Event Horizon

Event Horizon
Gawat terlalu dekat


__ADS_3

Hari yang indah untuk masuk sekolah, cuaca cerah tidak ada awan hitam, hanya ada warna biru sambil di hiasi awan putih. Udara yang segar meniup dedaunan yang gugur dari pohon menuju ke tanah.


Surabaya, 3 Juli 2018, 12:05…


“Nginggg…! Nginggg…!”


Suara menggema keras dari kotak hitam yang berada di atas papan tulis. Atmosfir di sekitar kelas, tiba-tiba menjadi hening dan sunyi seketika. Meraka serentak melihat ke arah kotak hitam yang ada di atas papan tulis itu.


Sebuah pesan dari ketua OSIS yang sedang mengumumkan sesuatu di ruang OnAir untuk semua murid kelas di seluruh sekolah.


“… Bagi semua yang ingin mendirikan klub sekolah, di harapkan perwakilan dari anggota klubnya untuk menghadap ketua OSIS di ruang OSIS. Demikian pesan dari ketua OSIS dan terima kasih...”


Kotak hitam itu mengulangi suaranya sekali lagi dengan kerasnya.


“… Sekali lagi, perwakilan dari anggota klub, di mohon untuk ke ruang OSIS segera dan saya ucapkan terima kasih.”


Tidak lama kemudian, Ridwan berdiri dari bangkunya, sambil dia melewati sisi lain dari meja Andi, dia menuju keluar ruang kelasnya dengan awal langkah biasa dan santai, tapi arah matanya serius menghadap ke depan.


Andi yang penasaran dengannya itu, dia dengan lemas lesunya menengok kearah Ridwan dan menyapanya. Emilia yang berada di sampingnya Andi, dia hanya diam saja sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.


“Hey Ridwan, kamu mau kemana?”


Langkahnya berhenti, tepat di pintu kelas yang berada di belakang, lalu dia menengok ke Andi dengan cara kerennya, dan mengucapkan kata.


“Aku mau keluar! Ada urusan bentar.”


“Hmmmm…?”


Andi penasaran tentang tingkah lakunya Ridwan pada hari ini. Ridwan tiba-tiba keluar dari kelas, setelah mendengar pengumuman dari ketua OSIS.


Hampir semua murid, yang ada di dalam kelas sudah ada yang keluar. Tapi, Andi dan Emilia masih di kelas, lalu tidak lama kemudian, perasaan di antara mereka menjadi diam dan muncullah sedikit kicauan burung.


“Ayo ke kantin!”


“Ayo ke perpustakaan!”


“Aku udah lapar nih, katanya di kantin sekolah jual kbab turki loh.”


“Ah masa…?”


“Iya, rasanya enak dan harganya cuma Rp 10.000.”


“Ya udah, ayo kita kesana…!”


“Lah tidak pergi ke perpustakaan…?”

__ADS_1


Andi mendengarkan percakapan teman sekelasnya. Dia masih duduk di bangkunya sambil memainkan sebuah pensilnya dan terlihat akrap sama jendela. Sedangkan di sisi lain, Emilia hanya bisa melirik saja ke arah Andi.


“Hufffff…?”


Andi mengeluh nafasnya pendek, dia sambil memegang dadanya.


“A-aku harus tenang.”


Tidak lama kemudian, Andi menerima pesan singkat dari adiknya, dia sempat terkejut sambil meloncat di bangkunya, lalu melihat isi pesan itu.


“Kakak, apa klub sekolah kakak sudah jadi?”


“Masih belum.”


Andi membalas pesanya dengan senyuman. Emilia menengok ke arah Andi, dia melihat Andi yang sedang tersenyum di depan layar handphonenya.


Emilia mulai curiga, mengira Andi sedang menerima pesan dari pacarnya. Tiba-tiba, Emilia menghampiri Andi secara diam-diam, dan mengagetkannya dari samping, memasang kuda-kuda yang siap menerjang.


“Hayo! Andi lagi ngapain? Senyum-senyum sendiri.”


“Oh, tidak apa-apa kok, pesan dari adikku.”


