
Bersamaan dengan itu buku El dan senter Patricia pun jatuh, buku hitam El menyender pada tembok hingga lampu senter Patricia berhasil menyinari selembar kertas tersebut.
Betapa terkejut Eliezer saat melihat cahaya lampu senter menyinari buku hitamnya.
Perlahan tulisan sang ayah muncul karena sinar lampu di kegelapan itu menembus bukunya.
"Oh astaga, amazing"
Ucap El memeluk Patricia yang sama terjatuh dengan dirinya karena bahagia.
Sedangkan Patricia heran mengapa El bisa sebahagia ini.
El pun bangkit untuk meraih buku dan senter milik Patricia,
"Kemari Lah Patricia, aku ingin menunjukan sesuatu padamu"
El pun akhirnya berhasil memecahkan rahasia dibalik isi buku hitam milik ayahnya berkat bantuan Patricia.
Dan setelah El berhasil mengetahui isi dari buku itu El pun berniat untuk menemui hakim Wahyu Simatupang, hakim yang memvonis ayahnya dulu. Dengan bukti buku tersebut El berharap bisa memberi keadilan untuk sang ayah dan membuka kejahatan jendral Adiyasa serta jajarannya.
El dan Patricia pun akhirnya kembali ke tanah air dengan semua niat dan harapan yang tinggi.
Mr Rafael dan Bu Maria pun kini semua sudah mengetahui isi buku tersebut.
"Ternyata sejahat itu jendral Adiyasa! "
Ucap Bu Maria yang merasa marah dengan semua kejahatan mereka pada keluarga Eliezer.
"Pergilah nak, segera buka kedok kejahatan jendral bejat itu, kami semua mendukungmu"
Pinta Mr Rafael dengan semua dukungannya.
Eliezer pun akhirnya segera menuju rumah hakim Wahyu dengan membawa buku hitam tersebut.
"Kamu jangan ikut ya, kamu harus istirahat doakan saja aku semoga semua berjalan dengan lancar"
Permintaan Eliezer pada Patricia.
"Tapi kamu harus janji, kamu harus cepat kembali kesini ya "
Jawab Patricia memeluk Eliezer.
"Aku ingin memberitahu sesuatu padamu"
Bisik Patricia manja.
"Aku pasti akan segera kembali jika semua ini sudah selesai, jaga diri kamu baik-baik ya"
__ADS_1
Jawab El tersenyum pada istrinya itu.
...
Eliezer pun segera pergi menuju rumah hakim, namun di tengah perjalanan salah seorang anak buah pak Andra melihat El yang pergi menuju rumah sang hakim, karena penasaran dia membuntuti El untuk mencari tahu tujuannya.
Eliezer pun tiba di rumah pak Wahyu.
"Bisakah saya bicara sebentar dengan anda?"
Ucap El dengan sopan.
"Tentu ada apa anak muda? Apa yang bisa saya bantu?"
Tanya pak Wahyu.
Sebelum bicara pada niatnya El pun memberikan buku hitam milik jendral Megantara padanya. Dan itu sangat membuat pak Wahyu terkejut dan diam perlahan pak Wahyu mengambil buku tersebut dan membukanya.
Dia bertanya siapa El dan apa hubungannya dengan buku hitam ini?
"Apa bapak tahu itu buku hitam milik siapa?"
Tanya Eliezer.
"Apa ini buku hitam milik Megantara?"
Eliezer pun menganggukkan kepalanya.
"Anda bisa melihat dulu semua isi didalam buku tersebut"
Ucap Eliezer pada pak Wahyu.
Meski tanpa melihat semua isi didalam buku tersebut sebenarnya pak Wahyu sudah bisa menebak isi di dalam buku tersebut, karena sebenarnya dia tahu jika jendral Megantara tidaklah bersalah dan semua itu hanyalah sebuah konspirasi dari jendral Adiyasa.
Dan sebenarnya yang terjadi sebelum hakim Wahyu Simatupang memberikan vonis mati tersebut. Dia sempat menemui jendral Megantara dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Jendral Megantara mengatakan yang sebenarnya mengenai Adiyasa saat itu bahkan hakim Wahyu pun sudah mau membantunya untuk membuka kebenaran mereka namun.
