
“Bagaimana kalau Adinda menyukai orang lain? Dia mulai kesal saat membicarakan tadi? Ini sungguh gawat? Maafkan aku Adinda?”
Apa gunanya aku berpikir seperti itu? Aku membuang pikiran itu! Mencampakkan pikiran mengasihani dirinya sendiri, dan saat bertemu belokan pertigaan menuju ke makam. Andi membelokkan langkah terakhirnya…
Jauh mata memandang, Andi sudah di tunggu oleh seorang gadis kecil berparas manis, berpakaian yang masih memakai seragam SMP, adiknya Andi, Ira yang sudah menunggu di depan pintu masuk makam, dengan keadaan yang sedikit sedih sambil membawakan serangkaian bunga warna putih yang indah.
“Maaf! Kamu sudah menunggu lama ya?”
“Tidak, kakak.”
“Ya sudah kalau begitu, ayo masuk!”
Sesudah sampai di makam kakeknya, mereka langsung memanjatkan do’a untuk kakeknya supaya amal dan perbuatan yang selama dia hidup di dunia ini agar bisa diterima di sisi-NYA. Selesai berdo’a, mereka langsung menaburkan bunga dan meletakkan setangkai bunga di dekat batu nisan kakeknya dengan perasaan mereka yang sangat sunyi dan penuh kesedihan.
Andi melihat ke atas, dia melihat langit yang sudah mulai gelap. Dia menegur adiknya yang masih duduk di samping batu nisan kakeknya.
“Ira, apa sudah selesai? Ayo kita pulang dan makan malam!”
__ADS_1
Ira berdiri lalu memegang tangan kakaknya, dengan perasaan yang senang bercampur sedih, dia melihat ke wajah kakaknya sambil tersenyum.
“Ayo, kakak!”
Andi juga ikut tersenyum sambil mengelus pelan-pelan kepalanya Ira, mereka langsung memutuskan untuk pergi meninggalkan makam kakeknya.
Mereka adalah sepasang adik dan kakak, berjalan dengan santainya sambil berpegangan tangan. Mereka yang sudah sampai di depan rumahnya dan bergegas masuk untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Andi membuka kulkas lalu mengeluarkan beberapa bahan, seperti ikan dan memotong beberapa sayuran. Dan di saat yang tepat adiknya, Ira menanyakan lagi ke kakaknya dengan nada lucunya. Walaupun, dia sudah melihat kakaknya yang sudah ada di dapur dan memotong beberapa sayuran.
“Iya ini kakak siapkan, mau menu apa?”
“Terserah kakak aja. Yang penting kakak senang.”
Dengan jeda yang pendek, Andi memiringkan kepalanya, karena dia mendengarkan perkataaan adiknya yang sebegitu tidak jelas diucapkannya. Dia menghiraukan perkataan tadi dan langsung kembali memasak.
Suasana hati Ira sudah berayun ke rasa senang, sambil dia menunggu kakaknya untuk selesai membuat makan malam. Dia yang duduk di sofa sambil memonton TV dan memakan permen lollipop kesukaannya dengan santai.
__ADS_1
“Yos, sepertinyanya menu kali ini akan special, hehehe...”
Andi berbicara sendiri, sambil menata makanan sedikit demi sedikit.
Setelah selesai memasak dan banyak makanan yang berjajar rapi di meja makan. Ira yang mengetahui dari baunya, lalu melihat ke arah belakang. Dia langsung berdiri, memutari sisi meja lain dan duduk di meja makan.
“Ira, jangan lupa cuci tangan dulu sebelum makan!”
Ira menuruti perkataan dari kakaknya dan bergegas mencuci tangan, setelah selesai dia kembali duduk. Mereka berdua yang sedang duduk saling beradapan. Makan dengan tenang dan selalu membaca doa sebelum makan, lalu mereka langsung menyantap makanan yang sudah ada di depannya.
“Hah… Kenyang dan sangat enak.”
“Terima kasih.”
Setelah selesai makan, Ira tiba-tiba teringan sesuatu sesuatu yang belum disampaikan oleh kakaknya, dia mulai merasa takut dengan hal itu.
“Ka-kakak! Ada yang perlu saya sampaikan kepada kakak?”
__ADS_1