
“Apa maksudnya itu, kakak? Ini memang tidak mungkin, kan kakak? Tapi, apa kalian sudah berpacaran?”
“Gawattt…! Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.”
Andi berwajah terkejut, akan kawatir saat Adinda mengetahui bahwa Andi yang hampir saja menyatakan perasaan cintanya di tempat stasiun bus.
Adinda yang mengetahui perasaannya Andi yang sudah terpojok. Dia membuat sebuah alasan kecil ke adiknya, supaya lebih seru kedepannya.
“Tidak, kami cuman teman kok.”
“… Huh!”
Andi mengeluh nafas pendek, sepertinya Adinda tidak mendengarkan bahwa Andi telah menyatakan cintanya di stasiun bus, tapi kenyataannya.
“Begitu, ya. Sudah aku duga…”
“Untuk saat ini.”
Adinda langsung memotong pembicaraan Ira dengan memberikan senyuman ke Andi. Sedangkan Ira memeluk kakaknya dengan sangat erat.
“Ira, sakit!”
Adinda ingin memanasi mereka berdua, sepertinya dia sudah tertarik.
“Dia pernah menembakku, sih. Kalau tidak salah di tempat halte bus, kali ya? Tapi, aku belum memberikan jawabanya dengan jelas dan pasti. Jadi, untuk sekarang, kami masih berteman dulu aja, deh.”
Wajah Andi seketika kaget sambil berlumuran penuh keringat di wajahnya. Sedangkan adiknya yang mendengarkan hal itu, dia malah bingung.
__ADS_1
“Kakak! Kakak! Dia telah mempermainkan aku. Apa benar yang dikatakan oleh dirinya itu, kakak?”
Ira berbicara manja, dia sambil berpura-pura menangis di hadapan kakaknya. Supaya kakaknya menaruh simpati kepada Ira. Tidak lama kemudian, Andi memberikan jawabannya itu secara langsung dan penuh malu.
“Yah, se-sebenarnya…”
“Andi, cepat katakan yang sebenarnya ke adikmu.”
Wajah Adinda yang berpura-pura serius kepada Andi. Tanpa berpikir panjang, Andi pun gugup dan sempat kebingungan ingin berkata apa.
“Se-sebenarnya. A-aku…”
“Ayo, ayo kakak! Cepat katakan yang sebenarnya! Kakak!”
Ira memberikan semangat kepada kakaknya. sepertinya Ira sedang berpikir hal itu hanya rekayasa yang dibuat oleh Adinda saja. Oh ya, kali ini Ira sudah melepaskan pelukannya ke Andi kakaknya dan tidak menangis loh.
“Bukan berarti kalau kamu membenciku, kan.”
“Kakak memang bodoh.”
Tiba-tiba dan tanpa disadari oleh Andi, Ira kembali memeluk kakaknya, di karenakan Andi masih malu untuk memberikan jawabannya itu.
“Kenapa kakak tidak sadar, kalau aku mencemaskanmu? jika...”
“Hehhhh…? Kok, situasinya jadi berbeda.”
Andi berwajah kaget, tiba-tiba adiknya mengganti topik pembicaraan. Awalnya malu-malu, sekarang jadi bingung dengan tingkah laku adiknya itu.
__ADS_1
“Kakak! Aku belum selesai ngomong… Jika, kakak berpacaran dengan seseorang gadis lain, kamu akan terluka, kak.”
“Ira... Maaf. Aku tidak berpikir untuk berpacaran dengannya, kok.”
Andi mengelus kepalanya Ira, dia yang dipeluk dalam tangisannya itu.
“Hmmm…? Jadi, aku hanya salah dengar kali ya.”
“Yesss… rencanaku berhasil.”
Seketika itu, Ira mulai merasa bergembira, setelah rencananya untuk menggagalkan ungkapan perasaan Andi kepada Adinda telah berhasil. Namun, di sisi lain Adinda mulai sedikit berkecil hati, lalu Andi berbicara ke Adinda.
“Oh ya Adinda… Aku mau tanya sesuatu kepadamu?”
“Tanya apa, Andi?”
“Kemarin, pada saat kita di halte bus. Kamu berbicara tentang misi?”
Suasana pun menjadi tenang, bercampur dengan penasarannya yang sedikit curiganya Andi kepada Adinda. Dia yang tersenyum sambil memikirkan.
“Misi…?”
“Iya. Saat kamu masuk bus, kamu mengatakan sebuah misi, jadi…?”
“Oh… Misiku yaitu ingin melindungi seseorang. Itu saja kok.”
“Seseorang...? Siapa yang kamu maksutkan itu?”
__ADS_1
“Aku harus melindungi senyuman orang itu, jadi orang itu adalah…”
Terdengarlah suara bel yang begitu merbu, suara itu telah menyelah pembicaraan Adinda kepada Andi. Setelah beberapa detik kemudian, Adinda pergi menjauh meninggalkan mereka berdua dan Andi pun mulai berkecil hati.