupun hanya tersenyum simpul tanpa menjawab semua kemerahan Bu Damayanti, dia pun akhirnya meminta Bu Damayanti untuk ikut dengannya.
"Mari ikut dengan saya"
Ajak sipir itu membawa Bu Damayanti menuju pak Megantara.
Meski hatinya masih merasa kesal, namun Bu Damayanti tetap berusaha untuk tenang.
Tanpa curiga sedikitpun Bu Damayanti pun mengikuti sang sipir yang membawanya ke sebuah ruangan yang cukup jauh dari beberapa sel di kantor polisi itu.
"Suami saya dimana? Kemana bapak membawa saya?"
Tanya Bu Damayanti yang mulai merasa curiga pada sang sipir yang membawanya ke sebuah ruangan kosong tanpa satupun penghuni didalamnya.
"Ibu tunggu saja disini, nanti jendral akan datang kemari"
"Loh pak, kenapa di kunci, buka pintunya,buka".
Teriak Bu Damayanti menggedor pintu besi itu, namun teriakannya seakan tidak di dengar oleh sang sipir.
Bu Damayanti pun coba menghubungi Beno untuk meminta pertolongan, namun tidak ada signal sedikitpun di ruangan itu, sehingga dia tidak bisa menggunakan ponselnya, dan sepertinya mereka memang sengaja memilih ruangan itu untuk menyekap Bu Damayanti atas perintah atasannya dengan alasan bertemu dengan pak Megantara.
Ikatan batin antara sang satpam dan majikannya yang memang sangat setia kepada keluarga jendral Megantara pun sangat kuat,
Di luar Beno yang menunggu diluar sudah cukup merasa kesal, diapun mulai merasa tidak enak hati, karena sudah cukup lama Bu Damayanti di dalam, Beno pun coba menghubunginya namun tidak tersambung, perasaanya pun mulai cemas, Beno pun coba menanyakan Bu Damayanti pada salah satu polisi didalam namun mereka mengatakan jika Bu Damayanti tidak ada disini.
"Bu Damayanti istrinya jendral Megantara? Dia tidak ada kesini"
Jawab polisi tersebut.
"Tapi pak, saya yang mengantarnya datang kesini, dan saya lihat sendiri Bu Damayanti tadi masuk kesini?"
Tanya Beno kembali menanyakan keberadaan majikannya itu.
__ADS_1
Namun polisi itu bersikeras jika Bu Damayanti memeng tidak ada datang ke kantornya.
Mereka pun meminta Beno untuk segera kembali dan pulang, namun Beno yang tidak percaya sedikitpun dengan semua yang mereka bicarakan coba masuk kedalam melewati jalan belakang. Dia sangat yakin sekali jika majikannya saat ini sedang dalam bahaya, tapi dia tidak tahu bahaya apa ya sedang mengintai majikannya itu.
Beno pun mulai masuk dan melihat ke setiap sudut sel didalam, namun tidak ada tanda tanda keberadaan Bu Damayanti.
Beno terus berpikir kemana perginya sang majikan, hingga akhirnya dia melihat seorang sipir yang berjalan dari lorong gelap menuju kedepan kantor.
Beno pun sedikit mencurigai gerak geriknya sipir itu dan memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam.
Sipir itupun terlihat menghubungi seseorang dan mengatakan
"Semua pekerjaan beres bos, dia sudah masuk jebakan, anda bisa datang untuk menemuinya"
Ujar sang sipir pada seseorang di balik telepon yang membuat Beno semakin curiga.
"Apa maksudnya? Dan siapa yang mereka jebak? Aku harus tahu tentang ini?".
Pikir Beno menunggu siapa yang hendak datang menuju ruangan yang dia sebut jebakan itu.
Dan tidak lama kemudian seseorang bertubuh tegap dan berperawakan bijak datang menuju lorong gelap itu, dia berjalan dengan sangat tenang dan berwibawa menuju tempat dimana Bu Damayanti berada.
Beno pun melihat ke arah sekitar, setelah dirasa aman, diapun coba mengikuti pria itu dengan hati-hati.
Si pria berpesan pada sang sipir agar menjaganya di luar selagi dia berada di dalam ruangan itu.
"Jangan sampai ada orang yang datang kemari, kunci pintu dari luar dan berjaga"
Pesan sang pria misterius pada sang sipir.
"Baik pak"
Jawab sipir menuruti perintah pria itu.
Pria itupun akhirnya masuk kedalam ruangan Bu Damayanti terkurung,
Saat terdengar ada seseorang diluar ruangannya, Bu Damayanti pun kembali berteriak meminta tolong untuk dibukakan pintunya.
"Tolong, siapapun di luar, tolong buka pintunya"
Teriak Bu Damayanti kembali menggedor pintu besi itu.
__ADS_1
Beno pun mendengar teriakan sang majikan dan akhirnya dia pun yakin jika majikannya sedang dalam bahaya.
"Bu Damayanti, itu Bu Damayanti, dia pasti sedang dalam bahaya"