Eliezer

Eliezer
Kembali negosiasi


__ADS_3

Kita kembali lagi ke adegan negosiasi Eliezer dan Rebecca ya guys,


Semua dibuat sangat terkejut mendengar cerita tentang kebenaran jendral Megantara dari Eliezer, termasuk pak Adiyasa dan perdana menteri yang menyaksikan semuanya.


Jendral Adiyasa tidak menyangka jika anak Megantara ternyata masih hidup, padahal jelas-jelas dia ikut terbakar bersama ibunya dulu.


Jendral Adiyasa pun berusaha tenang dengan tersenyum ke arah kamera ponsel dengan mengatakan.


"Semua ceritamu sangat lucu, dan masuk diakal? Sudah berapa cerita yang kamu karang untuk memfitnah petinggi negara seperti aku? Mengapa kamu ingin menjatuhkan reputasiku? Dan berapa banyak uang yang kamu dapat dengan melakukan semua kegilaan ini?"


Ujar jendral Adiyasa membalikkan fakta pada Eliezer dengan pertanyaannya tanpa merasa bersalah.


Mendengar semua itu, Eliezer pun marah dan menembak salah satu polisi yang dia sandera.


"Dor"


Satu tembakan terdengar semua telinga mengenai lengan kanan polisi itu, tembakan yang sama persis preman lakukan dulu pada ibunya, dan semua itu semakin mengingatkan Adiyasa pada tragedi di masa lalu, dalam hatinya dia bertanya apakah memeng benar dia anak dari Megantara dan Damayanti?


Semua mata terpejam dengan di iringi teriakan yang histeris kala tembakan itu terjadi, sandera lain sangat ketakutan hingga menangis keras.


"Cukup, cukup hentikan kami minta maaf, jangan tembak lagi kami mohon"


Ucap Rebecca memohon pada Eliezer untuk tidak menyakiti para sandera lagi, Rebecca sangat trauma sekali dengan tragedi yang menimpa wanita hamil yang Eliezer tembak sebelumnya.


Dan pada kenyataannya, Eliezer tidak sejahat itu, api balas dendam memang menggelora di dalam hatinya, namun dia juga tidak akan sampai mengorbankan orang lain yang tidak bersalah dalam hal ini,


Saat Eliezer menembak wanita hamil kemarin, sebelumya memang Eliezer meminta bekerja sama dengan wanita itu


"Mohon tenang, dengarkan aku baik-baik, aku tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini, tapi saya ingin kamu membantu aku dengan berpura-pura mati saat aku menembak kamu nanti, pasang darah palsu ini di perut kamu dan buat seolah-olah kamu memang mati karena aku tembak, kamu paham kan?"


Ucap Eliezer pada wanita hamil yang dia tembak.


"Baiklah"


Jawab wanita hamil dengan sangat ketakutan namun coba mengerti dengan semua masalah yang Eliezer hadapi saat ini, sekali lagi Eliezer meminta maaf atas nama istrinya yang mereka bunuh karena Teleh melibatkan wanita hamil yang tidak berdosa.


Dan disaat itulah Eliezer menembak wanita hamil itu di hadapan Rebecca dan regunya saat mereka coba mengepung tempat El.


...


Rebecca coba bernegosiasi lagi pada El untuk semua cerita yang dia bicarakan tadi mengenai jendral Megantara.


"Cukup, saya mohon cukup, jangan tembak lagi saya percaya dengan semua yang kamu bicarakan tadi, tapi apa kamu mempunyai bukti yang akurat agar kamu bisa lebih mempercayai kamu El, saya mohon"

__ADS_1


Ucap Rebecca yang coba menengahi permasalahan Eliezer dengan Adiyasa.


Eliezer pun berjalan mendekati pak Andra yang dia sandera di samping polisi yang dia tembak tadi.


El pun kini berdiri didamping pak Andra,


"Jika kamu ingin bukti yang akurat, dialah buktinya"


Ujar Eliezer membuat kaki Adiyasa mulai gemetar.


