
Aku percaya pada senyumanmu, dan aku tidak perduli entah kamu dari masa depan atau masa lalu, aku pasti bisa menyelamatkan senyumanmu itu dari segala penderitaan kesedihan ini. Maka dari itu, tunggu aku.
Surabaya, 3 Juli 2018, 18:34…
Malam yang panjang untuk pulang, Andi membuka kulkas dengan perlahannya dan melihat isi kulkas, dia mengucapkan dengan wajah malasnya.
“Astagaaa…!”
Andi kaget melihat isi kulkas yang hanya ada sayuran, padahal tadi pagi dia sudah memasak buat makan malam nanti, tapi kok sudah tidak ada.
“… Huhhh!”
Andi mengeluh nafas panjang sambil menundukkan badannya, dia yang baru pulang dari sekolah dan disapa dengan tidak ada makanan di kulkas.
“Lah kemana semua makanan yang sudah aku siapkan untuk makan malam ini, jangan-jangan? Iraaa…!”
Suara menggema kerasnya. Ira yang pura-pura tidak tau, kalau kakaknya lagi memanggilnya bernada sedikit marah, dia malah mencuekinnya.
“Hey Ira, tolong kamu lihat ke kakak sebentar deh!”
Ira yang asiknya nonton TV sambil memakan permen lollipop kesukaannya. Membalikan badan lalu menyapa kakaknya dengan nada manjanya sambil memasang wajah tersenyum manis.
“Iya kakakkk…!”
“Jangan memakan semuanya!”
Sambil memainkan kakinya di atas sofa. Wajah cemberutnya pun jadi.
“Salah sendiri, kakak pulangnya lama!”
Andi merasa bersalah kepada adiknya. Sebab, Andi sudah di tunggu oleh adiknya untuk makan bersama, tapi dia malah pulangnya telat.
“Yang jelas, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai memakan semua daging yang ada di kulkas itu?”
“Asikkk, daging! Begitu pikiranku kalau sudah melihat daging.”
Andi mendengar alasan adiknya yang gak masuk akal, suara kerasnya.
“Daging dengkulmu ya!”
“Maaf kakak. Te’heeeee…!”
Mengucapkan maaf, sambil Ira memasang wajah manisnya ke kakaknya. Dengan cara, dia memukul sendiri kepalanya dan mengedipkan mata sebelah, melunjurkan lidahnya sedikit ke samping, lalu bersuara lucu.
Setelah melihat wajah konyol adiknya, Andi yang tak tega memarahi Ira lebih lanjut, akhirnya dia pun mengalah dengan membeli makanan di luar.
__ADS_1
Ira pun kembali lagi melihat acara TV nya, dia memakan lagi permen lollipop sambil memainkan helai rambutnya. Andi melihat dan menegurnya.
“Jangan dekat-dekat kalau melihat…!”
“Dekat, ya? Berarti ini gawat, dong!”
Lagi-lagi, Ira menghiraukan peringatan dari kakaknya, soal jaga jarak dengan TV. Ingat teman jangan dekat-dekat kalau melihat TV ya.
“… Huh!”
“Apa besok sekolahku pulangnya boleh di percepat, ya?”
“Tentu saja itu tidak mungkin.”
Setelah Andi membuka pintu. Ira mendengarkan suara pintu yang telah terbuka. Sepertinya, Ira berpikir kakaknya mau keluar untuk beli makanan. Dia yang sudah tau tentang hal itu, lalu tubuhnya merespon menjauhkan pandangan dari TV dan menyapa kakaknya dengan suara manja.
“Kakak mau pergi ke mana?”
Andi berhenti melangkah keluar, tepat di samping sebuah pintu kayu.
“Tentu saja ke toko.”
“Kakak?”
“Ada apa Ira…?”
“Tolong belikan lollipop dan pudding sekalian, ya?”
“Enggak lah…!”
Andi melihat adiknya cemberut dengan wajah yang lucu. Kalau pulang dari restoran, Andi tidak membelikan apa yang Ira minta, dia jadi merasa bersalah dan tidak tega melihatnya. Akhirnya, Andi memutuskan untuk membelikan sebuah pudding dan lollipop untuk adiknya.
“Ya sudah. Jaga rumah ya, jangan kemana-mana!”
“Ok, kakak. Tapi, jangan lama-lama ya?”
Setelah sampai di toko swalayan yang dekat dengan rumahnya, sebelum memutuskan untuk beli makan dulu. Andi yang tidak mau lupa tentang pesanan Ira, Andi memutuskan untuk membeli pudding dan lolipop dulu untuk Ira. Setelah membeli pesanannya Ira, Andi langsung menuju ke restoran untuk membeli makanan, karena hari ini sudah saatnya jam tidur.
Mengambil sebuah pudding dan menaruhnya di ranjang.
“Apa aku terlalu memanjakannya, ya?”
Andi mengeluh nafas pendek karena merasa kawatir, setelah selesai membelikan pesanannya Ira, dia keluar dari swalayan dengan membawa lollipop dan pudding saja yang berada di dalam kantong plastik putih.
“Apa lebih baik aku harus lebih tegas ke adikku, ya?”
__ADS_1
Andi berjalan menuju restoran untuk makan malamnya. Tak sengaja dia berpapasan dengan seseorang yang tak asing baginya, dia itu Ridwan.
Ridwan menyapanya dengan cara kerennya, meletakkan jarinya ke samping kepala, lalu dia menggoyangkan ke depan sambil mengucapkan.
“Andi! Yo.”
“Ohhh… Ridwan.”
Kali ini Andi menyapanya dengan nada sedikit lesu, ya bisa dibilang kurang bertenaga, karena merasa belum makan dari tadi.
“Andi mau ke mana?”
“Mau ke restoran, beli makan.”
Ridwan memegang perutnya sambil mengelusnya pelan-pelan. Suara gemetar gemurung keluar dari arah perutnya Ridwan.
“Aku juga lapar. Ayo!”
Andi dan Ridwan berjalan bersama menuju restoran untuk beli makanan. Mereka berjalan sambil berbincang tentang kehidupannya Andi.
“Kamu pergi ke restoran malam begini?”
“Benar. Adikku memakan semua dagingnya sebelum makan malam.”
“Kamu dan Ira harus hidup mandiri, ya?”
“Sebenarnya tidak masalah, hanya saja sikapnya itu kurang baik.”
Andi menjawabnya sambil menatap bulan yang ada di langit.
Ridwan memikirkan kehidupan Andi yang di landa namanya bisa di bilang dilemma hati itu, dia mengajukan pertanyaan lagi karena ingin tau.
“Apa ayah dan ibumu belum pulang Andi?”
“Orang tuaku pergi ke luar negeri, karena ada urusan pekerjaan.”
“Wah pasti berat dong, Andi.”
Sesampai di depan restoran Andi pun tidak sengaja keceplosan.
“Terkadang, aku berharap ingin punya pacar. Bercanda hehehe…”
Ridwan berpura-pura tidak mendengarkan perkataan Andi yang ingin punya pacar. Dia memegang gagang pintu restoran sambil tersenyum kecil.
Setelah membuka pintu restoran, Andi dan Ridwan langsung masuk. Mereka mencari tempat duduk yang kosong, tempat duduk berada di tengah samping jendela, lalu Ridwan bergegas memanggil pelayan yang ada di sini.
__ADS_1
“Permisiiii…!”