
Andi berjalan berduaan bersama Emilia, Andi merasa malu-malu saat keluar dari kelasnya, wajahnya memerah seperti buah tomat. Mereka berdua berjalan di koridor lantai tiga gedung sekolah menuju ke sebuah ruangan sepi.
Surabaya, 3 Juli 2018, 12:16…
Setelah mereka berdua sampai tepat di depan sebuah ruangan dengan pintu kayu berukir polos. Emilia menghentikan langkah kakinya, di mana ruangan yang belum ada pemiliknya, wajahnya tersenyum manis, arah tangannya dia memegang lalu membalikkan seperti sebuah papan nama yang sudah tergantung di pintu, papan itu bertuliskan nama klub sejarah.
“Selamat datang di klub sejarah.”
Andi hanya bisa terdiam saja sambil matanya terfokus ke tulisan itu dan lama-kelamaan dia tersenyum seperti memenangkan hadiah yang indah.
Andi membuka pintu, dia hanya melihat ruangan yang gelap dan di penuhi dengan banyak buku yang berjajar rapi. Atmosfer udara yang terasa dingin dan sedikit sunyi, lalu dia mendengar suara seperti ada seseorang memainkan sebuah papan ketik keyboard dangan nada yang tidak teratur.
Andi melihat sekeliling ruangan dengan mata yang sedikit tertutup.
“P-permisi!”
Andi masuk ke ruangan dengan sedikit rasa takut dan bersuara pelan.
“Wahhh… Ada banyak buku di mana-mana. Wow! banyak sekali.”
Perlahan-lahan mata Andi terbuka lebar, tiba-tiba dia merasa terkejut dan tidak menentu. Dia seperti melihat sesosok bayangan hitam yang disoroti oleh sinar dewa dari arah jendela yang melewati celah tipis sebuah tirai.
Andi melihat seperti ada seseorang misterius sendirian di ruangan yang begitu gelap, orang itu sepertinya sedang memainkan sebuah komputer, karena terdengar suara keyboard yang begitu keras. Dia sambil mendengarkan musik dari sebuah alat headset yang di letakkan di atas kepalanya.
Enam puluh detik bukan lima puluh detik kemudian, Emilia berjalan seperti kepiting merayap-rayap di sisi dinding, dia sambil mencari tombol untuk menyalakan lampu, di karenakan di dalam ruangan yang sangat gelap.
“Ctek!”
__ADS_1
Andi spontan terkejut, dia yang sudah melihatnya dan ternyata. Ya maklum ruangan gelap dan ada sesosok makhluk misterius dan tiba-tiba teman sebelahmu menyalakan lampunya. Suara pun menggema keras.
“Kyaaaaa…!”
“Hahhhhhhh…!”
Tapi, kok anehnya dari sini ya, orang misterius itu juga merasa kaget sambil mengeluarkan suara kerasnnya juga. Hmmm… Suara menggema pun terus-menerus menyambung sampai akhir, alunan melodi yang sempurna.
Catatan kecil, sinar dewa itu adalah sorotan cahaya ya hehehe…
Ternyata orang misterius yang di soroti oleh sinar dewa dari sisi lain, dia yang memainkan komputer sendirian di ruangan yang gelap. Ya siapa lagi, orang berkacamata dan sifatnya sedikit keren, dia itu Ridwan, teman nya Andi. Dan paling sedih, awal pertemuannya dia itu, hmmm…? Hanya sebentar saja.
“Hahhh… Dengkulmu! Ridwan kok kamu ada disini? Katanya ada keperluan bentar? kirain kamu tadi ke ruang OSIS untuk membuat klub.”
Ridwan yang sedang memasang wajah seperti tanpa bersalahnya itu, menggosok tangannya di belakang kepalanya sambil berpikir membuat alasan.
Emilia melangkah maju ke arahnya Ridwan, lalu menepuk tepat di bahunya Ridwan. Dia melakukan gerakan wajah yang tersenyum manis.
“Ok! Tenang semuanya. Aku perkenalkan sekali lagi, orang yang sok kerennya ini, dia yang memakai kacamata adalah Ahmad Ridwan. Dia yang sudah mendirikan klub sejarah ini, oh ya dia sekalian ketua klub kita.”
Emilia memperkenalkannya dengan jeda yang sedikit panjang.
Ridwan yang sudah selesai mendengarkan, dia melihat ke arah Emilia sambil mengeluarkan suara dengan kerasnya, karena merasa terkejut.
__ADS_1
“Woi…”
“Salam kenal, ehhh… Tunggu dulu!”
Andi yang asik mendengarkan karena merasa terhibur sambil melipat ke dua tangannya, tak lama kemudian, dia mengeluarkan suara yang keras.
Dengan jeda yang pendek, Andi secepatnya melangkah maju sambil menanyakan sesuatu ke Ridwan dengan seriusnya, karena hal itu masih aneh.
“Gimana kamu kok bisa mendirikan klub ini? Katanya dari ketua OSIS, klub tidak di setujui kalau anggotanya ada tiga orang?”
Ridwan memberitahukan rahasianya sedikit kepada Emilia dan Andi. Tiba-tiba hawa suasana menjadi keseriusan. Tapi, kali ini dia sambil mengangkat kacamatanya sedikit ke atas, Tinggg… seperti gitu deh bunyinya.
“Iya. Kalau itu aku punya sebuah tak-tik sendiri untuk membujuk si ketua OSIS! Tapi, dengan cara…”
Emilia dan Andi memasang wajah yang serius. Mata mereka melihat ke arah Ridwan, karena tidak ingin ketinggaan kata yang keluar, dia yang sedang seriusnya memberitahu, seakan-akan Ridwan punya rahasia sendiri untuk ketua OSIS. Mereka berdua mengucapkan secara bersamaan dan serasi.
“Caranya gimana Ridwan?”
“Caranya…”
Setelah mereka serius, seakan sesuatu hal lain yang keluar dari mulut Ridwan, dia yang sangat seriusnya memberitaukan dengan lucu mengucapkan.
“Oh, caranya maaf itu masih bersifat, rahasia.”
“Cih... Itu lagi?”
Emlia sedikit kecewa tentang Ridwan, dia yang masih merahasiakan caranya itu. Tapi, mereka bertiga tetap semangat dan senang karena klubnya sudah jadi. Tak lama kemudia, Andi tersenyum lega sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Kesimpulannya, ketiga siswa kelas satu, mereka yang ingin menemukan arti dari sebuah pesan tersembunyi yang di tulis oleh kakeknya Andi, tepat di belakang sebuah peta. Akhirnya, mereka berhasil membentuk sebuah komunitas klub sendiri, namanya adalah Klub Sejarah. Namanya itu masih sementara loh ya, dan mereka masih belum merencanakan dari awal.