Event Horizon

Event Horizon
Kematian sang kakek...


__ADS_3

Ada seorang anak laki-laki, dia berambut lurus dan berponi menutupi sebagian matanya, anak laki-laki itu bernama Andi Reynand. Dia membawa sebuah buku di dadanya, dan berjalan berlahan ke arah pintu kayu. Membuka dengan perlahan-lahan, lalu dia mengintip sedikit dibalik pintu itu.


Surabaya, 12 Mei 2013, 11:37…


Hari yang begitu cerah, seorang kakek yang duduk di kursi goyang berkulit keriput dan berwajah setengah tersenyum. Dia menikmati masa tuanya sambil meminum segelas teh hangat dan sepiring biskuit di siang hari.


“Hari ini…”


Sambil meminum tehnya, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki diam-diam menghampiri dirinya untuk mengejutkan kakeknya dari arah samping.


“Kakekkk…!”


“…Huh, Andi! Kirain siapa, jangan ngagetin kakek dong! Jantung kakek.”


Sambil mengeluh nafas dan mengelus dadanya, kakek pun spontan berwajah kaget dengan kursi goyang yang mundur sedikit kebelakang. Orang di kagetin dari belakang, ya rasanya kayak ada jantung mau copot gitu deh.


“Maaf kek! Aku hanya menyapa kakek. Te’heee…!”


Andi berbicara dengan nada lucu dan berwajah yang tersenyum tulus.


Kakek berwajah penasaran tentang buku yang dibawa oleh Andi itu.


“Buku apa yang kamu bawa itu, Andi?”


“Oh ya kakek, bacakan cerita yang ada di dalam buku ini dong kek!”


Andi memperlihatkan sebuah buku yang dia bawa itu kepada kakeknya.


Kakek merasa tertarik dengan buku itu, bentuk wajah yang tersenyum.


”Ohhh… Jadi, kamu pilih buku ini ya?”


Setelah kakek menerima buku itu dari Andi dengan perasaan sedikit terkejut, dia melihat sisi sampul dan membaca judul buku yang dibawa oleh Andi, dengan sedikit tersenyum, dia pun bersedia membacakan buku itu.


“Ok. Kakek akan menceritakan. Kamu duduk manis disini ya!”


“Iya kakek. Asikkk…!”


Dengan jeda pendek, sambil menggosok tangan, Andi merasa senang ketika kakeknya bersedia membacakan sebuah buku yang dia bawa itu. Dia pun mendengarkan sambil duduk manis di depan kakeknya. Dengan posisi kedua kaki saling terlipat, lalu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


“Dan, dengerin kakek, jangan sampai ketiduran!”

__ADS_1


“Iya kakek.”


Andi menjawab bernada lemas sambil menundukkan badannya.


Tersenyum sedikit, dia membuka buku itu secara perlaha-lahan lalu dengan santainya juga, dia memulai menceritakan apa isi yang ada di buku itu.


“Pertama-tama, buku ini menceritakan tentang seorang penjelajah waktu, ya bisa di bilang penjelajah ruang dan waktu, atau bisa di bilang lagi dengan bahasa kerennya space of time. Hehehe…! uhukuhukkk…!”


Sampai semangatnya, si kakek menutup mulutnya dengan tangan lalu secara tidak sengaja dia mengeluarkan suara seperti orang yang sedang batuk.


“Kakek tidak apa-apa?”


Andi berdiri karena merasa kawatir, dia menepuk punggung kakeknya perlahan-lahan sambil memasang perasaan yang sedikit cemas.


“Oh tidak apa-apa. Ok, kita lanjutkan saja.”


“Yakin, kakek tidak apa-apa?”


“Tenang saja Andi, kakek masih strong.”


Dengan sedikit percaya dirinya, karena kakek tidak mau Andi merasa cemas dengannya, kakek pun melanjutkan lagi ceritanya itu. Andi yang masih berdiri di samping kakek, dia berjalan ke arah depan lalu kembali duduk manis.



