Eliezer

Eliezer
Suasana mulai tegang


__ADS_3

Pengacara Adiyasa pun ikut angkat bicara


"Maaf yang mulia, saya rasa kita tidak bisa menunggu sampai saksi sadarkan diri, mengingat tidak ada bukti yang membuktikan klien saya "


Rebecca ingin sekali marah pada sang pengacara Adiyasa mendengar setiap ucapannya.


Namun Abram berhasil meredam amarah Rebecca dengan menahan lengan dan menatapnya meminta Rebecca untuk tidak melakukan apapun sepanjang sidang, karena itu hanya akan membuat posisi El semakin lemah.


Rebecca mengerti betul dengan permintaan Abram padanya, Bisma merasa sangat sakit hati melihat El jatuh tidak berdaya, ingin sekali dia menolong sang adik namun dia tidak bisa mendekatinya.


Sang hakim pun mulai terdiam melihat semua yang terjadi,


Kemudian dia mengatakan jika tersangka Eliezer harus segera mendapat penanganan agar sidang bisa segera di lanjutkan kembali.


"Baiklah sidang kita tunda satu jam dari sekarang"


Palu pun di ketuk, ternyata permohonan pengacara Adiyasa tidak di Kabul sang hakim, justru hakim lebih memilih untuk menunda sidang menunggu El sadarkan diri.


Audien pun membubarkan diri, dengan segera Bisma pergi menolong sang adik dan membawanya ke ruang kesehatan untuk segera mendapat penanganan.


"Bangunlah El, bangun ada apa denganmu? Sadarlah?"


Ucap Bisma coba menyadarkan adiknya namun El tetap tidak sadarkan diri.


Bisma terus berpikir apa yang terjadi pada adiknya.


Sementara di tempat lain, Adiyasa dan sang pengacara tertawa sangat gembira melihat El akhirnya tidak sadarkan diri.


"Lihatlah dia tidak akan sadar dalam beberapa jam ke depan, dan dia tidak akan pernah menang melawanku hahaha"


Ujar Adiyasa dengan kesombongannya.


Rencana Adiyasa sangat matang dia merasa senang sang hakim menunda sidang karena dia memiliki waktu untuk membuat video pengakuan jika dirinya sedang melawan Eliezer yang hendak mencoreng nama baiknya dengan memfitnah dirinya sebagai tersangka.


Saat Adiyasa membuat video pengakuan tersebut tidak sengaja Abram melihatnya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Abram ingin sekali melabrak Adiyasa karena telah meracuni sahabatnya namun pikiran jernihnya kembali sebelum dia bertindak gegabah.


"Tidak, tidak boleh kali ini aku tidak boleh lagi kalah dari semua rencananya, aku harus maju selangkah darinya"


Dan tiba-tiba muncul ide di pikiran Abram, kemudian dia segera menghubungi Rebecca untuk rencananya kali ini.


Video pun sudah selesai dibuat, Adiyasa tersenyum menang sendiri melihat videonya sebentar lagi akan tersebar guna memeras hati setiap warga negaranya itu agar ikut peduli dengan kasus yang menimpanya.


"Segera kamu sebarkan video itu man"


Perintah Adiyasa pad Lukman sang asisten pengacaranya.


"Siap"


Video pun akan segera di sebar luaskan di media sosial, namun saat Lukman sang kreator yang siap menyebar video dibuat heran dan terkejut.


"Loh ini kenapa ya?"


Tiba-tiba saja jaringan internet terputus sehingga dia tidak bisa meng-upload video sang jendral guna memeras hati setiap warga.

__ADS_1


Adiyasa meminta Lukman untuk mengecek ulang signal internet di laptopnya, namun ternyata sinyal di ponselnya pun memang terputus.


"Mungkin sedang gangguan tuan, setelah signal kembali normal saya akan segera upload video tersebut"


Jawab Lukman.


Seorang office boy pun datang dengan membawa air untuk mereka,


"Selamat siang ini air untuk semuanya"


Ucap sang office boy bermasker hitam dengan kacamatanya masuk ke ruangan Adiyasa beserta pengacara.


Karena sombongnya tidak ada satupun yang menjawab salam permisi dari si office boy hingga dengan sengaja sang OB menumpahkan segelas air kopi tepat diatas keyboard laptop Lukman hingga membuat mereka marah.


"Astaga apa-apaan ini?"


Lukman marah dan berdiri karena percikan air kopi yang panas mengenai celananya.


"Astaga maafkan saya tuan, saya tidak sengaja "


Jawab sang OB sesekali mengelap air kopi yang tumpah tersebut di laptopnya.


