
Pak hakim pun meminta pengacara Eliezer untuk berdiri dan coba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan darimana bukti video live itu didapatkan?
Pengacara Eliezer yang ternyata adalah Abram salah seorang dari 5 sahabat El yang ikut terlibat dalam penculikannya cepat tanggap dalam menanggapi pertanyaan sang hakim mengenai video live tersebut.
Dalam hati Abram sangat bersyukur karena dengan video itu dapat memudahkan dirinya menghadapi hukuman Eliezer agar lebih ringan.
Abram berdiri dengan tegak, dia mulai menjawab semua pertanyaan tersebut tanpa merasa canggung.
"Seperti yang kita lihat sendiri video tersebut disiarkan secara langsung tanpa wanita itu ketahui, anda bisa lihat sendiri, dari video tersebut si perekam merekamnya dengan diam-diam dan itu artinya jika video tersebut real dan tanpa dibuat buat"
Ujar Abram membuat nyala api di hati pak Dwiki meledak.
"Bohong pak hakim..."
Ujar pak Dwiki yang takut kejahatannya benar-benar terbongkar.
"Audien dimohon untuk diam"
Hakim mengetuk palu meminta pak Dwiki atau audien yang lain agar tidak mengganggu laju jalan sidang.
"Lanjutkan"
Ucap hakim
Pak Dwiki semakin kesal begitupun dengan pak Gatot, sedangkan jendral Adiyasa ternyata sudah menghilang diantara mereka,
"Pak Dwiki dan pak Gatot mencari keberadaan Adiyasa, namun tidak dia temukan
"Kemana pak jendral?"
Tanya pak Gatot yang mulai cemas.
Abram melanjutkan penjelasannya
__ADS_1
"Sesuai dengan pengakuan wanita itu dia adalah salah satu korban yang tersangka Eliezer culik "
"Ijin menambahkan pak hakim"
Rebecca mengacungkan tangannya berharap pengakuannya mengenai wanita tersebut.
"Ijin diberikan" hakim
Rebecca menjelaskan jika dia dan timnya mengakui di dalam video call saat negosiasi antara dirinya dan El dulu wanita itu memang di tembak oleh Eliezer.
"Jadi kami dengan yakin mengatakan jika wanita tersebut mengatakan kebenaran pak hakim"
Lanjut Rebecca dengan di bantu tim nya yang melihat semua negosiasi di waktu yang lalu.
Hakim pun meminta semua kembali diam dan memberikan mereka waktu untuk memutuskan keputusan yang akan mereka ambil.
El yang nampak tenang kini mulai kembali terkecoh dengan tes DNA Bisma dan Adiyasa.
Ia sangat mengerti maksud dari Adiyasa memberitahu kebenaran itu.
"Saudara Eliezer, apakah semua yang wanita tersebut katakan tentang anda itu benar?"
El tidak menjawab pertanyaan hakim karena dia sedang tidak fokus.
"Saudara El..."
Panggil hakim.
"Minta ijin pak, biar saya yang bertanya padanya?"
Tanya Abram meminta ijin, hakim pun mengijinkannya.
Rebecca mulai gelisah melihat El yang sedang melamun.
__ADS_1
"Eliezer kamu kenapa? Hakim sedang bertanya padamu? Apa yang sedang kamu pikirkan? "
Ucap Abram pelan pada El menyadarkannya dari lamunan akan Adiyasa dan Bisma.
El pun tersadar dan menjawab pertanyaan sang hakim dengan mengatakan
"Ya, di depan mereka saya memang menembaknya pak hakim, tapi itu hanya sebuah drama agar mereka (Adiyasa, pak Andra beserta jajarannya) mau mengakui kejahatan mereka"
Jawab El lantang membuat semua yang mendengar kembali dibuat penasaran.
Mendengar nama jendral Adiyasa disebutkan di dalam sidang, sang hakim pun akhirnya memutuskan untuk menunda sidang sampai besok siang.
Rebecca sangat kecewa sekali dengan keputusan sang hakim yang menunda sidang, ia melihat ada sebuah ketakutan di matanya saat mendengar nama jendral Adiyasa.
***
Tidak ingin ketidakadilan terjadi lagi pada Eliezer, Rebecca langsung menghadap kejaksaan tertinggi untuk mengadukan kasus Eliezer berharap dia dapat keadilan, setidaknya meski Eliezer harus di hukum maka jendral Adiyasa pun juga harus di adili.
Bersama satu ajudannya Rebecca tiba di tempat yang dituju dimana saat itu komisaris polisi Wisnu Adji dan dua polisi disana sedang membicarakan kasus Eliezer dengan pengakuannya tentang jendral Adiyasa.
"Tapi jika kita bersatu untuk melawannya maka saya yakin dia tidak akan bisa berkutik, terlebih kekuatan dunia internet sekarang lebih kuat dan tajam kita bisa pergunakan semua itu demi membuka kebenaran tentang kasus Eliezer "
Ucap pak Wisnu ak sengaja terdengar dari balik pintu oleh Rebecca.
Air mata Rebecca menetes kala mendengar semua itu, karena ternyata masih ada orang yang ingin menegakkan keadilan tanpa rasa takut pada sang petinggi seperti jendral Adiyasa.
Dengan segera Rebecca mengetuk pintu meminta ijin untuk masuk, merekapun mempersilahkan Rebecca dan ajudannya masuk.
Dia pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya pada pak Wisnu Adji tentang kebenaran Eliezer.
"Saya berani menjamin jika Eliezer adalah anak dari jendral Megantara yang masih hidup, dan saya juga berani menjamin jika dalam kasus jendral Megantara 15 tahun yang lalu beliau tidak bersalah melainkan semua hanya konspirasi dari jendral Adiyasa untuk menutupi kejahatannya " Rebecca.
"Tapi bagaimana kamu bisa seyakin itu? Apa kamu memiliki bukti?"
__ADS_1
kata Wisnu Adji pada Rebecca.