“Mesin waktu kek?”


Andi memiringkan kepalanya sedikit, karena merasa bingung. Lalu, Dia merasa tertarik dengan makanan yang ada di depannya, dia berdiri dan arah tangannya mengambil sebuah biskuit, yang ada di atas meja kakeknya itu.


“Iya, orangnya itu menciptakan mesin ruang dan waktu.”


Sambil memakan sebuah biskuit, Andi berwajah serius memperhatikan.


“Dia itu bertujuan untuk ingin mengetahui pesan tersembunyi dari cerita berdirinya tujuh bangunan dari keajaiban dunia kuno, dia dengan menjelajahi ke seluruh penjuru dunia hanya memakai mesinnya itu. Orang itu motifasi dari nama Antipater Mix yang mengucapkan ke dalam bukunya…”


Andi masih mengambil biskuit kakeknya, yang ini sudah ke tiga kalinya.


“...Aku telah menyaksikan tembok Babilonia yang perkasa yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di tepi sungai Alfeus, aku telah melihat taman gantung, dan Kolosus patung kolosal Dewa Matahari, dan gunung buatan dari piramida yang menjulang tinggi, serta makam raya Raja Mausolus, namun ketika aku melihat kuil Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, 'Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung…”


Tiba-tiba sebuah biskuit terjatuh dari tangannya Andi. Dan tidak lama kemudian, tiga puluh detik pun dia mulai mengantuk, perlahan-lahan matanya mulai terasa gelap dan isi atmosfer bumi menjadi terasa sunyi hening seketika.


“loh kok mataku mulai tidak kuat ya, kakek… Kakek… Kakekkk…?”

__ADS_1


Sambil menahan kantuknya, dia sempat memanggil nama kakeknya. Kakek pun merasa terkejut, lalu spontan menaruh bukunya itu ke atas meja.


Dengan cepatnya, kakek memegang Andi dalam pelukannya.


“Andi! Maafkan kakek ya, karena kakek melakukan ini semua demi kebaikanmu juga, karena sekarang ini kakek sedang…”


Kakek mengalihkan pandangan sedihnya setelah dia mendengarkan ada suara berisik di balik semak-semak, lalu dia mengeluarkan suara kerasnya.


“Siapa di sana? Keluarlah!”


“An… Jangan keluar!”


“Maaf kita sudah ketauan, lebih baik kita keluar saja.”


Setelah sesosok tiga remaja keluar dari tempat persembunyiannya, kakek pun terkejut dan sempat menggenggam erat Andi dalam pelukannya.


“Siapa kalian bertiga?”


“Kami ini adalah…”


Salah satu laki-laki misterius itu menyelah pembicaraan si gadis itu.


“Maaf! Lebih baik kita tolong anak ini dulu.”


“Terima kasih… Tunggu! Kalian siapa dulu?”


“Nanti aja kita bicara ya, kek.”


Setelah Andi di gendong dan di bawah pergi ke kamar, kakek hanya bisa pasrah dan kembali ke kamarnya, dengan tujuan membuat sebuah surat.


Namun, muncullah sesosok wanita dewasa yang membawakan pisau tajam sedang di arahkan ke leher kakek, dia langsung berbicara mengancam…


“Di mana handphone dan kunci ruangan yang kamu sembunyikan itu? Cepat beritau! Kalau kamu gak beritau sekarang, aku akan…”


“Maaf! Handphone yang kamu maksudkan itu sudah gak ada lagi.”


“Brengsek kamu! Kalau begitu sebagai gantinya, kamu akan aku bunuh dan ke dua cucumu akan aku jadikan…”


“Ke dua cucuku jangan…”


Saat kakek berbicara dengan penuh kekawatiran dan ketakutan, dalam sekejap mata pisau itu menusuk ke perutnya. Pisau pun berlumuran darah…

__ADS_1


__ADS_2