Event Horizon

Event Horizon
Semoga kita bertemu lagi


__ADS_3

Tiba-tiba Andi langsung terpana oleh dirinya. Cantiknya dan indah, Adinda adalah seorang gadis muda yang sepertinya mudah untuk tertipu.


Bagaimanapun perasaan Andi kalau melihat dirinya, saat ini Adinda sangat cocok dengan nuasa malam mencengkam yang berhawa dingin ini.


“Ngomong-ngomong, apakah kamu mempunyai teman?”


Adinda tiba-tiba berhenti di tengah jembatan gantung penyebrangan, setelah Andi menanyakan soal hal itu, entah kenapa dia merasa sedikit malu.


“Teman…? Aku punya tanggung jawab sebagai pelindung keluargaku. Jadi aku tidak perlu santai-santai lagi, apa lagi mencari seorang teman.”


Andi juga berhenti, dia melihat ke arah wajahnya Adinda yang serius.


“Jangan serius begitu, dong!”


“Mencari teman, kah?”


Memikirkan sambil menatap sekumpulan bintang yang ada di langit.


“Iya aku punya teman yang sangat baik kepadaku, mereka itu Ridwan dan Emilia. Ridwan itu itu sedikit sulit ya diajak bicara, namun dia itu baik hati. Sedangkan Emilia itu orangnya baik hati dan ya sedikit pengertian sih. Tapi dia orangnya jujur di hati kok. Dan adikku Ira, dia itu…”


Adinda sedikit kagum dengan apa yang di ceritakan oleh Andi tentang temannya itu, sambil menatap wajah Andi, dia pun tersenyum manis.


“Aku sedikit berbeda denganmu, Andi.”


Setelah Adinda mengucapkan sedikit perbedaan antara dia dan Andi. Seketika itu Andi terkejut dan merasa sedikit marah terhadap Adinda, tentang teman. Tapi, marahnya Andi bukan marah betulan, malahan marahnya itu dengan cara ada rasa peduli, namun sedikit ada rasa jahil apa-apaan gitu.


Andi hanya bisa menganggukkan kepalanya seakan-akan sudah mengerti, sambil sedikit melirik ke Adinda, dia mengeluarkan suara cueknya.


“Sepertinya, si sok cantik ini dan sedikit jenius mulai sombong ya!”


Dan pada akhirnya Adinda mulai ikut-ikutan terkejut juga, setelah Andi mengeluarkan sedikit kata-kata penghinaan kepada Adinda.


“Apaaa…? Sok cantik kamu bilang!”


“Iya, memangnya kenapa?”


Adinda mejatuhkan tasnya dan sekarang pose Adinda berubah, meletakkan tangannya di samping dadanya, ya paling tepat di atas pinggulnya sih, dia menatap langsung wajahnya ke arah Andi. Dengan membungkukkan badannya sedikit, dia pun mengeluarkan suara dengan nada cueknya juga.


“Mau yang bilang orang cantik atau apalah itu, yang namanya fakta itu tidak akan pernah berubah!”


“Apa kamu bilang?”

__ADS_1


Mereka berdua saling menatap muka sambil wajah saling berdekatan.


“…Hmmmmm…”


“…Hmmmmm… Kenapa menatapku begitu?”


Dan beberapa detik kemudian, Andi tidak kuat dan mulai berbicara.


“Enggak imut ah.”


Andi langsung memalingkan wajahnya dari Adinda, sambil memasang wajah malu-malu. Oh ya mukanya Andi perlahan-lahan mulai memerah loh.


“Apa kamu bilanggg…?”


“Enggak imut.”


Andi mengulangi perkataannya itu dengan cara sedikit di eja.


 “Aaa…aaa…apaa…?”


Suara pun menggema merdu dari mulut Adinda, dia juga langsung terkejut dan sedikit imut juga, wajahnya mulai memerah seperti buah tomat. Setelah mendengarkan perkataan kalau dia itu tidak imut. padahal Andi melihat wajahnya Adinda itu imut dan cantik, nah tapi dia tidak jujur dengan apa yang ada di hatinya, atau mungkin ada rasa suka tak terucapkan kali ya.


