
Adiyasa terdiam melihat bocah itu menembak ke arah langit, namun beberapa saat kemudian bocah itu berteriak pada Adiyasa.
"Ini untuk paman Beno"
Dor ...
Satu tembakan mendarat di kaki kiri Adiyasa.
"Ini untuk ibu Damayanti"
Dor ...
Satu tembakan kembali mendarat di lengan kanannya.
"Ini untuk ayah Megantara "
Dor...dor...
Dua tembakan masuk di dada dan jantungnya Adiyasa.
Adiyasa pun jatuh tersungkur tanpa bisa bicara sepatah katapun, dia hanya bisa menatap wajah anak kecil yang penuh dengan kemarahan dari tatapannya itu.
Rami si bocah kecil yang siap membalaskan dendam kematian keluarganya pun berteriak dengan keras hingga menggelegar sampai penjuru langit.
Dengan mengangkat tangan keatas dan menunjuk ke arah Adiyasa, Rami berteriak
"Dan ini pembalasanku jendral "
Teriak Rami di iringi raungan singa yang siap menerkam Adiyasa saat itu juga.
Sang singa pun berlari kearah arah Adiyasa dan
"Tidak..."
...
"Tidak..."
Teriak jendral Adiyasa terbangun dari mimpi buruknya, tubuhnya basah berkeringat karena mimpi itu. Perasaannya pun mulai tidak tenang mengapa dia mimpi seperti itu? Pertanda apa sebenarnya ini?
Semua pertanyaan muncul di benaknya.
Mimpi di tidurnya menjelang sore membuat dia sangat ketakutan, dia pun melihat jam di dinding menunjukam pukul setengah tiga sore.,
Dia coba beranjak dari tempat tidurnya, namun kakinya gemetar saat hendak berdiri, Mengapa aku merasa sangat takut seperti ini karena mimpi itu? Apa karena singa hendak menerkam ku?
Pikir Adiyasa teringat akan sang singa yang hendak menerkamnya.
Adiyasa pun segera menghubungi Andra.
Di ruangan Andra, Eliezer masih disibukkan dengan berkasnya hingga dia suara ponsel pak Andra pun berbunyi.
__ADS_1
Jendral Adiyasa menelponnya,
"Ya ada apa pak?"
Tanya Andra pada jendral Adiyasa.
"Aku ingin kamu cari berkas kematian Megantara dan keluarganya, lengkap dengan foto foto jasad mereka secepatnya, dan hantarkan kepadaku malam ini juga"
Ujar Adiyasa pada pak Andra.
"Berkas kematian Megantara, memangnya untuk apa pak?"
Tanya pak Andra terdengar oleh Eliezer diapun terdiam memperhatikan atasannya itu saat mendengar nama ayahnya disebutkan.
"Dengan siapa pak Andra bicara? Mengapa dia menyebutkan nama ayah?"
Tanya hati Eliezer penasaran.
"Baiklah, nanti utusan saya akan mengantarkan berkas ini pada anda"
Jawab pak Andra dengan sopan.
Saat melihat pak Andra menutup telponnya, El kembali menyibukkan diri dengan berkas yang dia pegang, hingga akhirnya
"Eliezer, apa kamu bisa membantu saya? Bisakah kamu mengantarkan berkas yang di butuhkan oleh jendral Adiyasa ke rumahnya?"
Sebuah perintah pak Andra yang membuat Eliezer sangat terkejut, dia pun terdiam karena bayangan sosok Adiyasa yang jahat dan kejam saat itu muncul dalam ingatannya.
"Bagaimana? Apa kamu bisa ?"
"Siap laksanakan"
Jawab El menyetujui perintah sang atasan.
"Kalau begitu tolong kamu bantu carikan berkas atas nama Megantara di sebelah sana, biar saya cari di sebelah sini, sebab ini berkas sudah cukup lama "
Jawab pak Andra mulai bersahaja pada El.
"Baik pak"
Keduanya pun mencari berkas Megantara bersama-sama, di pertengahan pencariannya El coba bertanya pada atasannya itu,
"Maaf sebelumnya pak, untuk apa pak Adiyasa meminta berkas ini? Maaf saya bertanya"
"Aku sendiri tidak tahu "
Jawab pak Andra singkat.
