
Dalam hati Bisma berpikir penasaran, siapa wanita yang menarik dan memintanya untuk ikut bersamanya.
"Sebenarnya kamu siapa? Apa kamu mengenaliku?"
Tanya Bisma.
Wanita itupun berhenti dan menatap wajah Bisma dengan seksama,
"Aku Rebecca ka Bisma adik kecilmu"
Jawab Rebecca tersenyum.
"Rebecca , kamu Rebecca paman Beno?"
Jawab Bisma merasa tidak percaya jika Rebecca yang dia kenal dulu masih kecil seusia Eliezer adiknya sekarang dia sudah tumbuh besar menjadi seorang polisi wanita.
"Ya ka Bisma, pasti ka Bisma bingung dengan keadaan sekarang? Tapi aku sangat bersyukur ternyata kakak masih hidup"
Kata Rebecca juga tidak menyangka jika ternyata Bisma masih hidup.
"Tapi yang lebih penting sekarang ka Bisma harus bertemu dulu dengan seseorang, "
Jawab Rebecca singkat tanpa banyak basa basi langsung mengajak Bisma ke tempat Eliezer yang sedang di kurung.
Dari belakang Bisma pun mengikuti.
Rebecca sangat merasa senang akan pertemuannya dengan Bisma, dia masih tidak menyangka jika dia masih hidup, air matanya sedikit menetes karena dia merasa jika El kini kembali memiliki harapan untuk hidup, tujuan untuk tetap bertahan dan membela kebenaran. Rebecca merasa yakin jika Eliezer tahu Bisma masih hidup dia pasti akan sangat merasa bahagia bahkan lebih dari dirinya.
"Kamu harus kembali bangkit El, kamu tidak boleh menyerah begitu saja, pembalasan mu kini juga menjadi pembalasanku, aku tidak akan membiarkan kamu menyerah begitu saja sampai kamu berhasil mencabut akar dari semua ketidakadilan yang terjadi pada orang yang kita sayangi"
__ADS_1
Ujar Rebecca dalam hati penuh dengan semangat membara untuk membantu Eliezer kembali bangkit.
Langkah mereka pun terhenti di depan sebuah sel yang cukup gelap,
"Ada yang ingin bertemu dengan kamu El?"
Ucap Rebecca pada Eliezer yang sedang duduk di sudut tembok penjara.
El merasa bingung, siapa yang ingin bertemu dengannya di sisa harapan hidupnya yang tinggal setitik.
El bangkit dan berjalan pelan menuju Rebecca.
"Siapa yang ingin bertemu denganku? Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa, bahkan seorang pengacara sekalipun tidak akan ada yang ingin membebaskan aku"
Jawab El pada Rebecca.
Namun saat Eliezer melihat dengan seksama kemunculan pria di belakang Rebecca membuatnya diam seribu bahasa, seketika tatapannya pun mulai berkaca-kaca melihat sosok yang berjalan mendekatinya.
Ucap Eliezer bergetar.
"Rami adikku"
Jawab Bisma memeluk El walau terhalang jeruji besi.
Air mata Rami/Eliezer tidak tertahankan saat berada di pelukan sang kakak yang sekian lama menghilang, bahkan Rami sempat mengira jika Bisma sudah gugur di Medan perjuangannya.
"Aku tidak bermimpi kan?".
Ucap El terus melihat wajah dan tubuh sang kakak yang kini mulai tidak muda lagi.
__ADS_1
"Rami adikku, maafkan aku "
Ucap Bisma meminta maaf pada sang adik karena dia tidak membantunya dalam misi pembalasan dendamnya.
Bisma bisa mengetahui semua kebenaran tentang Eliezer dari Rebecca, karena sebelum mereka benar datang menemui El, Rebecca menjelaskan dahulu semua kebenaran yang Eliezer lakukan.
Setelah mengetahui semua kebenaranya Bisma merasa sangat terpukul akan nasib sang adik yang lebih buruk darinya.
"Itulah yang sebenarnya terjadi ka Bisma, dan saat ini Rami seakan tidak memiliki tujuan hidup setelah semua orang yang dia sayangi pergi, aku berharap ka Bisma bisa menghidupkan kembali semangat hidupnya untuk membalaskan semua kejahatan jendral Adiyasa"
Ucap Rebecca setelah menceritakan semua kebenarannya.
Dengan yakin dan tegas Bisma berjanji akan membantu adiknya untuk kembali bangkit.
Setelah itu mereka pun datang menemui Eliezer di dalam sel.
...
Setelah keduanya bertemu, Rebecca meminta sipir yang berjalan untuk mengeluarkan Eliezer dan membiarkannya bicara dengan Bisma di ruang biasa.
"Aku akan jamin, dia tidak akan pernah melarikan diri"
Ujar Rebecca pada sang sipir.
"Baiklah, hanya 10 menit, setelah itu dia harus segera kembali ke dalam sel"
Jawab nya menyetujui permintaan Rebecca.
El dan Bisma pun kini benar benar bertemu dan saling melepas rindu setelah beberapa tahun tidak berjumpa.
__ADS_1
El sangat ingat betul kapan terakhir kali mereka berpelukan, yaitu disaat Bisma hendak berangkat menuju Medan peperangan sebagai relawan di jalur Gaza. Dan disaat itu pula tidak pernah mereka saling menghubungi satu sama lain.