"Jangan hakim, mereka sudah mengancam ku dengan menyekap semua keluargaku, aku tidak mau ambil resiko dengan keselamatan mereka, aku hanya minta padamu jika aku benar tiada nanti tolong jaga keluargaku kedua anakku harus tumbuh dewasa agar mereka bisa menjadi sepertiku"
Pesan terakhir jendral Megantara padanya sebelum vonis mati.
Dan saat memberikan vonis tersebut batin pak Wahyu terus berperang dengan hati nuraninya. Karena untuk pertama kalinya dia akan menjatuhi sebuah keputusan yang salah pada orang yang tidak bersalah. Namun karena sebuah tuntunan dan bukti yang kuat akan kejahatan terlimpah pada jendral Megantara akhirnya hakim Wahyu pun mengetuk palu dan memvonis jendral Megantara dengan hukuman mati.
...
Setelah membuka lembar demi lembar buku tersebut dengan semua ingatannya pada jendral Megantara, tanpa terasa air matanya menetes.
"Sejak saat itu aku langsung mengundurkan diri sebagai hakim karena semua keputusanku pada jendral baik seperti dia, hidupku sangat tenang karena tidak bisa menolongnya"
__ADS_1
Ucap pak Wahyu.
"Jadi itu artinya bapak tahu jika beliau tidak bersalah? "
Eliezer pun akhirnya mengetahui semua cerita tentang ayahnya semasa di sel dan permintaannya pada pak Wahyu untuk menjaga keluarganya.
"Aku sangat menyesal sekali sampai saat ini, karena aku terlambat menyelamatkan keluarga beliau, saat aku tiba disana semua sudah menjadi abu"
Ucap pak Wahyu menyesal.
"Semua belum terlambat pak, jika memang sampai saat ini niat bapak untuk menolong jendral Megantara masih ada, tolong bantu saya untuk membuka kebenaran ini"
"Maksud kamu?"
"Aku adalah saksi kunci untuk semua kejahatan jendral Adiyasa, aku sendiri masih ingat semua siksaan yang mereka berikan pada keluargaku, karena akulah anak dari jendral Megantara"
Pak Wahyu sangat terkejut dengan pengakuan Eliezer padanya, begitupun dengan anak buah pak Andra, segera dia mengirim video yang dia rekam sejak awal El bicara dengan pak Wahyu.
Eliezer pun menceritakan bagaimana kisahnya dia bisa selamat dan tumbuh besar di Inggris bersama orangtua angkat yang sangat menyayanginya.
Sedangkan di tempat lain jendral Adiyasa dan pak Andra yang melihat semua pembicaraan Eliezer pun sangat marah dengan semua niat Eliezer padanya, mereka tidak menyangka jika anak jendral Megantara selamat dan masih hidup. Merekapun merencanakan sesuatu padanya.
Mendengar semua itu semangat Aditya untuk melepaskan diri pun mulai bangkit kembali, dia harus bisa menyelamatkan sahabatnya dari semua rencana jahat Adiyasa dan Andra.
Melihat kunci tergeletak di meja Aditya pun segera membawanya tanpa mereka sadari.
Sementara Adiyasa dan Andra sedang sibuk memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai Eliezer.
.
.
.
"Bagaimana pak, apa bapak bisa membantu saya?"
Tanya El sekali lagi pada pak Wahyu.
Namun dari belakang bibi memanggil pak Wahyu karena ada telpon untuknya.
"Maaf tuan ada telpon untuk tuan"
Ucap bibi pada hakim Wahyu.
"Sebentar ya nak"
Pinta hakim Wahyu meminta El untuk menunggunya.
__ADS_1
Namun siapa sangka ternyata telpon tersebut adalah panggilan ancaman dari jendral Adiyasa padanya agar tidak membantu Eliezer. Hakim Wahyu pun bingung mengapa dia bisa sampai tahu, hakim Wahyu melihat ke arah sekitar rumahnya dan ternyata memang ada seorang anak buah Adiyasa yang mengintai dirinya.