Event Horizon

Event Horizon
Diikuti wanita misterius


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Ridwan, Andi pun berjalan santai menuju ke rumahnya. Sepertinya, dia sudah ditunggu oleh adiknya yang ada di rumah untuk memberikan pesanan Ira yang berupa lollipop dan pudding.


Surabaya, 3 Juli 2018, 21:08…


Suasana atmosfer pada saat malam hari yang sangat mencekam. Andi pulang sendirian melewati jalan yang sepi. Lalu muncullah seorang wanita yang berpakaian serba putih, dia itu sedang mengikuti Andi dari belakang.


Andi masih tidak tau kalau ada seorang wanita sedang membututinya dari belakang. Andi pun merasakan seperti indra ke enamnya bekerja. Bulu yang ada di seluruh kujur tubuhnya tiba-tiba berdiri, bisa di bilang merinding gitu dan hidungnya mencium bau melati yang menyengat dari arah belakang.


Andi yang hanya membawa keresek putih yang berisi hanya permen dan pudding saja. Dia menegukkan air liurnya lalu melangkah cepat agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan. Terdengarlah suara yang memanggilnya dari belakang dengan merdunya, Andi pun terus berjalan dan mengiraukannya.


“Tunggu…! Ano…?”


Wanita itu terus-menerus memanggil Andi dari belakang. Andi pun menghiraukannya lagi dan terus berjalan ataupun menoleh sedikitpun. Wanita itu lama-kelamaan menjadi kesal dan mengeluarkan suara dengan keras.


“Oee…! Kamu yang di situ! Berhenti!”


Tubuh Andi, tiba-tiba merespon diam sambil menggigil ketakutan.


“Iya!”


Seketika itu Andi berhenti di tengah jalan, dia mulai menegang dengan penuh keringat yang berguyur di wajahnya. Andi hanya melirik ke belakang secara sedikit demi sedikit, dan mulai merasa takut. Dia melihat sesosok wanita di bawah sorotan lampu jalan seperti biasa, berpakaian serba warna putih yang sedang menghampirinya dengan langkah kaki yang pelan.



Wanita itu menghampirinya lalu dia memegang bahu Andi. Andi hanya diam ketakutan sambil menutup ke dua matanya. Wanita itu mengeluh nafas sebentar, lalu melangkah maju dan berhenti tepat di depan Andi.


Andi yang sudah merasakannya dari baunya, dia membuka matanya sedikit demi sedikit, dan terkejutlah dia, ternyata wanita itu adalah.


“Kamu yang ada di restoran itu tadi, kan?”

__ADS_1


“Iya…”


“… Huh! Kirain siapa.”


Andi mengeluh nafas dalam-dalam sambil mengelus dadanya.


“Nama kamu siapa? Boleh kenalan gak?”


Sekarang, detak jantung Andi menjadi tidak karuan, karena sedang menunggu respon dari wanita yang di depannya. Dia mengangkat tangan kanannya ke arah Andi, seperti orang yang mau melakukan berjabatan tangan. Andi yang sudah menunggu lama, akhirnya mereka saling berkenalan.


Wanita itu mengucapkan kata dari gerak bibirnya yang lembut.


“Nama aku Adinda Fradella.”


Detak jantungnya Andi masih tidak karuan, dia menjadi sedikit gugup.


Andi yang tidak mau melepaskan tangannya, karena tangannya yang lembut dan terasa hangat, lalu tangan kirinya mengelus ke belakang kepala sambil tersenyum. Adinda juga tersenyum secara tiba-tiba, senyuman yang manis itu membuat Andi menaruh curiga, dia pun mengucapkan kata pelan.


“Akhirnya kita bertemu, Pa...”


“Bertemu?... Pa…?”


Andi pun sedikit penasaran tantang hal itu, dia hanya bisa melihat wajahnya Adinda dengan tatapan tanpa ada celah. Tanpa di sadari juga, Adinda spontan menutup mulutnya sendiri, lalu mengeluarkan suara manis.


“Oh tidak, maaf. Aku tadi salah mengucapkan.”


Andi merasa sedikit curiga terhadap tingkah lakunya Adinda itu. Dia yang tiba–tiba tersentum manis kepadanya, lalu dia berkata sedikit pelannya, sebuah kata kangen, seperti dia sudah lama ingin bertemu dengan Andi.


“Ohhh… Kirain apa, ternyata aku salah dengar ya. Hahaha…”

__ADS_1


Dengan jeda pendek, sambil Andi tertawa garing. Detak jantung Andi yang masih tidak karuan itu, dia hanya memalingkan wajahnya dari Adinda.


“Gawattt…! Detak jantungku masih belum normal.”


“Ada apa Andi?”


“Tidak ada apa-apa. Ayo kita jalan saja.”


Akhirnya Andi melepaskan tangannya dari Adinda. Dia tidak akan pernah melupakan kajadian ini, kejadian yang penuh dengan warna-warni masa mudanya, dan satu kali lagi detak jantungnya sudah kembali normal loh.


Saat di jalan, Andi dan Adinda saling berpaling arah pandangan dan seperti ada jarak satu spasi badan di antara mereka berdua, dengan perasaan yang sedikit malu, dan juga detak jantung Andi malah kembali bising.


“Aku harus ngomong sesuatu kepadanya nih.”


Andi berjalan di sebelahnya Adinda dengan kecepatan yang sama pula, seakan-akan dia akan siap untuk berhenti kapanpun dan di manapun. Adinda memiliki tubuh yang ramping, suara yang manis, dan juga sedikit aneh.


Berdiri di sebelahnya sama seperti berdiri di atas bongkahan es tipis yang hampir saja retak. Dia bagaikan kerajinan yang terbuat dari kaca bening yang halus dan dapat hancur begitu saja kalau disentuh, piarrr…!


Itulah kesannya sendiri yang Andi berikan kepada Adinda, hal ini berlaku untuk sekarang atau mungkin tidak seterusnya, dan bukan berlaku untuk yang tadi, saat Adinda yang ingin menghentikan Andi dengan tegasnya.


Tiba-tiba, dia berkata dengan nada yang lemah lembut dan pelan.


“Andi, itu tadi tidaklah buruk.”


“Eh…?”


“Kedengarannya lumayan bagus. Aku mulai menyukainya.”


Andi sedikit kebingungan tentang apa yang Adinda bicarakan itu.

__ADS_1


__ADS_2