Eliezer

Eliezer
Sidang kedua


__ADS_3

Sang hakim mengetuk palu agar semua di mohon kembali tenang karena putusan hukum untuk kedua terdakwa akan segera mereka berikan.


Pak Gatot dan dan Dwiki melihat ke arah jendral Adiyasa, namun dari gelagatnya pak Adiyasa terlihat sekali meminta kedua rekan jahatnya itu untuk diam.


Dengan memberikan kode jari kepada keduanya mereka akhirnya diam.


Saat itu El tidak bisa melakukan apapun, namun dia tahu jika mereka sedang bekerjasama melawannya dan saat ini perasaan El pun mulai sedikit tidak stabil, entah apa yang dia rasakan namun hatinya terasa sangat gelisah, kepalanya pun mulai merasa pusing berputar.


"Ada apa denganku? Mengapa kepalaku terasa sangat pusing sekali?"


Tanya hati El.


Dari kejauhan Adiyasa melihat El yang mulai merasakan efek obat di buah apel yang dia makan tadi pagi.


Obat haram bercampur racun dosis rendah yang sengaja Adiyasa lapisi di kulit buah apel yang di kirim oleh kedua polisi suruhannya untuk meracuni Eliezer.


El cukup beruntung karena dia tidak memakan sarapan paginya yang telah di campur racun mematikan oleh Adiyasa, namun kali ini dia terjebak dengan narkoba yang tidak sengaja dia makan di buah apel itu.


Semua akal licik Adiyasa bekerja mengingat El adalah putra Megantara yang sangat pintar, cerdik dan waspada. Itu sebabnya dia sengaja meracuni semua sarapannya dengan racun yang berbeda-beda.


"Aku tidak boleh jatuh pingsan, sebentar lagi aku harus mengatakan yang sebenarnya pada hakim mengenai Adiyasa dan kebenaran tentang ayahku, aku harus bersaksi dan menyatakan yang sebenarnya".


Ucap hati El menahan rasa sakit di kepalanya.


Dengan semua bukti yang ada, Pak Gatot dan Pak Dwiki akhirnya di nyatakan sebagai tersangka.


"Atas semua bukti yang ada terdakwa Gatot Subroto dan Dwiki Candra kami nyatakan sebagai tersangka karena telah terbukti berencana menghilangkan nyawa Mr Rafael Mrs Maria dan saudari Patricia dengan hukuman penjara maksimal 20 tahun dan denda masing-masing sebanyak 2 miliar "


Keputusan sang hakim mengetuk palu pertanda hukum sudah di berikan dan tidak bisa d ubah lagi.


Keduanya sangat terkejut dengan putusan hakim yang sangat memberatkan mereka, Pak Gatot dan Pak Dwiki marah karena tidak terima dengan hasil putusan sidang.


"Apa-apaan ini, semua tidak benar pak hakim"


Teriak Pak Gatot membuat suasana sidang kembali ricuh.


El cukup puas dengan putusan hakim pada kedua korup tersebut, namun hatinya masih terasa ganjal, kini tatapannya pun beralih kembali pada Adiyasa, El melihat Adiyasa nampak meminta kedua tersangka itu untuk tenang seakan tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka meski vonis hukum penjara 2 tahun dan denda yang cukup fantastis sudah di berikan.

__ADS_1


"Rencana apalagi yang akan mereka lakukan kali ini? Aku harus tahu mereka pasti sudah merencanakan sesuatu"


Pikir El.


Setelah keputusan sudah diberikan pada Gatot dan Dwiki, kali ini hakim memanggil terdakwa jendral Adiyasa untuk semua laporan El tentang sang ayah, yaitu jendral Megantara.


Sang jendral yang menjadi panutan di masa hidupnya namun karena fitnah Adiyasa masyarakat pun mengecam dan melaknat jendral Megantara atas tuduhan kepemilikan obat terlarang dan uang korupsi sehingga citra polisi di mata masyarakat kala itu hancur seketika.


Tugas El kini mengungkap tabir kebenaran atas kasus kematian keluarga kandungnya dan membersihkan kembali nama sang ayah dari fitnah jebakan Adiyasa.


