Eliezer

Eliezer
Dunia sedang mempermainkannya


__ADS_3

Aditya melemparkan senyum pada Eliezer dan memberi tanda hormat kepadanya sebagai tanda perpisahan sebelum mobil benar-benar mendarat dari ketinggian yang akan membunuh mereka.


Bruk..


Bruk..


Bruk...


Entah berapa kali mobil Eliezer terhempas ke permukaan tanah yang keras hingga membuat mobil El rusak tak berbentuk.


Mobil pun kini benar-benar jatuh dan mendarat di dalam jurang yang sangat dalam. Sudah bisa kita bayangkan bagaimana nasib keduanya di dalam mobil setelah terjatuh dari ketinggian mustahil jika mereka masih selamat.


Semua anak buah Adiyasa tertawa menang diatas tebing jurang melihat keadaan mobil El yang rusak parah.


"Mustahil jika mereka bisa selamat"


Ujar salah satu diantara mereka.


"Haha tugas kita sudah selesai ayo kita kembali"


Setelah merasa puasa dengan semua kemenangan mereka membuat El dan Aditya celaka merekapun segera kembali ke markas dengan membawa kabar gembira.


"Bonus nih bisa pesta kita malam ini"


Gelak tawa tak terhenti diantara mereka.

__ADS_1


Ternyata El berhasil menyelamatkan diri dengan di dorong keluar oleh Aditya sebelum mereka benar-benar terhempas keras jatuh ke tanah. El sendiri tersangkut di pohon tepi jurang yang tidak jauh dari mobil itu berada.


Eliezer sadarkan diri saat rintik hujan jatuh membasahi wajahnya.


El perlahan membuka mata dan terkejut mendapati dirinya kini sedang berada di sebuah dahan pohon yang kekuatannya tidak seberapa El melihat ke bawah dan sangat sedih melihat mobilnya sangat rusak parah.


"Aditya "


Teriak El dari atas namun tidak ada jawaban, dengan tubuh penuh luka El perlahan turun dan berjalan menuju mobil untuk memastikan keadaan Aditya.


"Aditya ,, Aditya bangunlah"


El coba mengeluarkan Aditya dari mobil dan berusaha untuk menyadarkannya.


"Bangunlah Aditya aku mohon bangunlah"


Namun sia sia Aditya tetap tidak sadarkan diri. Saat El mengecek denyut nadi di tangannya El pun berteriak.


"Tidak .... Aditya "


El sangat terpukul saat menyadari jika Aditya sudah tiada, El mengingat betul dimana aditya memaksanya untuk keluar dari mobil sampai dia mendorong paksa Eliezer karena dia tidak mau keluar sendiri. Dan disaat itu pula Aditya memberikan hormat terakhirnya pada El.


"Aditya kenapa kamu harus pergi"


Lirih El menangis di tengah guyuran hujan yang membasahi semuanya.

__ADS_1


El masih tidak menyangka sahabatnya bisa pergi secepat ini meninggalkan dirinya dan dalam keadaan yang sangat tragis.


El segera mencari ponsel miliknya untuk meminta pertolongan namun ponsel mati sehingga El tidak bisa membawa jasad Aditya bersamanya.


Jalan menuju ke atas sangat jauh terjal dan curam tidak mungkin El memapah tubuh Aditya.


Akhirnya El pun bangkit dan berusaha untuk mencari bantuan menuju ke atas. Sepanjang perjalanan El masih belum bisa mengeringkan air matanya atas apa yang menimpa sahabatnya itu, kenangan indah perjuangan bersama Aditya sangat terngiang di pikirannya dan membuat El terus menangis memanggil nama Aditya.


Hari pun semakin larut El masih berjalan mencari jalan keluar dari hutan.


Hingga akhirnya setelah berhasil keluar dari hutan El Mencari tumpangan menuju rumah, karena keadaan El yang sangat lusuh terluka dan mengkhawatirkan, banyak sebagian orang yang melihat El menganggap nyaa sebagai gelandangan dan kehilangan kewarasannya karena El terus bicara sendiri memanggil nama sahabatnya.


Tak terasa mobil yang ditumpangi menurunkannya tidak jauh dari rumah El kembali berjalan dengan tertatih menuju tempat tinggalnya dengan semua kabar duka yang dia bawa dalam setiap luka di tubuhnya.


Kerumunan warga pun menghalangi jalan Eliezer serta garis polisi mulai di pasang di rumahnya, El yang masih setengah sadar kini mulai membuka mata dan bertanya mengapa rumahnya di beri garis polisi? Apa yang terjadi?


"Maaf apa yang sudah terjadi di rumah ini?"


Tanya El pada salah seorang warga yang berkerumun.


"Tadi sore terjadi perampokan di rumah itu nak, kasihan sekali semua penghuni rumah tewas di bunuh secara brutal tidak ada yang selamat termasuk penjaga kebun dan asisten mereka"


Jawab mereka.


Tubuh El seketika melemah dan terjatuh saat mendengar kabar tersebut, langit seakan runtuh petir seakan menyambar batinnya menjerit menyadari semua anggota keluarganya telah tiada dalam sekejap mata.

__ADS_1


Belum hilang luka ditinggal sahabatnya kini dia harus menerima kembali luka kehilangan kedua orangtua angkat dan istri yang belum lama dia nikahi dengan semua rencana hidup bahagia mereka dengan sang buah hati.


El menangis terisak dengan rasa sesak di dadanya. El menepi di tepi jalan menatap rumahnya yang sepi dan berhiaskan garis polisi dengan air mata yang terus mengalir.


__ADS_2