"Andra, jangan sampai kamu buka mulut"


Ucap Adiyasa dalam hati mengancam.


El pun meminta Andra untuk mengakui semua kejahatan jendral nya itu.


Namun Andra yang setia pada Adiyasa lebih memilih diam daripada berbicara sepatah katapun.


"Cepat bicara?"


El mulai menggertak Andra namun dia tetap diam.


El pun kembali marah dan mulai menghajar Andra hingga dia terjatuh bersama kursinya.


Tanya El pada Andra.


"Aku lebih baik mati "


Jawab Andra yang setia.


Adiyasa pun tersenyum melihat pemandangan kesetiaan sang ajudan kepadanya.


"Bagus Andra, awas saja jika kamu sampai bicara dan mengatakan yang sebenarnya, maka tamat riwayat semua keluargamu"


Ucap hati Adiyasa.


Rebecca pun sesekali melihat ke arah jendral Adiyasa dan melihat tingkahnya sangat aneh, seakan dia takut namun merasa senang saat melihat Andra bersikeras tidak ingin bicara.


Rebecca coba menarik nafas, dia meminta El untuk tidak melukai Andra,


"Eliezer, El, apa kamu mendengarkan aku, El "


Rebecca memanggil Eliezer agar dia tidak melukai Andra.

__ADS_1


Namun ternyata


"Baiklah jika itu mau mu,


Kamu tidak ingin kebenaran muncul ke permukaan, maka kamu meminta mati, baik akan aku kabulkan "


Jawab Eliezer pada Andra dan langsung menembaknya.


"Dor"


Sekali lagi suara tembakan itu terdengar dan membuat suasana ruangan kembali riuh oleh para sandera yang ketakutan akan Eliezer lenyapkan.


...


"Tidak jangan"


Teriak Rebecca meneteskan air mata ingin menghentikan ulah Eliezer, karena untuk kedua kalinya dia melihat Eliezer Menembak mati seseorang tepat dihadapannya.


Tanpa menghiraukan apa yang sudah lakukan pada Andra, El pun berteriak


"Adiyasa, kali ini aku memang tidak bisa membuktikan kejahatanmu, namun aku berjanji semua kebenaran akan muncul ke permukaan dengan sendirinya, dan kalian Dwiki dan Gatot, tua Bangka gila harta, kalian juga yang telah membunuh semua keluargaku, ayah ibu dan istriku, apa salah mereka hingga kamu tega melenyapkan mereka, masalahmu hanya denganku, tapi mengapa kamu mengincar keluargaku? Apa karena kalian takut jika dunia tahu jika kalian hanya seekor tikus berdasi yang pintar menggeret. "


Ujar Eliezer pada pak Dwiki dan pak Gatot di hadapan perdana menteri.


"Kalian dengan sengaja membantai semua keluargaku hanya karena aku tahu kejahatan kalian, bahkan kalian tega membunuh anakku yang masih belum lahir dan menikmati indahnya dunia"


Lanjut Eliezer dengan luapan amarah dan tetesan air mata teringat akan sang istri tercinta dan kedua orangtua angkatnya.


Rebecca pun dibuat yakin dengan semua yang Eliezer katakan tentang kejahatan kedua Mentri itu, semua Maya pun kini tertuju pada mereka.


"Apa, mengapa kalian menatapku? Apa salahku? Dia hanya asal bicara, dia itu psikopat, apa saja bisa dia katakan termasuk tadi"


Ucap pak Dwiki membela diri meski hatinya memang mulai cemas. Begitupun dengan pak Gatot.


"Bedebah kalian berdua, perikemanusiaan kalian hilang hanya karena harta, hingga kalian tega melenyapkan semua keluargaku"


Kata Eliezer menangis terjatuh dengan menahan lututnya.


"Ayah, ibu, Patricia, maafkan aku"


***Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Eliezer setelah berada di Jakarta?


Hingga dia sangat terpuruk, sedih dan dendam?

__ADS_1


Simak terus lanjutan ceritanya ya guys, ayo like koment vote nya klik ya ❤️***


__ADS_2