Eliezer

Eliezer
Tamat


__ADS_3

El dan Bisma tidak kuasa menahan tangis saat mendengar pengakuan pak Jaka, pikirannya tertuju pada kedua orangtuanya.


Mendengar pengakuan pak Jaka, Adiyasa pun berdiri dan menunjuk tangan ke arahnya seraya berkata


"Bohong, semua itu bohong"


Ujar Adiyasa dengan tatapan penuh kemarahan pada pak Jaka.


Suasana pun kembali ricuh dan tegang, Abram coba mengendalikan dan menenangkan pak Jaka untuk tidak takut, namun ternyata pak Jaka lebih kuat dari yang mereka pikirkan.


Pak Jaka justru sudah mempersiapkan diri dengan segala resiko yang harus dia hadapi saat memutuskan untuk membela Eliezer.


"Tidak ada kebohongan sedikitpun semua yang saya katakan pak hakim, semua adalah benar, saya sendiri saksi dan bukti hidup akan kejahatan dia, mungkin tuhan masih membiarkan aku hidup untuk ini. Untuk membantu membela keadilan mendiang jendral Megantara dan anaknya"


Jawab pak Jaka dengan tegasnya.


"Dan saya pun yakin mungkin ada banyak hati disini yang masih ragu dan takut untuk membuka kejahatan beliau karena beberapa ancaman, tapi itu tidak berlaku untuk saya. Saya bertahan hidup dan berjuang sampai kesini demi keadilan semuanya"


Lanjut pak Jaka membuat air mata El dan Bisma semakin tak tertahankan, begitupun dengan Rebecca.


.


.


.


"Saya juga bersaksi untuk semua kejahatan yang di lakukan jendral Adiyasa pak hakim"


Seorang pria berdiri di belakang memberi pembelaan untuk Eliezer.


Semua orang pun terkejut karena ternyata itu adalah mantan hakim Wahyu Simatupang, hakim yang dulu menjatuhkan hukuman mati untuk jendral Megantara atas paksaan Adiyasa.


Adiyasa tidak kalah terkejutnya dengan semua orang.


"Apa apa an ini? Bisa-bisa nya mereka menyerang ku seperti ini? Ini tidak boleh dibiarkan?"


Ujar Adiyasa kebakaran jenggot.


Darius pun dibuat panik dengan semua pembelaan yang satu persatu muncul kepermukaan setelah pak Jaka dan pak Wahyu bersaksi, beberapa sipir penjara yang berada di bawah ancaman Adiyasa pun kini berani angkat bicara dan semakin menyudutkannya.


Sidang yang di tayangkan secara live di stasiun televisi ini pun membuat kegaduhan publik di masyarakat.


Pada saat itu juga ramai massa turun ke jalan hanya untuk mendemo akan kejahatan Adiyasa.


Air mata kemenangan mulai tercium wangi di kubu Eliezer, Abram tidak menyangka jika semua akan berjalan dengan semudah dan sekuat ini dalam membela Eliezer.


"Mereka adalah orang baik, tuhan juga tidak akan pernah berlaku tidak adil bagi mereka yang selalu melakukan kebaikan"


Pikir Abram mengenang cerita kebaikan jendral Megantara.


"Cepat lakukan sesuatu Darius "


Adiyasa menekan sang pengacara.


"Ini tidak mudah tuan, terlalu banyak bukti yang muncul akan kebenaran disertai bukti"


Jawabnya berpikir.


Melihat suasana sidang semakin ricuh, hakim pun meminta semua untuk tenang karena hakim akan memutuskan.


Beberapa menit hakim dan ajudannya berunding untuk kputusan pada Adiyasa hingga akhirnya keluar lah


"Untuk tuduhan tersangka Eliezer pada saudara Adiyasa akan pelenyapan keluarga dan tuduhan palsu pada mendiang jendral Megantara mengenai ditemukannya obat terlarang berserta uang terbukti BENAR. Oleh sebab itu sidang memutuskan seberat-beratnya hukuman MATI dengan denda Rp 3 triliun"


"TOK...


TOK


TOK.."


Putusan hakim langsung ketuk palu tiga kali yang berarti putusan tidak bisa di ganggu gugat kembali.


"Hore"


Sorak gembira masyarakat yang menyaksikan sidang tersebut terdengar sangat ramai atas putusan hakim pada Adiyasa, tidak terkecuali pak Wisnu Adji beserta jajarannya yang memeng tidak pernah bisa melawan kekuasaan Adiyasa.


