
"ini bahaya Bu, kita harus pergi dulu dari sini, bapak juga pasti tidak menginginkan jika ibu sampai tertangkap, ingat di rumah masih ada Rami Bu?"
Ujar Beno memaksa Bu Damayanti untuk pergi dari kantor polisi itu.
Mengingat sang anak, Bu Damayanti pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali, dia pun segera lari bersama Beno dari kejaran jendral Adiyasa.
Dan ternyata di luar beberapa anak buah sudah mengepung mobilnya, sehingga mereka tidak bisa menggunakan mobil Bu Damayanti.
"Bagaimana ini Ben?"
Tanya Bu Damay yang mulai cemas.
Beno pun berpikir dan melihat ke arah sekitar, Beno pun akhirnya berlari menuju seseorang dengan motor lamanya.
"Tolong bantu saya pak, ini darurat saya pinjam motor nya sebentar nanti bapak bisa bawa motor kembali di alamat rumah ini, saya mohon"
Ucap Beno meminta seorang bapak tua dengan motor ojeknya, diapun memberi kartu ATM beserta pin pada bapak tua itu untuk dia pakai sebagai jaminannya.
Bapak tua yang tidak mengerti dengan kartu ATM pun menolak dengan menjawab
"Pakai saja anak muda, jika memang kamu memerlukannya"
Jawab pak tua yang baik hati.
"Terimakasih "
Dengan cepat, Beno pun menyalakan motor lama pak tua itu dan langsung membawa Bu Damayanti menuju rumah.
"Ayo cepat naik Bu"
Mereka pun segera melaju menuju rumah untuk membawa Rami.
Dalam hati Bu Damayanti masih belum bisa percaya jika jendral Adiyasa bisa berbuat jahat seperti itu pada suami dan semua rakyatnya, bahkan semua jajarannya pun bak ber konspirasi menjebak suaminya, jendral Megantara.
__ADS_1
Sepanjang jalan air matanya tak henti menetes mengingat rekaman video suaminya yang sedang dianiaya oleh beberapa ajudan jendral Adiyasa dengan sangat kejam hanya agar dia mau mengakui kepemilikan barang haram itu.
...
Di dalam sel khusus, jenderal Megantara masih duduk dengan kaki dan tangan terikat, meski tubuhnya sudah bercucuran darah karena cambukan, pukulan dan tendangan dari anak buah Adiyasa, pak Megantara tetap pada pendiriannya untuk tidak mengakui kepemilikan barang haram itu.
"Apa kamu masih merasa kuat dengan tubuhmu yang sudah melemah?"
Tanya seorang ajudan yang menyiksa pak Megantara.
"Cepat akui saja, anda hanya tinggal menandatangi surat ini, maka semua akan berakhir"
Lanjutnya.
Dengan tatapan yang tenang pak Megantara tersenyum kepada mereka seraya berkata.
"Apa bayaran yang kalian dapatkan untuk semua ini? Uang kah? Jabatan kah? Atau wilayah kekuasaan? Bukankah kalian juga sudah mempunyai semua itu saat bersamaku, belum cukupkah dengan semua yang kalian punya? Mengapa kalian ingin menghancurkan masyarakat kita dengan kelicikan dan kejahatan kalian? Tidakkah kalian ingat anak dan istri kalian jika mereka sampai tahu pria yang mereka jadikan panutan dengan seragam rapi bertubuh tegap tak lain adalah seorang penghancur bangsanya dan keluarganya sendiri? "
Ujar pak Megantara dengan semua nasihatnya agar mereka mau menyadari jika semua yang sedang mereka lakukan adalah kesalahan besar.
Tegas jendral Megantara.
Dengan kesal seorang ajudan itupun pergi keluar dengan melempar cambuknya mengingat semua yang pak Megantara katakan padanya.
Jendral Megantara pun tersenyum melihat ajudan itu kesal,
Dalam hati beliau pun berpikir harus melakukan sesuatu agar dia bisa keluar dari sana, dia juga merasa aneh mengapa semua jajaran kepolisian yang mengenalnya dengan baik tidak ada yang menyapa atau membantunya satupun ?
Ada apa dengan mereka?
Pikir pak Megantara.
Pikirannya pun kini tertuju pada istri dan anak anaknya,
__ADS_1
"Pasti Rami menungguku pulang, kasihan dia? Tapi kenapa istriku masih belum datang kemari menemui ku?"
Pikir pak Megantara berharap semua baik-baik saja.
....
Beno dan Bu Damayanti kini tiba di depan gerbang rumah mereka, keadaan rumah nampak sangat sepi, Beno pun merasakan ada yang aneh saat melihat sebuah mobil Jeep hitam terparkir di sebrang jalan dekat rumah majikannya itu.
"Nanti kembalikan motor itu Ben, kasihan bapak tua tadi, saya masuk dulu, kasihan Rami dia pasti mencemaskan ayahnya"
Ujar Bu Damayanti saat tiba di rumah,
"Baik Bu"
Jawab Beno terus melihat ke arah mobil Jeep itu.
Bu Damayanti pun berlalu masuk kedalam rumah, dan betapa terkejutnya dia saat membuka pintu,
Seisi rumah hancur berantakan,
"Beno"
Teriak Bu Damayanti histeris memanggil Beno.
Beno pun terkejut mendengar panggilan Bu Damay, dan segera menuju ke arahnya,
Saat Beno tiba di depan pintu, diapun ikut terkejut melihat isi rumah majikannya sangat berantakan,
"Rami, dimana Rami anakku?"
Ucap Bu Damayanti yang teringat akan Rami, diapun masuk kedalam rumah tanpa peduli banyak serpihan kaca yang bisa melukainya.
"Tapi, hati hati Bu"
__ADS_1
Jawab Beno menyusul majikannya itu dari belakang.