Event Horizon

Event Horizon
Jangan berisik


__ADS_3

Andi yang mengetahui ada suara Emilia dan Ridwan di sebelah urutan nomer tiga dekat lamari buku dari dirinya. Andi dengan spontan sadar, seperti orang yang lagi panik, dia meletakkan kembali buku itu sambil mengingat tempat di mana buku itu dia letakkan. Menghampiri mereka lalu menegurnya.


“Sudah-sudah jangan bertengkar dan jangan ber…”


Mata Andi tertuju langsung ke arah buku yang sedang Ridwan pegang, sepertinya dia berpikir sudah ketemu, lalu dia pun barkata lagi.


“… Oh buku itu… Kamu udah mendapatkannya ya Ridwan?”


Ridwan menjawab sambil memberikan bukunya itu kepada Andi.


 “Iya Andi. Buku ini yang berjudul Dioscorides and Antipater of Mix : The World. Buku yang di karang oleh Antipater Mix itu sendiri dan di tulis ulang kembali oleh seseorang Jerry Claw pada tahun 2002.”


Andi menerima buku yang diberikan oleh Ridwan dengan rasa senang. Buku yang bersampul berwarna kuning ke emasan, Ketebalan buku yang tipis, ringan, bentuknya yang sudah kusam dan sedikit kusut.


Sebelum itu, Emilia diam-diam mengembalikan buku yang dia baca ke tempat semula, dia melangkah menuju ke samping Ridwan dengan malunya.


“Bagus sekali kamu Ridwan.”


“Tentulah, dan tidak seperti sebelahku ini, dia malah…”


Sambil mengarahkan jarinya ke Emilia. Entah kenapa wajahnya Emilia berubah menjadi kesal dan secepatnya dia membungkam mulut Ridwan.


“… Hmhmhmhmmmm…”


Andi melihat tingkah laku mereka berdua yang aneh, seketika itu bentuk wajahnya mulai menegang sambil melihat-lihat ke sekeliling. Dia yang sudah merasa kawatir karena merasa terancam, lalu dia berkata secara pelan.


“Jangan buat keributan di perpustakaan ini! Nanti kita dapat tegur!”

__ADS_1


Setelah diberi peringatan oleh Andi. Emilia secara perlahan-lahan melepaskan tangannya dari mulut Ridwan dan melangkah menjauh menghindarinya. Di sisi lain, Ridwan langsung tenang dan menurut diam.


Setelah Andi melihat mereka berdua sudah diam dan tenang. Dia membuka buku yang sudah dia pegang dan membaca isi buku dengan santai.


“Dilihat dari isinya ternyata buku ini adalah perkumpulan beberapa dari sebuah puisi dari keajaiban dunia kuno. Jadi, betul kata bu Anna itu.”


Mereka berdua mendekatkan wajahnya dan membaca bersama. Tidak lama, Andi menutup bukunya sambil mengucapkan dengan santainya.


“Biar lebih enak dan santai. Kita bawa aja buku ini ke ruang klub.”


“Ok, langsung sikat dan cabut.”


Ridwan merasa senang dan bersuara semangat sambil mengangkat sedikit kacamatanya. Mereka serentak melangkah maju dan berhenti di depan kasir perpustakan sekolah untuk meminjam buku yang sudah dibawa itu.


Setelah mereka sudah mendapatkan izin dari pihak perpustakaan sekolah untuk meminjam sebuah buku. Pada saat selesai pelajaran terakhir, mereka memutuskan pergi ke ruang klub untuk memecahkan kodenya itu.


“Kakak, apa boleh aku pergi ke ruangan klub sekolah kakak? Tenang kak, aku sudah selesai dengan pelajaran sekolahku kok. Boleh ya, kak?”


Andi membalasnya dengan wajah tersenyum, karena merasa senang.


“Iya tidak apa-apa silahkan datang, tapi kamu hati-hati ya di jalan!”


Tidak lama kemudian, Ira membalasnya lagi, sangat cepat ya.


“Ok kakak, aku akan hati-hati.”


Andi menutup handphonenya dengan perasaan yang senang.

__ADS_1


Emilia melirik sekilas, tiba-tiba Emilia menghampiri Andi secara diam-diam, dia memasang kuda-kuda dan mengagetkannya dari arah samping.


“Hayo! Andi lagi ngapain? Senyum-senyum.”


“Oh tidak apa-apa kok, pesan dari adikku.”


“Mana-mana? Lihat-lihat!”


Mendekatkan wajahnya ke Andi, sambil ingin melihat handphonenya.


Andi memperlihatkan isi pesannya kepada Emilia yang penasaran.


“Hmmm…? Adikmu jadi akan datang ke sini ya, sekarang?”


“Iyaaa…”


Andi menjawabnya sambil menaruh sebuah senyuman kepadanya.


Ridwan yang mengetahui bahwa adiknya Andi akan datang ke sekolahan hari ini, dia pun langsung semangat bergembira, bersuara kerasnya.


“Akhirnya masa mudaku berjaya lagi.”


Emilia melihat tingkah lakunya Ridwan yang sangat konyol didalam pikirannya. Tingkahnya itu, ya seperti sedang menangis sambil mengeluarkan air mata ke bahagiaan tapi bukan menangis beneran loh ya, malah dia berwajah tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dan meloncat.


Emilia meliriknya sambil mengucapkan dengan nada menghina.


“Apa dia sudah kehabisan obat penenang saraf. Dia mulai edan.”

__ADS_1


__ADS_2