Event Horizon

Event Horizon
Kedatangan murid baru


__ADS_3

“Baguslah, selamat pagi semuanya.”


Setelah membuat sambutan yang biasanya, bu Anna mengeluarkan buku kehadiran siswa. Dan secara tiba-tiba dia berhenti tepat di sebuah meja yang kebetulan kosong di depannya, sambil dia melihat ada sebuah tulisan.


“Aaa… Benar juga. Ada sesuatu yang harus saya bilang kepada kalian semua. Heiii… Yang terutama kamu yang di situ, duduk ke tempat mu!”


Dengan jeda pendek sambil bersuara keras, dia mensurvei kelas yang berisik itu dengan matanya yang nampaknya menunjuk pada sesuatu.


“Ok. Kelas ini, akan memiliki murid pindahan.”


Setelah sebuah jeda yang pendek, bu Anna mengatakan dengan santainya. Dan secepatnya, kelas terisi dengan sebuah kata.


“OOOOOOHHHHH…!”


Yang bergema merdu. Yah, itu memang bisa dimengerti sih untuk suasananya ini yang akan datang seseorang murid baru.


Lagi pula pembicaraan tentang murid pindahan itu adalah salah satu peristiwa terbesar di sekolah, lagian pula ini adalah tahun ajaran baru.


“… Nmmmmm?”


Andi memiringkan kepalanya, sambil dia memikirkan bagaimana mungkin ada murid pindahan baru di kelas ini. Dalam tambahan kursi, total teman sekelas seharusnya tidak kurang dari kelas yang lainnya.


“Ok, silahkan masuk!”


Deretan-deretan pemikiran Andi, terpotong oleh suara lembut bu Anna yang sambil melihat pintu di depannya.

__ADS_1


Pelan-pelan pintunya terbuka lebar dan murid pindahan itu masuk ke dalam kelas dengan awal langkah kaki yang anggun. Secepatnya, kelas itu terjatuh ke dalam kesunyian yang sempurna.


Munculnya seorang gadis muda. Meskipun ini adalah hari yang panas, dia masih mengenakan sebuah jaket seragam dan rok panjang sampai lutut. Seperti sebuah bayangan, deskripsi itu sangat sesuai. Rambut hitam pekat dan rambut panjang lurus tanpa di kuncrit, itu adalah pandangan yang serasi.


“Sekarang, silahkan perkenalkan dirimu kepada semuanya.”


Andi yang mengetahui murid baru itu, dia mengeluarkan banyak keringat disekujur tubuhnya. Sambil memalingkan wajahnya, seakan dia tidak tau apa-apa dan berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi…


Di bawah dorongan bu Anna, gadis itu menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang lemah gemulai. Dia mengambil kapur tulis dengan tangannya. Dan di papan tulis, tertulis nama Adinda Fradella dengan lihainya menulis dan disertai gerakan yang anggun dari tangannya.


“Nama saya adalah Adinda Fradella.”


Kemudian, menggunakan volume yang besar. Gadis itu Adinda melanjutkan ucapannya dengan melihat ke arah Andi sambil tersenyum.


“Saya, kenalannya Andi Reynand.”


“HHHHHHEEEEEEEE…!”


Yang bergema lagi. Yah, itu memang bisa dimengerti sih.


“Ehhh… Cukup… Bagus! Cukup meriah!”


Itu tadi cukup perkenalannya dengan dampaknya demikian besar ya.


“Baiklah, Adinda. Maukah kamu duduk di tempat kursi yang sepi di sebelah sana? Tapi, apa kamu gak apa-apa duduk di…”

__ADS_1


“Tapi sebelum itu, saya punya permintaan.”


“Hmmm…? Apa itu?”


Adinda mengangkat tangannya dan membuat sesuatu permintaan.


“Di karenakan saya adalah murid pindahan baru, saya masih belum terbiasa dengan sekolah ini. Tidak apa-apakan, meski jika ini sesudah sekolah, tapi saya berharap seseorang bisa menemani saya berkeliling sekolah ini.”


“Aa, benar. Itu benar… Lalu adakah di kelas ini yang bisa membantu.”


Adinda tiba-tiba melangkah kearah Andi. Dan berhenti tepat di meja Andi, sambil dia membisikkan sesuatu yang menggoda di telinganya Andi.


“Haiii… Bisakah kamu menolong saya? Andi.”


“Ehhh…”


Andi berhadapan dengan giliran acara yang tidak terduga ini, dengan kebingungan, dia hanya bisa mengecek permintaannya dengan matanya yang menjadi titik-titik. Ridwan yang duduk di depannya Andi merasa iri dengannya, sedangkan Emilia sepertinya ada kecemburuan yang meluap kepada gadis itu.


“A-akuuu…?”


“Kamu tidak bisa, Andiii…?”


Adinda nampaknya sangat tersakiti, menunjukkan sebuah ekspresi seolah-olah mungkin dia akan menangis jika dia selalu ditolak.


“T-tidak, sesuatu semacam itu…?”

__ADS_1


“Ini adalah janji. Kamu sudah mengatakan sesuatu pada saat di halte bus hari yang lalu loh, Andi?”


Andi spontan kaget sambil mengingat kejadian di halte bus kemarin.


__ADS_2