Setelah hakim memanggilnya untuk duduk di kursi terdakwa, Adiyasa pun berjalan dengan tenang seakan Dewi Fortuna akan berpihak kepadanya. Bagaimana mau tidak tenang Adiyasa tahu betul jika racun di buah apel yang El makan sudah mulai bereaksi.


"Kamu tidak akan bisa bicara apapun bocah tengil, kamu akan kalah melawanku"


Ujar Adiyasa dalam hati saat berjalan menuju kursi dan melihat ke arah El.


"Saudara Adiyasa Wicaksono tertuduh pembakaran rumah jendral Megantara yang menyebabkan hilangnya nyawa Bu Damayanti, Beno, beserta asisten rumah tangga yang ada di dalam rumah serta fitnah kepemilikan ratusan kilogram narkoba dan uang pada jendral Megantara"


Ucap sang hakim membuka sidang untuk Adiyasa.


Beliau meminta pengacara El untuk menunjukan bukti jika semua tuduhan itu benar adanya.


"Baik yang mulia, sesuai dengan permintaan pak hakim, disini ada satu saksi yang menjadi kunci kejahatan tertuduh yang mana adalah Eliezer sendiri, tersangka penculikan sekaligus Justice Collaborator untuk tuduhan kejahatan yang di lakukan pada pak Adiyasa"


Jawab Abram berjalan mendekati El yang sudah terlihat berkeringat dan lemah.


"Bersiap El, sekarang kamu harus bicara yang sebenarnya pada hakim agar semua kebenaran terungkap aku yakin kita pasti akan menang"


Ucap Abram pelan pada El memintanya untuk bersiap.


El hanya tersenyum menahan sakit di kepala agar Abram tidak mencemaskannya.


Tiba waktunya El bicara, semua merasa tegang menanti saat saat ini, saat dimana kebenaran di masa lalu akan terungkap, Bisma sangat berharap jika El akan berhasil meyakinkan sang hakim dengan semua kebenarannya.


El menyeka keringat di kepalanya dan mulai berbicara.


Namun entah mengapa saat dia hendak mengucapkan sepatah kata napasnya terasa sesak, El coba menguatkan dirinya namun

__ADS_1


Bruk..


Tiba-tiba saja El jatuh tidak sadarkan diri sehingga membuat kepanikan di ruang sidang.


"El"


Teriak Bisma dan Rebecca.


Abram yang ikut terkejut langsung menuju El yang terkapar jatuh.


"Bangun El bangun kamu kenapa?"


Wajah Abram seketika menatap tajam ke arah Adiyasa saat menyeka keringat di kening sahabatnya itu.


"Ini pasti konspirasi"


Ucap hati Abram melihat Adiyasa yang sedang tersenyum karena El pingsan.


Rebecca segera menolong Eliezer dan bertanya pada Abram apa yang terjadi?


"Ini sudah menjadi rencananya, lihatlah senyumnya itu"


Bisik Abram Rebecca dengan melihat ke arah Adiyasa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Ini kesempatan kita untuk membuka kejahatannya?"


Tanya Rebecca pada Abram.


Abram pun terdiam dan berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang.


Petugas kesehatan pun datang menjemput dan membawa tubuh El dari ruang sidang sehingga Halim bertanya apakah sidang akan di lanjutkan atau di tunda? Melihat El yang jatuh pingsan.


"Mohon maaf yang mulia, sepertinya klien saya memeng sedang tidak sehat tapi berikan kami waktu setelah dia sadarkan diri maka dia akan menceritakan semua kesaksiannya"


Jawab Abram pada sang hakim meminta waktu menunggu El sadarkan diri.


Pengacara Adiyasa pun ikut angkat bicara

__ADS_1


"Maaf yang mulia, saya rasa kita tidak bisa menunggunya sampai saksi sadarkan diri, mengingat tidak ada bukti yang membuktikan klien saya "


Rebecca ingin sekali marah pada sang pengacara Adiyasa.


__ADS_2