Adiyasa ikut bergeming jika sang OB tidaklah boleh begitu.


"Kamu harus tanggung jawab, bersihkan semuanya"


Perintah Adiyasa yang agung pada sang OB.


Sang OB yang malang pun membersihkan semua area yang kotor karena kopinya tersebut termasuk keyboard laptop Lukman.


"Semuanya sudah saya bersihkan tuan, sekali lagi saya minta maaf"


Ucap sang OB


"Ya sudahlah keluar saja kamu dari sini cepat"


Jawab Lukman mengusir OB tersebut.


Lukman pun mengecek kembali dan ternyata signal sudah kembali normal.


"Sinyalnya sudah kembali normal tuan "


Dengan senyum riang Lukman berkata pada Adiyasa.


"Cepat kamu upload video tadi dan buat caption yang sangat menyentuh agar mereka berempati padaku, hahaha"


Adiyasa.


Lukman pun segera menekan tombol enter tanpa melihat lagi video apa yang dia upload. Disaat yang bersamaan salah seorang petugas sidang memberitahu mereka jika sidang sebentar lagi akan segera berlanjut.


Dengan tenang dan senyum jahatnya Adiyasa hanya mengangguk seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Ya ya ya aku akan segera kembali ke ruang sidang"

__ADS_1


Jawabnya dengan berseri-seri.


Lukman ikut bahagia melihat sang jendral tersenyum, dia pun memberitahu jendral jika upload video memerlukan waktu yang sedikit lama karena jaringan memang belum seutuhnya stabil.


"Tidak apa, yang penting video itu harus tersebar luas" Adiyasa.


"Siap jendral"


Adiyasa bangkit dan berlalu kembali ke ruang sidang bersama sang pengacara untuk melanjutkan sidangnya.


Sementara di tempat lain Bisma masih khawatir karena Eliezer masih belum sadarkan diri, sang dokter pun melihat ada gejala pecandu di dalam diri El sehingga dia melakukan tes padanya.


"Untuk apa dok? Adik saya bukan pemakai obat terlarang, dia bersih"


Ucap Bisma.


"Ini hanya untuk sample saja tuan, dikhawatirkan kami salah menangani pasien itu sebabnya agar kami bisa menangani pasien secara maksima kami harus melakukan ini"


Jawab sang dokter membuat Bisma tidak bisa berbuat apa-apa, dan benar saja dari hasil tes tersebut ternyata El positif menggunakan narkoba.


"Apa ini tidak mungkin dok?"


Rebecca datang dan melihat hasil tersebut.


"Hasil tes ini tidak boleh sampai keluar ka Bisma, jika tidak maka semua akan bertambah rumit, terlebih El masih belum sadarkan diri"


Ucap Rebecca membuat sang dokter terdiam namun sebagai dokter dia juga harus bersikap profesional siapapun itu pasiennya.


Sang dokter coba bersikap tegas pada Rebecca yang memintanya untuk diam namun tiba tiba saja dari belakang Bisma menggunakan cara jitunya untuk membuat lawan tidak sadarkan diri dengan menyerang sang dokter tepat di bahu punggungnya.


"Astaga ka Bisma"


Ucap Rebecca yang terkejut melihat sang dokter jatuh pingsan.


"Kita tidak mempunyai waktu lagi untuk semua ini Rebecca, seseorang harus ada yang menjaga El disini dan kita harus memusnahkan hasil tes ini"


Rebecca pun terdiam, sebenarnya ini memang salah namun mereka tidak memiliki pilihan lain, dia segera menghubungi Leo sahabat El lainnya untuk menjaga El yang masih tidak sadarkan diri karena mereka harus kembali ke ruang sidang.


"Segera hubungi Abram "


Pinta Ka Bisma pada Rebecca.


Ternyata Abram sudah bersiap di ruang sidang dengan semua rencananya yang matang, saat Rebecca menghubunginya dia hanya mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


"Sebaiknya ka Bisma jaga El sampai dia sadarkan diri, dan ya nanti akan ada suster suruhanku membawa obat yang akan membuat El cepat sadar, setelah dia sadar segera bawa El kemari ka"


Jawab Abram pada ka Bisma di telpon.


Keduanya terdiam karena tidak tahu rencana apa yang sedang Abram lakukan kali ini,


"Semoga saja dia tidak melakukan kesalahan yang akan membuat El semakin terpuruk ka"


Ucap Rebecca.

__ADS_1


"Semoga saja"


Bisma.


__ADS_2