"Memangnya siapa Megantara itu? Seorang tokoh atau rakyat biasa?"
Sebuah pertanyaan yang membuat pak Andra menghentikan aktifitasnya, ingatannya pun tertuju pada jendral Megantara yang dia aniaya dengan sangat sadis hanya agar dia mau mengakui kepemilikan barang terlarang milik jendral Adiyasa dan jaringannya.
__ADS_1
Pak Andra pun membalikkan tubuhnya dan melihat El dari belakang yang sedang fokus mencari berkas tersebut, dalam pikirannya mengatakan pantas saja El bertanya mengenai Megantara sebab dia hanya seorang pemuda biasa yang tumbuh dan besar di negara lain.
"Oh dia, dulunya dia adalah seorang jendral polisi yang banyak di puji dan di puji masyarakat disini, namun dia melakukan kesalahan yang sangat patal hingga akhirnya dia divonis mati"
Jawab pak Andra kembali memeriksa berjasa yang dicarinya.
El memejamkan matanya saat mendengar semua jawaban tentang ayahnya.
"Memangnya kesalahan apa pak? Apakah se patal itu hingga dia bisa di vonis mati? Lalu bagaimana dengan keluarganya? Anaknya atau istrinya?"
"Dia seorang pengedar internasional, dia juga ternyata seorang koruptor besar, untuk memperkaya diri dia rela memakan uang rakyat maka pantaslah dia mendapat hukuman itu, karena malu dan frustasi keluarganya memilih untuk bunuh diri dengan membakar rumah beserta isinya"
Jelas pak Andra tentang Megantara dan keluarganya.
Betapa bergejolak hati El kala itu, ingin rasanya dia merobek mulut sang atasan untuk semua tuduhan yang tidak benar mengenai kelurganya itu.
Namun apa daya, El hanya bisa menggigit keras bibir bawahnya dengan mata tertutup dan tangan yang mengepal. Diapun menghela napasnya panjang, dan
"Sudah ketemu, akhirnya "
Pak Andra pun menemukan berkas tersebut dan meminta El untuk mengantar kan ke rumah jendral Adiyasa.
"Ini alamat rumah jendral Adiyasa, kamu bisa memakai mobil dinas untuk kesana"
Ucap pak Andra memberikan kunci mobil dan alamat rumah pak Adiyasa.
"Baiklah"
El pun berlalu meninggalkan ruangan pak Andra dengan hati yang masih bergejolak di dadanya, dia masih tidak bisa terima dengan semua tuduhan tentang keluarganya itu.
El pun segera pergi dari kantor menuju rumah Adiyasa, namun di tengah perjalanan dia pun menyempatkan berhenti disebuah taman yang sepi hanya untuk berteriak meluapkan semua kemarahannya yang terpendam.
"Ahhhhhhhhhhhh "
"Kalian memang bajingan, "
Teriak El pada langit. El pun tidak kuasa menahan air matanya yang hendak menetes demi ayah dan ibunya.
El kembali menarik napas dan berusaha untuk tenang sejenak diapun terdiam dan berpikir.
"Kamu harus kuat El, ini belum apa-apa "
El pun kemudian berlari menuju mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Adiyasa.
***
Di rumahnya, Mr Rafael dan Bu Maria dilema besar, haruskan mereka katakan semua Maslah ya ini pada Eliezer, mengingat dia juga sedang berjuang demi keadilan keluarganya, mereka tidak mau menambah beban sang anak dengan Maslah sang ayah dengan pak Dwiki.
"Lebih baik jika El tidak tahu mengenai ini mas, aku dan Patricia akan membantumu sebisa mungkin di kantor, aku juga sepertinya percaya pada Patricia jika dia wanita yang baik dan pintar"
Ucap Bu Maria memberi saran dan meminta suaminya untuk tenang.
__ADS_1
"Lebih baik juga seperti itu, biarkan El berjuang demi keadilan ayahnya, kita disini hanya bisa mendoakan anak kita semoga dia berhasil mencapai tujuannya"
Jawab Mr Rafael berharap Eliezer berhasil membalaskan dendam nya pada para penjahat yang sudah tidak adil pada semua keluarganya.