
Langit biru yang cerah dan di hiasi oleh bentuk awan yang cantik dan bergelombang. Angin yang spoi-spoi masuk dari jendela kelas, semua tirai jendela pun ikut terhanyut oleh hembusan angin siang. Suara burung yang merdu, ya suasana paling sempurna bagi Andi yang ada di dalam kelasnya itu.
Surabaya, 4 Juli 2018, 11:12…
Andi yang begitu lesu, sambil menyandarkan kepalanya di tangannya sambil memikirkan, bagaimana caranya memecahkan kodenya itu. Pada saat pelajaran ke dua selesai, Andi bergegas menuju klubnya, tapi Ridwan ingin menyebarkan sebuah gosip kepada Emilia, tentang kejadian kemarin, ya pada saat Ridwan dan Andi, bagaimana caranya untuk mendapatkan seorang pacar.
“He Andi! Aku akan berbicara kepada Emilia dulu ya.”
“Berbicara tentang apa Ridwan? Oeee…!”
Ridwan menghiraukan pertanyaan Andi. Secepat kilat, dia langsung menuju ke bangkunya Emilia yang berada tepat di samping bangkunya Andi.
“Hai Emilia! Emilia! Emilia! Kamu tau sesuatu kan?”
Ridwan membisikkan dengan penuh godaan ke telinganya Emilia, sambil menaruh senyuman. Emilia yang awalnya akan memasukkan bukunya kedalam tas, dia pun jadi penasaran tentang apa yang dikatakan oleh Ridwan.
“Tau tentang apa Ridwan?”
“Kamu tau kan? Kamu tau kan? Bahwa Andi ingin punya…”
Andi berdiri dari tempat duduk, menuju ke Ridwan dengan cepatnya.
“Haaaaa... Tunggu Ridwannnn...! Stttttt…!”
Andi langsung membungkam mulut Ridwan dengan kedua tangannya. Makanya, Andi tidak mau si Emilia tahu, bahwa dia ingin memiliki pacar, dan lebih baik mulutnya Ridwan di bungkam saja oleh Andi, agar tidak jadi heboh kedepannya. Emilia memiringkan kepalanya sambil berwajah penasaran.
“Andi ingin punya apa Ridwan?”
Emilia yang masih penasaran, dia sambil melihat mereka yang tiba-tiba bertingkah aneh di depannya, dia mengeluarkan suara lantangnya.
“Ridwannn…!”
“Iya!”
__ADS_1
Entah kenapa, malah Andi jadi terkejut dan spontan menjawabnya.
Andi masih membungkan mulut dan mengunci tubuh Ridwan dengan eratnya. Agar suasan tidak rincuh, dia membuat topik baru yang berbeda.
“Dari pada itu, lebih baik kita langsung ke ruang klub saja, untuk memecahkan ini kode! Lebih cepat lebih baik, kan?”
Emilia yang masih berwajah penasaran, dan tidak lama kemudian dia pun pasrah melupakan, mengeluh nafas sebentar lalu dengan nada malasnya.
“Ada apa sih dengan kalian berdua? Aneh. Ya udah, ayo kita langsung ke sana! Mumpung ini jam istirahat. Siapa tau dapat sebuah petunjuk.”
“Huffff...! Akhirnya. Hampir aja.”
Andi pun merasa lega, sambil mengeluh nafas. Akhirnya Emilia tidak meneruskan perbincangan, tentang gosip di mana Andi ingin memiliki seorang pacar. Kalau Emilia tahu, nanti dia merasa sedih kalau selama ini, dia itu dianggap Andi sebagi saudaranya sendiri dan tidak lebih. Maka dari itu, Andi tetap merahasiakan apa isi hatinya terhadap Emilia teman semasa kecilnya itu.
Selesai sampai di ruangan klubnya dan Emilia membuka pintu kayu dengan pelan, dan tiba-tiba suara keras kaget terdengar sangat merdunya.
“Eh busettt…”
Andi pun langsung menegur Emilia sambil menepuk bahunya.
“Tidak ada apa. Hanya reflek kaget saja. Ada seorang yang lagi tidur.”
“Oh kirain ada apa.”
Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan, mereka melihat ada seseorang wanita yang lagi tidur, orang itu tidur dengan wajah yang lucu.
Dia adalah seorang guru yang tidak asing bagi mereka. Dia itu yang selalu merasa bosan, kalau selesai dengan kegiatannya, lalu dia ingin rileks sebentar, dengan cara pergi ke ruangan yang angat sepi dan tenang.
Agar tidak ketahuan oleh guru yang ain, dia langsung pergi ke ruangan klub sejarah yang sudah dibuat oleh Ridwan, ntuk tidur sebentar pada saat selesai jam pelajarannya, ya di bilang pada saat am istirahat saja.
Ridwan berpikir sambil melihat bu nna yang tidur di meja klubnya.
“Tapi anehnya di sini, pada saat milia bersuara keras tadi. Sampai merdunya itu, kok dia tidak bangun juga ya. mmm…? Apa dia itu…”
__ADS_1
Andi masuk dan menghiraukan Ridwan ang berbicara sendiri.
“Loh, ada bu Anna lagi tidur.”
“Coba saya bangunin.”
“Tolong ya, Emilia!”
Emilia melangkah maju dengan nggunnya, dia memutari sisi meja lain, lalu berhenti tepat di belakang Bu Anna ang lagi tidur dengan tenang.
“Bu Anna! Bu Anna! Bangun! Bangun! B”
Emilia berusaha membangunkan bu Anna engan cara memanggilnya secara pelan dan sedikit tergesah, supaya lebih cepat membangunkannya, ia membangunkan sambil menggoyangkan perlahan-lahan pundaknya bu Anna.
“Hmmmnyanyanya... Ada apa nyanyanay...?”
Akhirnya bu Anna bangun dari tidur, ia sambil menggosok matanya yang sedikit kabur. Dengan suara yang sedikit tidak jelas, seperti orang mabuk sih, ya maklum biasanya orang yang sudah bangun dari ecapekan, ya seperti gitu nada mengucapan kalimatnya, dia menguap panjang lalu erbicara.
“Maaf! Ibu lagi capek, dan ingin ari tempat untuk tidur sebentar.”
“Oh ya, tidak apa-apa bu Anna.”
“Ohhh…? Ada apa kok membangunkan, bu? Bisa saya bantu?”
Emilia memberi alasan yang tepat ambil melihat ke arah mereka.
“Tidak ada bu Anna. Saya embangunkan ibu, supaya ibu tidak terlanjur ketiduran sampai jam pelajaran selanjutnya.”
“Oh kirain ada apa, terima kasih atas erhatiannya.”
Bu Anna tersenyum manis ke arah ereka, menguap lagi, lalu setelah selesai dia kembali tidur lagi. Andi yang melihatnya, dia memasang wajah dengan perasaan yang heran sambil bersuara pelan arena hal itu aneh.
“Tidur lagi…?”
__ADS_1