
Sesampainya di depan rumah Adiyasa, El mengumpulkan tenaga dan kesabarannya untuk bertemu dengan sang pembunuh kelurga dia agar bisa menahan amarahnya.
El pun mulai menekan bel rumah hingga seseorang keluar membukakan pintu untuknya.
Seorang asisten rumah tangga yang sudah cukup berumur mempersilahkan El masuk karena majikan sudah menunggunya di ruang tengah.
El pun mulai melangkahkan kakinya kedalam rumah Adiyasa, saat El masuk, jendral Adiyasa langsung memanggil dan menyambutnya dengan hangat.
"Eliezer, nama yang bagus, Andra sudah banyak bicara mengenai mu, duduklah nak"
Ucap Adiyasa menyambut El.
El pun merasa heran mengapa dia bisa bersikap ramah kepadanya? Apa saja yang sudah pak Andra katakan tentang dirinya kepada Adiyasa.
Jendral Adiyasa pun segera menanyakan berkas yang dia minta pada Andra.
"Apa berkasnya aman?"
Tanya Adiyasa pada El.
"Berkas aman pak"
Jawab El dengan tegas dan segera memberikan berkas tersebut padanya.
Adiyasa pun segera menerima berkas kematian Megantara dan keluarganya, perlahan dia membuka lembar demi lembar berkas tersebut, El pun hanya bisa diam melihat apa yang Adiyasa lakukan dihadapannya.
__ADS_1
"Aman, terimakasih kamu telah menjaga berkas ini sampai di tanganku"
Ucap Adiyasa pada El.
"Sama-sama pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
Jawab El berusaha bersahabat dengan Adiyasa dengan menatap ke arahnya.
Saat melihat tatapan El padanya, Adiyasa sangat terkejut, terngiang teriakan Rami saat menembak dirinya di mimpi, tatapan anak itu sama percis dengan tatapan El saat ini padanya.
"Astaga, apa ini?"
Jantung Adiyasa pun berdegup kencang karena rasa khawatirnya, keringat dingin bahkan membasahi kening kepalanya.
Ujar El pada Adiyasa yang melihat dia seperti ketakutan dan gelisah saat melihatnya.
"Tidak usah, tidak usah nak, saya baik-baik saja, mungkin saya hanya perlu istirahat sebentar"
Jawab Adiyasa yang mengusir El secara halus,
El pun mengerti dengan semua yang Adiyasa katakan kepadanya, namun dia penasaran mengapa Adiyasa terlihat sangat takut dan khawatir saat melihat tatapan matanya.
***
Di rumah, Bu Maria sengaja menyiapkan makan sore untuk El dan keluarganya, dia tidak ingin membuat El merasa curiga jika saat ini mereka sedang dalam masalah. Melihat Bu Maria sibuk sendiri, Patricia pun akhirnya berjalan menuju Bu Maria berharap dia bisa membantunya.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa aku lakukan dok?"
Tanya Patricia membuat lamunan Bu Maria pecah karena terkejut.
"Oh Patricia kamu mengejutkanku? Kamu sedang apa disini? Bukankah kamu harus istirahat?"
Jawab Bu Maria balik bertanya.
Patricia pun mengatakan jika dirinya tidak bisa tenang, dia juga tidak mengantuk, akhirnya dia memutuskan untuk membantu Bu Maria.
"Baiklah kalau begitu kemari lah bantu ibu masak untuk El ya?"
Jawab Bu Maria mengajak Patricia untuk masak dengannya.
Dengan senyum bahagia, Patricia pun bersedia Bu Maria banyak sekali bercerita tentang makanan kesukaan El dan makanan yang tidak dia suka.
Patricia pun antusias mendengarkan semua tentang El.
"Dia anak yang baik dan sopan, kamu beruntung memiliki el"
Ucap Bu Maria diujung ceritanya.
"Memangnya El kerja apa Bu?"
Sebuah pertanyaan Patricia yang membuat Bu Maria terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan pada Patricia jika Eliezer adalah seorang polisi, sedangkan dia sangat benci pada polisi.
__ADS_1