Emilia yang ingin melihat isi pesan, yang berada di handphone Andi, dia sambil mendekatkan wajahnya secara perlahan-lahan ke arah Andi.


“Iniii…!”


“Hmmmm…? Kirain apa?”


“Kamu kira apa?”


Emilia jadi merasa lega, tenyata Andi tidak menerima pesan dari pacarnya. Tapi wajahnya, terlalu dekat dengan Andi sampai membuat jantung Andi berdetak kencangnya. Dagdigdug-Dagdigdug… Gitu deh bunyinya.


“Terlalu dekattt…!”


Tatapan arah mata mereka yang sinis dari sisi lain, melihat Emilia yang dekat dengan Andi. Teman sekelasnya pada gosip mengerumpi jadi satu.


“Seperti dia sudah saling kenal!”


“Mungkin mereka sudah pacaran dan sedikit ada kecemburu gitu.”


“Dia kan, temannya Andi sejak kecil.”


Wajah Andi jadi menegang, ketika dia mendengarkan sesuatu.


“Astagaaa…!”

__ADS_1


Perasaan Andi spontan jadi terkejut dan sedikit ada malu, setelah dia mendengarkan bahwa teman sekelasnya menggosipkan mereka berdua yang saling berdekatan, dia pun langsung refleks mengatakan dengan tersendatnya.


“E-emilia, t-tak usah di pikirkan! I-ini hanya pesan dari adekku, l-lebih baik kita segera ke ruang k-klub sejarah!”


Secara tidak langsung, Emilia juga mengingat tentang kejadian tadi pagi, dia menjauh dari wajah Andi sambil menghempaskan rambutnya.


“Oh ya, sampai lupa. Tadi pagi salah satu anggota OSIS mengatakan, bahwa kita harus ke ruang klub sejarah, kalau kita selesai pelajaran, kan?”


“Hufff… Akhirnya jantungku kembali normal. Tenang! Tenang!”


Tiga puluh detik bukan enam puluh detik kemudian, akhirnya wajah Emilia perlahan-lahan menjauh dari Andi. Andi mengeluh nafas dalam-dalam, sambil memegang dadanya, dia merasakan detak jantungnya yang sudah kembali normal, sedia kala lagi. Jedagjedug-jedagjedug… gitu deh bunyinya.


“Yups. Kata anggota OSIS …Hmmm? Siapa ya namanya aku lupa?...”


Andi berpikir sambil menggaruk-garuk sedikit sisi kepalanya.


“… Pokoknya dia mengatakan kita harus ke ruang klub sejarah! Kalau tidak salah di lantai tiga ujung lorong bangunan ini deh.”


“Benar juga sampai lupa, yuk ke sana!”


Emilia yang pura-pura tidak tau apa-apa, dia hanya tersenyum sambil merencanakan sesuatu kepada Andi. Dia yang sudah merencanakan sesuatu, dengan anggunnya, dia memegang tangan Andi dengan ke dua tangannya lalu menariknya secara manja, agar Andi cepat berdiri dari tempat duduknya.


“Apa Ridwan sudah dapat ruangan untuk klub kita ya?”


“Aku tidak tau.”


Dengan nada cueknya, dia tetap menarik Andi dari tempat duduknya.


“Ayo kita kesana! Mumpung ini jam istirahat.”


“Tapi Emilia, Ridwannya lagi keluar tuh.”


Andi yang masih berada di tempat duduknya, dia sambil memikirkan Ridwan. Emilia yang berusaha menarik tangan Andi, dengan kesalnya sambil memasang wajah yang sangat seram dan akan marah kepada Andi.


“Andiii…! Tidak apa-apa, nanti dia menyusul.”


“S-serammm…!”


Tidak lama, wajah Emilia berubah lagi dengan cara tersenyum manis.


“Ya udah, ayo.”


Andi yang takut dengan wajahnya Emilia. Sambil di tarik tangannya oleh Emilia, dia hanya bisa menurut lalu berdiri dari tempat duduknya.


“Dewa perkencanan kayaknya sedang berpihak kepadaku kali ini.”

__ADS_1


__ADS_2