
Bu Damay berjalan perlahan dengan hati-hati karena banyak pecahan kaca dan beling yang berserakan, diapun menuju kamar Rami untuk memastikan jika anaknya ada didalam kamar, namun belum sempat dia menaiki anak tangga, Bu Damay sangat syok saat pandangannya terarah ke ruang tengah.
"Hah.. hah tidak"
Teriaknya yang terkejut melihat jasad bi Saripah yang mengenaskan.
Mendengar majikannya berteriak Beno pun segera menyusul dan
"Astaga, siapa yang melakukan semua ini?"
Ucap Beno yang sama terkejutnya dengan Bu Damay,
Mereka pun mendekati jasad bi Saripah berharap dia masih hidup.
Bu Damayanti tidak kuasa menahan air matanya saat melihat tubuh bi Saripah penuh luka dengan setengah bajunya yang terbuka dan robek.
"BI Saripah, bibi, bangun bi? Siapa yang tega melakukan semua ini padamu bangun bi? Bangun bi? Dimana Rami ?"
Tanya Bu Damay di hadapan jasad asisten nya itu dengan semua pikiran buruk yang terjadi kepada putranya.
Dan ternyata bi Saripah yang saat itu masih dalam keadaan sekarat coba membuka mata, dalam hatinya ingin sekali dia memberitahu majikannya itu jika dia sekarang sedang dalam bahaya, dan Rami aman dalam persembunyiannya.
"Nyonya"
Ucap bi saripah lemah dengan semua sisa tenaga yang ada dia coba mengangkat tangan dan menunjuk ke arah kamar Rami.
"Bibi kamu masih hidup Bi, bertahan bi bertahan cepat Beno bawa bi Saripah ke rumah sakit"
Ujar Bu Damay yang terkejut melihat bi Saripah masih bisa memanggilnya.
Namun bi Saripah menolak dengan menggelengkan pelan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun, namun dia terus menunjuk ke arah kamar Rami seraya berkata
"Den Rami".
__ADS_1
Kemudian diapun menutup matanya dengan kata terakhir yang menyebut nama Rami anak majikannya.
"BI Ripah, bi, bibi bangun bi, dimana Rami bi?"
Ujar Bu Damay menyaksikan sendiri ajal menjemput bibinya itu, mengingat nama anaknya disebut dalam hembusan napas terakhirnya, Bu Damay pun segera menuju kamar anaknya untuk memastikan keberadaan Rami.
Beno pun mengikuti dari belakang, namun belum sampai dia menaiki anak tangga, suara tepuk tangan dari atas memecah keheningan dan khawatiran Bu Damay akan Rami.
Prok
Prok
Prok
Seketika pandangan Beno dan Bu Damay pun tertuju pada sumber suara tepuk tangan itu, dan
"Kamu,"
Ucap Bu Damayanti, ketiga preman itu pun akhirnya turun menghampirinya dan Beno yang sudah siap menjaga sang majikan.
Ujar ketua preman itu yang ternyata adalah mantan ketua preman yang pernah ditolong oleh jendral Megantara, namun dia kembali berkhianat karena sikapnya yang memang seorang penjahat.
"Arman"
Kata Bu Damayanti mengenal ketua preman itu.
"Ternyata anda masih ingat dengan saya"
"Dimana anak saya? "
Tanya Bu Damayanti langsung menanyakan keberadaan Rami pada Arman yang memang tidak tahu dimana anak Bu Damay.
"Anakmu? Dimana anakmu? Pintar juga kamu berakting ya? Aku sendiri tidak tahu dimana anakmu?"
__ADS_1
Ujar Arman menjawab pertanyaan Damayanti.
Bu Damayanti pun terdiam tidak percaya pada semua yang Arman katakan padanya, karena dia tahu betul watak seorang preman itu adalah seorang pembohong.
"Bohong kamu, Rami dimana kamu nak, Rami"
Teriak Bu Damay memanggil Rami dengan sangat keras, hingga Rami sendiri pun mendengar teriakan sang ibu dari tempat persembunyiannya.
Rami yang berpikir mungkin keadaan diluar sudah aman dengan mendengar sang ibu memanggilnya pun segera keluar dari persembunyiannya.
"Ibu"
Panggil Rami dari dalam kamar memanggil ibunya, semua mata pun kini tertuju ke atas arah kamar Rami.
"Anak itu, jadi dari tadi dia ada didalam kamar, bodoh kalian cepat tangkap anak itu?"
Ujar Arman pada kedua anak buahnya, dengan segera kedua preman itupun langsung menuju kamar Rami, namun Beno coba menghalangi mereka hingga akhirnya terjadilah perkelahian diantara ketiga pria itu.
Beno dengan sigap menghalau setiap serangan dari mereka, dia terus menghajar kedua preman itu tanpa ampun seperti apa yang jendral Megantara ajarkan padanya.
Beno sangat lihai menghindari setiap serangan mereka, sementara Rami yang melihat semuanya pun segera turun menghampiri ibunya.
Namun tiba tiba, Arman berhasil menangkap Rani si bocah kecil yang masih lugu itu dengan mudah, sehingga kini Arman menyandra Rami dan meminta Beno untuk berhenti menyerang kedua anak buahnya.
Arman menyandra Rami dengan pistol yang dia miliki, pistol itupun di todongkan di kepala Rami yang malang.
Melihat itu semua, Beno pun menghentikan serangannya dan coba menghentikan Arman untuk tidak menyakiti Rami.
"Baik aku angkat tangan, tapi lepaskan Rami, dia masih kecil, dia tidak tahu apa-apa"
Ujar Beno menyerahkan diri pada Arman, kemudian kedua anak buah nya pun segera menangkap Bu Damayanti.
"Hei, kenapa kalian menangkap Bu Damay?".
__ADS_1
Tanya Beno tidak terima dengan perlakukan kasar kedua preman itu pada sang majikannya.