Beruntung pak Jaka datang tepat pada waktunya dan membuka setiap mata hati yang takut akan ancaman Adiyasa.


El bersujud syukur saat hakim memvonis mati Adiyasa, karena akhirnya untuk pertama kali keadilan dirasa cukup dia terima.


Tak lupa El dan Bisma memeluk pak Jaka dan berterima kasih padanya atas semua pembelaan dan kesaksian untuk dirinya.


"Aku masih ingat padamu pak, tapi aku tidak menyangka jika takdir akan mempertemukan kita lagi disaat seperti ini, terimaksih untuk semuanya, disaat saya hampir putus asa dan menyerah engkau datang dengan secercah cahaya membuka mata hati mereka yang gelap "


Ucap El pada pak Jaka.


"Tidak usah berterima kasih padaku nak, mungkin ini memang sudah rencana tuhan untuk memanjangkan umurku, berbahagialah karena kini ayah dan ibumu pasti sedang tersenyum bangga kepadamu."


Jawab pak Jaka bijak.

__ADS_1


Kubu Adiyasa kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa saat hakim sudah mengetuk palu, tatapan jahat Adiyasa pun masih tertuju pada El, namun saat itu dia tidak ingin menambah keributan di dalam sidang dengan menyerangnya.


Sempat dia ingin membidik El dengan senapan yang selalu dia bawa di dalam jasnya, namun itu percuma.


Akal jahat Adiyasa masih bisa berjalan dengan tersenyum licik dia melihat ke arah El yang menatapnya dengan penuh kemenangan.


Namun bukannya Adiyasa merasa takut karena vonis mati itu, dia justru memberi simbol tembakan di kepala ke arah El dengan ucapan.


"Dor..."


El hanya tersenyum dengan tingkah Adiyasa yang ingin menembaknya.


Sidang pun selesai semua audien membubarkan diri.


Adiyasa segera di amankan di ruangan khusus bersama pak Wahyu dan pak Gatot. Ruangan khusus para pejabat lebih tepatnya, disana mereka bertiga sedang bercakap ria dan tertawa bahagia, tidak ada rasa takut sedikitpun di mata Adiyasa untuk vonis tersebut.


"Hahaha mereka sangat bodoh sekali, bodoh sekali mereka pikir mereka akan menang melawanku, tidak akan tidak akan pernah menang"


Kata Adiyasa pada kedua rekannya itu.


"Ya jendral mereka memang sangat bodoh, dengan mudah mereka percaya jika anda akan di vonis mati, haha.


Jendral bisa saja di vonis mati, tapi yang akan di eksekusi belum tentu jendral, hahaha"


Ucap pak Gatot terdengar oleh Eliezer yang memeng hendak menemui mereka.


El pun datang dengan tiba-tiba mengejutkan mereka.


"Jadi siapa yang akan menggantikan anda untuk di eksekusi jendral?"


Ujar El tiba-tiba datang di ruangan sel mereka.


"Kau.."


"Bocah tengil.."


Ucap pak Gatot dan pak Dwiki.


El berjalan menuju meja bundar tempat mereka duduk santai dengan secangkir kopi dan kue hangat yang tersaji, meski mereka memakai baju tahanan namun perlakuan mereka bak seperti tuan rumah, dan itu sudah tidak asing lagi untuk Eliezer.


"Untuk apa kamu kemari?"


Tanya Adiyasa.


"Tenang saja jendral, aku datang kesini hanya untuk membantu mu"


Eliezer.


Adiyasa.


"Membantumu agar cepat mati"


Jawab El singkat.


"Kurang ajar kamu.."


Teriak Adiyasa marah akan semua yang diucapkan El padanya.


"Tenanglah, tidak usah marah, aku hanya ingin bertanya pada kalian apakah kalian bahagia atas hukuman yang kalian terima?"


Tanya El pada mereka.


Pak Dwiki menertawakan semua yang dikatakan El pada mereka.


Pak Dwiki mengatakan jika El adalah orang bodoh pertama yang mau melawan Adiyasa.


"Kamu memang bodoh El, di dalam sidang kamu boleh saja menang tapi lihatlah sebentar lagi, Harimau kami sudah mengincar setiap mata yang membela kamu kemarin"


Ucap pak Dwiki.


El pun tersenyum tenang.


"Itu jika besok Harimau kalian masih hidup"


Jawab El membuka baju tahanan yang di pakainya.


Betapa terkejut mereka melihat bom bunuh diri yang di pakai El terpasang rapi di tubuhnya.