Kata yang keluar dari mulut Adinda yang tidak jelas dan ngelantur itu, membuat Andi jadi bingung dan tidak mengerti apa yang dia ucapkannya itu.


“Keluarga kita?”


“Selamat tinggal.”


Adinda langsung pergi meninggalkan Andi dengan wajahnya yang sedikit kesal dan malu-malu, tenang ya dia itu hatinya baik kok. Pada saat hampir sampai di tangga untuk turun dari jembatan. Adinda melupakan tasnya dan membalikan badannya untuk mengambail tas yang sudah dijatuhkan itu.


“Selamat tinggal.”


Kali ini, Adinda benar-benar pergi sambil memberi salam perpisahan ke Andi dengan suara cuek. Andi melihat dia sampai selesai turun dari tangga.


“… Huh?”


Mengeluh nafas dalam-dalam, lalu Andi melihat bintang di langit.


Hari ini Andi menerima sedikit kesialan, tadi malam makanannya yang ada di kulkas sudah habis di makan oleh adiknya, pada jam ini Andi di tinggal dan di cuekin pergi oleh si Adinda itu. Semoga Andi di hari berikutnya, dia tidak mendapatkan sebuah kesialan lagi, Aminnn…


Setelah Andi selesai melihat indahnya kota di malam hari, dia pun melupakan sesuatu yang namanya pudding dan lolipop yang sudah dipesan oleh adiknya. Sepertinya, adiknya sudah menunggu lama di rumah.

__ADS_1


“Gawat pudding dan lolipopnya Adikku. Sialll…!”


Andi bergegas lari dengan kecepatan penuh seperti lomba lari.


Adinda berhenti lalu melihat ke belakangnya, dia melihat kearah Andi berlari melawan arah, dia tersenyum manis dan kali ini sambil mengucapkan.


“Semoga, kita bertemu lagi…”


Andi berlari menuju ke arah rumahnya dengan kencang dan nafasnya tergesah-gesah. Setelah dia sampai di depan rumah, dia langsung mengambil nafas dalam-dalam. Lalu membuka pintu dan perlahan masuk ke rumahnya.


“Permisi! Aman-aman! Hehehe…”


Andi mengeluh nafas pendek sambil mengelus dadanya, dia merasa sedikit tenang, karena dia masih belum melihat adik perempuannya muncul.


“… Huh! Sepertinya Ira sudah tidur.”


“Yang bilang aku sudah tidur itu siapa?”


“Gawattt…! Dia sudah muncul.”


Andi pun kaget, terlihat sesosok wanita yang lagi cemberut. berdiri di samping pintu masuk ruang keluarga. Dia langsung mengucapkan di dalam hatinya sambil menutup mukanya, di karenakan dia mengira adiknya seakan-akan mau marah, sambil memukul kakaknya yang baru pulang kemalaman.


Andi melihat adiknya yang sudah menunggu lama, Ira yang sudah memasang wajah kesal sambil mengucapkan dengan nada marahnya.


“Lamaaa… Sudah jam berapa ini?”


“Maaf! Ini lollipop dan pudding pesananmu.”


“Ya sudah sini!”


Ira mengambil pemberian dari kakaknya dengan bentuk wajah yang cemberut masam, lalu dia kembali lagi menonton TV yang ada di ruang tamu.


“Jangan menonton TV terlalu lama. Cepat tidur, besok sekolah.”


Saat Andi mengatakan kata merah sambil berwajah cemas. Tapi, Ira hanya menghiraukan saja, dan kembali lagi ke habitatnya, yaitu nonton TV.


Andi mendengar suara keram di salah satu sendi tulang bahunya.


Andi yang sudah capek, dengan wajah yang lemas lesu, dia berjalan ke kamarnya lalu meletakkan seluruh badannya ke atas tempat tidurnya. Tidur panjang Andi yang selama sembilan jam pun dimulai dari sekarang.


“Tidur, besok sekolah.”

__ADS_1


__ADS_2