Mereka melihat sendiri jika bom itu aktif dalam waktu lima menit lagi.


"Apa Apaan ini?"


Tanya Adiyasa panik melihat bom aktif yang ada di tubuh El.


"Matikan itu sekarang juga El, matikan"


Pinta pak Dwiki.


"Kamu mau kami mati bersama disini hah, gila kamu El, pergi kamu dari sini"

__ADS_1


Ujar pak Gatot yang ketakutan.


"Aku tidak sebodoh itu jendral, itu sebabnya aku kemari untuk menjemput nyawa kalian, agar tidak ada nyawa lain yang kalian beli untuk menggantikan hukum mati mu yang mulia jendral Adiyasa."


Ucap El serius.


Waktu semakin berputar dengan cepat membuat kedua menteri pengecut itu berlarian mencari jalan keluar, namun pintu sudah terkunci dari luar.


"Kalian tidak akan bisa lari kemanapun, karena sedikit saja kalian pergi dari sini maka tombol ini akan langsung aku tekan dan BOOM kita semua akan musnah, hahaha"


Diluar ruangan, Bisma dan Rebecca sangat panik sekali dengan keputusan Eliezer untuk melakukan bom bunuh diri bersama mereka.


Bisma sudah melarangnya dengan keras, namun dia bersikukuh ingin menghancurkan akar dari semua masalahnya.


Hingga dalam hitungan sepuluh detik Rebecca dan Bisma pun menjauh dari ruangan sesuai dengan permintaan Eliezer.


Dan akhirnya didalam ruangan El yang berdiri tepat di samping jendela menghitung mundur dengan tatapannya pada jendral Adiyasa, pak Dwiki dan pak Gatot.


"Tidak nak, jangan..."


Pinta pak Gatot memohon begitupun dengan pak Dwiki, tapi tidak dengan Adiyasa dia hanya diam tenang melihat Eliezer.


"Tiga...


Dua...


Satu..."


Adiyasa menutup mata dan El pun menekan tombol bom yang terpasang di tubuhnya.


"BOOM..."


Seketika dalam hitungan satu detik semua pun musnah


Ledakan besar pun tak terelakan, kobaran api melahap semua yang ada di dalam ruangan itu tanpa terkecuali.


Seketika siaran langsung di setiap berita pun ramai dengan akan pemberitaan ledakan bom yang menewaskan tersangka vonis mati jendral Adiyasa, pak Gatot, pak Dwiki dan Eliezer.


Masyarakat sangat terkejut dan tidak menyangka jika mereka bisa menjadi korban ledakan bom yang terjadi.


Hingga akhirnya kisah kejahatan dan kelicikan Adiyasa pun berakhir bersamaan dengan harumnya kembali nama jendral Megantara atas apa yang El perjuangkan selama ini dalam melawan Adiyasa.


DUA TAHUN KEMUDIAN.


"Halo dengan agency CVR Skotlandia, ada yang bisa saya bantu?"


Rebecca pun menerima laporan sebuah kasus dari seorang pejabat tinggi negara jika anaknya telah di culik oleh sekelompok gembong narkoba yang dendam kepadanya.


Rebecca berjalan menuju sebuah ruangan dan berkata.


"Ada kasus baru yang harus segera kita selesaikan ka Bisma"


Ucap Rebecca pada Bisma dengan menceritakan rincian kasus tersebut.


Dari belakang seseorang pun berkata.


"Biar aku yang akan mengambil kasus ini. Aku Eliezer"


Semua pun tersenyum karena sebenarnya Eliezer masih hidup.


Dia berhasil selamat dari ledakan bom tersebut di waktu yang tepat.


Sesuai rencana kematian palsu El pun juga sudah memang sudah direncakan. Dan kini Eliezer, Bisma, Rebecca pun bekerja di sebuah agency rahasia CVR dibawah kepemimpinan pak Wisnu Adji.




TAMAT


Salam sejahtera semuanya


Terimakasih untuk semua pembaca yang selalu setia dengan tulisan receh saya, semoga menghibur dan menjadi kebaikan untuk semuanya 🤲


Mohon maaf jika di dalam penulisan masih banyak kekurangan.


Yang setuju Eliezer ada season ke 2 nya komentar ya


Terimakasih.


Simak juga cerita MAHEER QIRANI yang lain, tentunya seru semua




Jangan lupa subscribe, like vote dan komentarnya ya.


We love u

__ADS_1


Happy reading all


__ADS_2